Tentang Minta Tolong dan Kesombongan

Oleh Astrid Winda Sondakh, Minahasa

“Kenapa harus merasa tidak enakan untuk minta tolong?”

Itu salah satu pertanyaan yang dilontarkan temanku saat kami sedang chat di WhatsApp. Dia heran dan menanyakan alasanku yang selalu tidak enakan dalam meminta bantuan. Aku berpikir bahwa ketika aku meminta tolong, aku dapat merepotkan orang lain. Karena itu, aku selalu berusaha kuat melakukannya seorang diri.

“Karena aku takut mengganggu kesibukan mereka,” kataku menjawab pertanyaan itu dengan sederhana.

“Tapi, apakah pernah terpikir olehmu, kalau terkadang orang-orang merasa senang untuk membantu?” 

Pertanyaan itu membuatku terdiam. Jujur, aku sama sekali tak pernah memikirkan tentang hal itu. Apa iya, ada orang yang senang untuk dimintai tolong? Bukannya akan merepotkan bagi orang tersebut jika membantu orang lain? Maksudku, bagaimana bisa seseorang merasa senang dan bersedia membantu orang lain, padahal pasti orang tersebut juga punya masalah dan kesibukannya sendiri.

“Terkadang rendah diri, minder, tidak mau minta tolong dan sebagainya juga termasuk sombong, lho.. Karena tanpa sadar kita hanya terus mengandalkan kekuatan kita sendiri. Padahal kita tahu bahwa kita butuh bantuan orang lain sebab kita tidak bisa melakukan semua hal sendirian,” temanku melanjutkan wejangannya. 

Di situ aku tersadar bahwa apa yang dikatakan temanku benar. Seringkali aku merasa bahwa tidak meminta bantuan  adalah hal baik karena aku tidak perlu menyusahkan orang lain. Tapi, di sisi lain, nyatanya aku seakan tidak menghargai keberadaan sesamaku. Padahal kita diciptakan Tuhan untuk saling membantu, seperti yang tertulis dalam Galatia 6:2,  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Bertolong-tolongan adalah sebuah kata kerja aktif yang tidak mungkin dilakukan oleh satu orang. Bertolong-tolongan berarti ada yang menolong, dan ada yang ditolong. 

Aku juga merenungkan perkataan temanku bahwa kita tidak harus membiarkan diri kita dikuasai dengan pikiran yang berlebihan (overthinking), karena itu bisa menghambat kita membangun relasi dengan orang sekitar. Lewat sikap kita yang menutup diri untuk minta tolong atau ditolong, secara tidak langsung kita telah menutup kemungkinan atau kesempatan untuk membangun relasi dengan orang-orang, termasuk juga dengan pertumbuhan rohani kita. 

Temanku membagikan hal ini karena dia juga pernah merasakan hal yang sama denganku, namun sekarang dia sudah bisa mengendalikan masalah tersebut, walaupun tidak dipungkiri bahwa hal itu membutuhkan proses.

Menurutnya, ketika kita mulai berani minta tolong, ketika kita mulai merendahkan hati, justru semakin banyak relasi yang bisa kita bangun. Dan malahan, kita bisa merasa lebih lega dari sebelumnya. Ya, kita bisa lega karena ketika kita memberanikan diri untuk minta tolong, kita juga bisa mendapatkan orang-orang yang akan mendukung kita dengan senang hati, dan lebih dari itu kita akan merasa bahwa kita tidak sendiri. 

Hal yang aku pelajari bahwa ketika kita merasa sendiri, sebenarnya kita tidak benar-benar sendiri. Ada orang-orang di luar sana yang Tuhan kirimkan untuk menemani dan menolong kita. Namun, karena kekerasan hati kita yang tidak mau untuk terbuka, kita jadi terus merasa sendirian, merasa buntu, bahkan mungkin sampai menyalahkan Tuhan. 

Aku belajar, bahwa sebenarnya hal yang perlu kita kendalikan di sini adalah sikap dan respon hati kita. Mengapa kita takut untuk terbuka? Mengapa kita takut minta tolong? Mengapa kita takut mengakui kelemahan kita? Mungkin jawabannya karena kita merasa takut untuk ditolak, dihakimi, terlihat lemah, dan sebagainya. Memang, pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita mulai terbuka, bisa saja kita mengalami penolakan atau hal semacamnya, namun hal itu bukanlah jadi penyebab untuk kita takut terbuka. Justru ketika kita berani membuka diri akan apa yang jadi kerentanan kita, kita bisa mendapat pelajaran, dan menerima kemurahan hati dari orang-orang yang tulus menolong  Seperti nasihat Paulus agar kita saling bertolong-tolongan, percayalah ketika kita meminta pertolongan pada Tuhan dan sesama, Tuhanlah yang akan menggerakkan hati orang-orang di sekitar kita untuk menolong kita.  Tugas kita bukanlah overthinking, tetapi memahami bahwa apa pun respon orang terhadap kita, kita pasti akan mendapat pelajaran dan pengalaman dari proses tolong-menolong

Saat itu juga, setelah bertukar pendapat dengannya, pola pikirku mulai berubah. Aku menyadari, ketika aku terus menutup diri untuk tidak minta tolong di saat membutuhkan pertolongan, berarti aku juga menutup diri dari hal-hal yang justru sebenarnya dapat membuatku berkembang, misalnya seperti pola pikir, keterampilan, dan lain sebagainya. 

Mengakui kelemahan kita dan menjadi rendah hati untuk terbuka dan meminta bantuan pada orang lain, artinya mengizinkan diri kita untuk bertumbuh, dan juga mengizinkan orang lain untuk menjadi bagian dari pertumbuhan kita. Lebih dari itu, kita mengizinkan Tuhan untuk membentuk pribadi kita melalui sesama yang merupakan perpanjangan tangan-Nya.

Bagikan Konten Ini
7 replies
  1. Santi Gultom
    Santi Gultom says:

    Tuhan sangat sempurna dan maha baik.Tuhan.menginginkan kita untuk saling bertolong2an.Ada yg menolong & ada yg ditolong.
    Hanya orang2 yg terbuka dan rendah hatilah yg pantas menerima pertolongan yg tulus.

    Secara tidak sadar sayapun sudah melakulan kesombongan ini.
    Kiranya Tuhan memberikan aku keterbukaan & rendah hati mengakui kelemahan supaya Tuhan mengirimkan seseorang yg tulus menolongku.

  2. Fransiska
    Fransiska says:

    tingkat kemandirian sesungguhnya bukanlah kamu yang selalu melakukan apapun sendiri, tapi kamu yang bisa menakar kapan kamu butuh bantuan oranglain dan kapan kamu bisa sendiri

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *