Kematian yang Menghidupkan

Sabtu, 15 Januari 2022

Baca: Keluaran 12:5-13

12:5 Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

12:7 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

12:8 Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

12:9 Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.

12:10 Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.

12:11 Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

12:12 Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

12:13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.

Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. —Keluaran 12:13

Carl sedang berjuang melawan kanker dan membutuhkan transplantasi pada kedua paru-parunya. Ia memohon agar Allah memberinya paru-paru baru, tetapi merasa aneh dengan doanya sendiri. Ia merasa tidak enak berdoa seperti itu, karena “seseorang harus mati agar aku dapat hidup.”

Dilema yang dihadapi Carl menyoroti kebenaran mendasar Kitab Suci: Allah memakai kematian untuk memberi kehidupan. Kita menyaksikan hal tersebut dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Bangsa yang lahir ke dalam perbudakan itu begitu menderita di bawah penindasan Mesir. Karena Firaun tidak mau melepaskan mereka, Allah sendirilah yang turun tangan. Setiap anak sulung di negeri itu akan mati, kecuali keluarga menyembelih anak domba tak bercacat dan membubuhkan darahnya pada kedua tiang pintu dan ambang atas (Kel. 12:6-7).

Saat ini, kamu dan saya juga dilahirkan dalam perbudakan dosa. Iblis tidak mau melepaskan cengkeramannya atas kita sampai Allah sendiri turun tangan, dengan cara mengorbankan Anak-Nya yang sempurna di kayu salib yang berlumuran darah.

Yesus memanggil kita untuk disalibkan bersama-Nya. Paulus menjelaskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Ketika kita menaruh kepercayaan pada Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela, kita berkomitmen untuk mati setiap hari bersama-Nya, mati terhadap dosa-dosa kita supaya kita dapat bangkit bersama Dia dalam hidup yang baru (Rm. 6:4-5). Kita menunjukkan iman kita setiap kali mengatakan “tidak” kepada belenggu dosa, dan mengatakan “ya” kepada kebebasan yang diberikan Kristus. Kita sungguh hidup ketika kita mati bersama-Nya. —Mike Wittmer

WAWASAN
Salah satu keajaiban dari penyaliban Yesus adalah bahwa peristiwa itu terjadi bertepatan dengan Hari Raya Paskah bangsa Israel. Pada hari yang menentukan itu dua kisah, yaitu kisah Musa dan Yesus, melebur jadi satu. Mulai saat itu, dunia memiliki cara pandang baru terhadap ungkapan misterius tentang menyembelih dan makan anak domba Paskah. Dalam kalender kuno Israel, pada hari inilah Allah pencipta menghukum ilah-ilah Mesir dengan mengungkapkan ketidakmampuan mereka untuk melindungi manusia. Pada hari pertama Paskah inilah Allah segala allah menggunakan pengorbanan seekor domba dan makanan kudus untuk menunjukkan hanya Dialah sumber kehidupan dan kebebasan. Namun, setelah kematian Yesus, orang baru mengerti hubungan antara Dia dan domba Paskah, serta arti makan dan minum dari pengorbanan Allah sendiri. —Mart DeHaan

Kematian yang Menghidupkan

Mengapa kematian menjadi satu-satunya jalan menuju hidup? Bagaimana cara kamu menunjukkan bahwa kamu telah menerima kematian Yesus bagi diri kamu?

Tuhan Yesus, kematian-Mu menghidupkanku. Tolonglah aku untuk mati terhadap dosa hari ini dan menjalani hidupku dengan kuasa-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 36-38; Matius 10:21-42

Bagikan Konten Ini
40 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkan lah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang- orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan,biarlah Kehendak Mu yang terjadi, terpuji lah namaMu kekal selamanya, amin

  2. Agnes Yustivani
    Agnes Yustivani says:

    karena dengan cara itulah kita umat manusia bisa diselamatkan, dan pada saat itu hukuman itulah yg pling hina. hanya melalui Tuhanlah yang maha suci tanpa bercela yg bisa menyelamatkan kita.
    mengakui Yesuslah Tuhan dan juruslamat kita satu*nya dan hidup menurut kebenaran nya😇😇

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *