Kisahku dengan Penyakit yang Tidak Ada Obatnya

Oleh Rika Limuria, Indonesia. 

Artikel asli dalam bahasa Inggris : “I Was Healed of an Incurable Disease”

Januari 2018, aku didiagnosis menderita penyakit Crohn, yaitu sejenis peradangan usus kronis. Hal ini diawali dengan perutku sakit selama lima bulan, hingga aku menjalani kolonoskopi (pemeriksaan pada usus besar). Dokter berkata tidak ada obat untuk penyakit Crohn. Ada masa-masa ketika gejala penyakit ini hilang sementara waktu dan aku akan merasa lebih baik, tapi aku harus berjaga-jaga jikalau penyakit ini kambuh.

Aku harus minum obat pereda sakit setiap hari, melakukan kontrol tiap bulan, dan menjalani perawatan lainnya selama berbulan-bulan. Sungguh itu bukanlah waktu yang sebentar, tapi perawatan itu membuat kondisiku lebih baik. Enam bulan kemudian, dokter berkata kondisiku sudah lebih terkontrol dan aku bisa berhenti mengonsumsi obat.

Meski begitu, mengetahui bahwa aku harus mengidap penyakit ini selama aku hidup merupakan beban tersendiri, baik secara fisik maupun mental. Aku tidak bisa lagi menikmati makanan dan minuman yang aku sukai, aku juga cemas tiap kali aku bepergian karena aku sering ke toilet, sedangkan fasilitas toilet umum di luar sangat terbatas. Intinya, aku tidak bisa lagi menikmati hidup seperti dulu. 

Pindah ke negara baru 

Oktober 2020, aku pindah dari Indonesia ke Taiwan untuk melanjutkan studi. Setibanya di sana, aku harus menjalani karantina selama empat belas hari di sebuah hotel karena pembatasan pandemi. Aku pun khawatir jika penyakitku kambuh selama masa karantina, tapi untungnya itu tidak terjadi. 

Semua berjalan lancar selama beberapa bulan pertama. Aku pun sangat berhati-hati memilih makanan karena prioritas utamaku adalah mempertahankan kondisiku agar tetap stabil. Hingga 2,5 tahun kemudian masalah perutku kembali kambuh, tepatnya pada Januari 2021. 

Aku pun pergi ke ahli gastroenterologi untuk memeriksa saluran pencernaan sambil berharap mendapatkan obat khusus untuk mengurangi gejala Chron-ku. Tapi karena aku tidak membawa rekam medis, dokter memintaku menjalani beberapa pemeriksaan. Dan yang membuatku terkejut, dokter tidak menemukan tanda-tanda penyakit Chron-ku. Kemudian dokter memberikan resep obat untuk mengurangi gejala selama beberapa minggu. 

Ketika keadaanku kembali memburuk, aku berobat lagi. Kali ini dokter memintaku menjalani pemeriksaan MRI. Lagi-lagi hasil MRI menunjukkan tidak ada tanda penyakit Chron. Aku pun pulang ke rumah dengan resep obat yang sama seperti sebelumnya. Hal ini membuatku sangat kesal karena aku harus terus-menerus merasakan sakit yang sama tanpa tahu penyebabnya dan bagaimana cara mengobatinya.

Selain itu, varian Delta melanda negara asalku selama triwulan ketiga tahun 2021. Aku pun menerima banyak berita sedih yang diakibatkan virus tersebut, hingga aku tidak bisa mengontrol perasaan cemas dan takutku tiap kali aku menerima berita dari media sosial. Dan hal yang paling kutakutkan benar-benar terjadi, virus tersebut merenggut nyawa salah satu orang yang sangat kusayangi, yaitu nenekku.

Tentu aku merasa sangat kehilangan, terlebih aku jauh dari negara tempat keluargaku berada. Aku pun terus menangis, hingga aku mulai merasa kondisi perutku memburuk dan obat yang aku konsumsi tidak dapat meredakan gejalanya lagi. Akhirnya aku berobat lagi, dan setelah mendapatkan obat serupa, dokter memintaku untuk menjadwalkan kolonoskopi setelah kondisiku membaik dan jumlah kasus COVID sudah menurun.
Pada titik inilah aku menyadari bahwa sepertinya kondisiku akan memburuk tiap kali aku merasa stres. 

Mengenali bagaimana pikiran dapat memengaruhi kondisi tubuh 

Aku pun memutuskan untuk mencari bantuan. Aku berkata pada keluarga dan sahabat-sahabatku bahwa aku merasa stres dan membutuhkan bantuan konselor profesional, hingga dengan bantuan seorang sahabat, aku dapat membuat janji temu di sebuah pusat konseling Kristen. Aku juga berbicara pada teman dan pengerja di gerejaku. Saat ketika aku merasa lelah, aku menerima dukungan dan doa dari anggota keluarga, teman, dan saudara dalam Kristus. 

Keadaan sulit yang kualami karena pandemi dan kondisi tubuh yang tidak stabil membuatku memiliki banyak waktu untuk merenungkan hidup dan introspeksi diri. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaanku sebelumnya yang memiliki banyak tugas dan aktivitas untuk melayani sesama dengan menggunakan talenta yang Tuhan berikan padaku.

Tapi setelah merenungkan pengalamanku sebelumnya, aku sadar bahwa sebelum melayani sesama, aku harus mendapatkan kekuatan yang kubutuhkan dengan memiliki waktu pribadi bersama-Nya. Yesus sendiri telah memberikan contoh yang baik bagi kita: “Besok paginya, waktu hari masih sangat gelap, Yesus bangun dan meninggalkan rumah itu lalu pergi ke daerah yang sepi untuk berdoa.” (Markus 1:35 TSI). 

Aku juga mengikuti saran yang diberikan oleh konselor profesional, yaitu melatih kebiasaan baru dengan menulis jurnal ungkapan rasa syukur setiap hari. Dengan kebiasaan baru ini, aku belajar untuk mensyukuri apa pun yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku dan tetap menikmatinya. Menulis di jurnal ini juga membuatku berpikir untuk kembali pada kebiasaan lama, yaitu menulis buku harian, di mana aku dapat menuangkan seluruh perasaanku, baik sedih, senang, takut, bahkan doa-doaku pada Tuhan. 

Sampai akhirnya pikiranku kembali membaik, dan kondisi fisikku ikut membaik. Lalu aku mulai menjalani kolonoskopi dan endoskopi, dan hasilnya luar biasa! Tidak ada peradangan di ususku. Dokter mengatakan bahwa aku dapat berhenti mengonsumsi obat. Sejak itu, aku tidak lagi meminum obat apa pun. Kondisiku pun semakin membaik. 

Bagiku, ayat ini benar-benar terbukti:
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22).

Kondisi fisikku merupakan cerminan dari kondisiku secara emosional. Jadi, tiap kali perutku sakit, itu pertanda bagiku untuk melihat kondisi hati juga, dan mengakui ketakutanku serta membawa perasaan itu kepada Tuhan.

Seperti yang dikatakan Pemazmur:
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:18). Ya, Dia telah menyelamatkanku lagi dan lagi!

Dan akhirnya, aku diteguhkan untuk berpegang pada janji ini: 

“Dan, setelah kamu menderita untuk sementara waktu, Allah sumber segala anugerah yang telah memanggil kamu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya yang kekal dalam Kristus akan memulihkan, meneguhkan, menguatkan, dan membangun kamu.” (1 Petrus 5:10 AYT).

Bagikan Konten Ini
10 replies
  1. Agnes Ndaomanu
    Agnes Ndaomanu says:

    Terimakasih sdh membagikan pengalaman sakit ini bisa menguatkan kita yg membacanya Tuhan Yesus memberkati

  2. tiarani simangunsong
    tiarani simangunsong says:

    kita memiliki cerita yang sama terpujilah Tuhan, semuanya baik sekarang,,😇

  3. Desi e Stg
    Desi e Stg says:

    Mohon doanya untuk mama saya juga saat ini sedang sakit parah. semoga segera sembuh🙏🙏

  4. Sri Purwaningsih
    Sri Purwaningsih says:

    Amin.
    Saya juga mengalami hal yg sama , bahwa keadaan fisikku menunjukkan kondisi jiwaku.
    oleh krn itu saya harus belajar selalu berserah kepada Tuhan, didalam berserah ada damai sejahtera.
    Hati yg gembira adalah obat.😇❤

  5. Dinda P
    Dinda P says:

    terima kasih atas sharingnya. aku juga punya penyakit yg klo stres dia bakal kambuh, bedanya aku malah makin ngeluh dan marah sama Tuhan tiap kali penyakit tsb kambuh. dari cerita kakak, aku jd belajar justru ditengah penderitaan kita hrs lbh bersyukur.
    Tuhan memberkati ya kak^^

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *