Belas Kasihan, Bukan Kepahitan

Minggu, 11 September 2022

Baca: Efesus 4:25-32

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan . . . hendaklah dibuang dari antara kamu. —Efesus 4:31

Ketika gedung-gedung World Trade Center runtuh pada tanggal 11 September 2001, Greg Rodriguez adalah salah seorang korban yang tewas. Dalam dukanya, orangtua Greg memikirkan sungguh-sungguh tanggapan mereka terhadap serangan mengerikan itu. Pada tahun 2002, Phyllis , ibunda Greg, bertemu dengan Aicha el-Wafe, ibu dari salah seorang pelaku yang dituduh membantu para teroris. Phyllis berkata, “Aku menghampirinya seraya membentangkan kedua tanganku. Kami berpelukan dan menangis. . . . Aicha dan saya langsung merasa dekat. . . . kami sama-sama menderita karena kedua putra kami.”

Phyllis bertemu Aicha di tengah kedukaan dan kepedihan yang sama. Ia percaya bahwa meskipun ia pantas marah atas kematian putranya, hal itu takkan dapat menyembuhkan penderitaannya. Saat mendengar kisah keluarga Aicha, Phyllis berbelas kasihan, dan menahan dirinya untuk melihat mereka sebagai musuh. Ia mendambakan keadilan, tetapi percaya bahwa kita harus melepaskan keinginan balas dendam yang sering mencengkeram kita saat kita diperlakukan tidak baik.

Rasul Paulus juga memiliki keyakinan serupa, dan ia menasihati kita: “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan . . . hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Ef. 4:31). Saat kita membuang segala pengaruh yang merusak itu, Roh Allah akan memenuhi kita dengan sudut pandang baru. “Hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain,” kata Paulus (ay.32 bis). Kita dapat mengupayakan tegaknya kebenaran sambil menolak untuk membalas dendam. Semoga Roh Kudus menolong kita menunjukkan belas kasihan yang mengatasi kepahitan. —Winn Collier

WAWASAN
Dalam Efesus 4, Rasul Paulus menyerukan para pembacanya untuk membuang cara hidup yang berdosa, dan selalu “ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra” (ay.32). Mengapa? Karena Allah kita adalah “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Keluaran 34:6), dan kita harus menjadi seperti Dia. Raja Hizkia menegaskan kembali sifat-sifat Allah yang “pengasih dan penyayang” (2 Tawarikh 30:9), demikian pula Nabi Nehemia, Yoel, dan Yunus (Nehemia 9:17; Yoel 2:13; Yunus 4:2). Demikian juga pemazmur Daud menyatakan, “Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia” (Mazmur 86:15; lihat 103:8; 111:4; 145:8). Rasul Paulus mendesak kita untuk menjadi “penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita” (Efesus 5:1-2). Akan tetapi, kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan sendiri; kita membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita (Yohanes 14:26). —Alyson Kieda

Belas Kasihan, Bukan Kepahitan

Pernahkah kamu dicengkeram kepahitan, kegeraman, atau kemarahan? Bagaimana Allah dapat menolong kamu hidup dengan rasa belas kasihan dan menolak balas dendam?

Ya Allah, ada begitu banyak ketidakadilan dalam dunia ini. Berilah aku belas kasihan, dan jauhkanlah aku dari kepahitan.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 10-12; 2 Korintus 4

Bagikan Konten Ini
31 replies
  1. Wulan Simamora
    Wulan Simamora says:

    terkadang Tuhan, amarahku tidak bisa aku padamkan bahkan hingga hari ini. bapa aku memohon kepadamu. padamkanlah amarah yang ada padaku dan besarkanlah kadihmu dan tetaplah ada berasama sama dengan aku bapa. Ameen

  2. rico art
    rico art says:

    Bapa kami yang ada di sorga
    Dikuduskanlah namaMu
    Datanglah kerajaanMu
    Jadilah kehendakMu
    Di bumi seperti di sorga
    Berikanlah kami pada hari ini
    Makanan kami yang secukupnya
    Ampunilah kami akan kesalahan kami,
    Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
    Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan
    Tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat
    Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
    Sampai selama-lamanya.
    Amin

  3. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkan lah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang orang disekitarnya kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam TanganMu saja ya Tuhan, biarlah KehendakMu yang terjadi, terpujilah NamaMu kekal selamanya, amin

  4. Setiawati Herawati
    Setiawati Herawati says:

    amin ajar kami untk tetap bersykr kepdmu bpk dlm kadaan senang/ susah karna engkau lah ke kuatan dan sdran kami hnya menyerah kan hdpku kpdmu ya bpk haleluyah amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *