Apa yang Harus Saya Katakan?

Selasa, 14 Desember 2021

Baca: Nehemia 2:1-6

2:1 Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja,

2:2 bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut.

2:3 Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”

2:4 Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit,

2:5 kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.”

2:6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.

Dalam hati aku berdoa kepada Allah penguasa di surga, lalu aku berkata kepada raja. —Nehemia 2:4-5 BIS

Ketika melihat-lihat sekotak buku bertulisan “C. S. Lewis” di toko buku bekas, saya dihampiri oleh pemilik toko. Ketika kami membahas buku-buku itu, saya bertanya-tanya apakah ia mungkin tertarik dengan iman yang menginspirasi banyak tulisan Lewis. Saya berdoa dalam hati agar diberi tuntunan. Sepotong informasi dari sebuah biografi terbetik dalam ingatan saya, dan kami pun berdiskusi tentang bagaimana karakter dalam buku C. S. Lewis merujuk kepada Allah. Pada akhirnya, saya bersyukur doa singkat tadi telah mengubah arah pembicaraan kami ke hal-hal rohani.

Nehemia berhenti sejenak untuk berdoa sebelum percakapan pentingnya dengan Raja Artahsasta di Persia. Raja bertanya bagaimana ia dapat membantu Nehemia yang putus asa karena kehancuran Yerusalem. Nehemia adalah hamba raja, tidak mungkin baginya untuk memohon bantuan. Namun, sebenarnya ia butuh bantuan yang sangat besar. Ia ingin memulihkan Yerusalem. Jadi, ia “berdoa kepada Allah penguasa di surga” sebelum mohon diri dari pekerjaannya agar dapat membangun kembali kota itu (Neh. 2:4-5). Raja merestui, bahkan setuju membantu Nehemia mengatur perjalanan dan menyediakan bahan untuk proyek tersebut.

Alkitab mendorong kita, “dalam segala doa dan permohonan [berdoalah] setiap waktu” (Ef. 6:18), termasuk saat kita membutuhkan keberanian, pengendalian diri, atau kepekaan. Berdoa sebelum berbicara berarti memohon Allah memegang kendali atas sikap dan perkataan kita.

Bagaimana Dia ingin mengarahkan perkataan kamu hari ini? Tanyakanlah kepada Dia, dan nantikan jawaban-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Sebagai juru minum raja, Nehemia memegang jabatan penting di istana Artahsasta. Juru minum kerajaan “bertugas mencicipi anggur yang dihidangkan kepada raja (demi mencegah upaya meracuni raja) dan menjaga ruang-ruang istana”. Mereka “termasuk jajaran pejabat yang paling dipercaya, yang sangat besar pengaruhnya terhadap tuan mereka” (Mark Throntveit, Ezra—Nehemiah). Bukan hal yang aneh bila ada orang Israel dalam pembuangan yang menduduki jabatan penting. Daniel menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel (Daniel 2:48-49); dan Sadrakh, Mesakh, serta Abednego memerintah wilayah-wilayah Babel (3:12).
Dalam Nehemia 2:1-8, Artahsasta melontarkan tiga pertanyaan kepada Nehemia. Sebelum menjawab dua pertanyaan pertama, Nehemia menggambarkan perasaannya. Di ayat 2, ia berkata, “aku menjadi sangat takut.” Di ayat 4, ia “berdoa kepada Allah semesta langit.” Kemudian di ayat 6, ia cukup berani untuk memberikan jawaban. Hal ini menunjukkan perkembangan kerangka pemikirannya. —J.R. Hudberg

Apa yang Harus Saya Katakan?

Pola bicara seperti apa yang perlu kamu ubah dan membutuhkan pertolongan Allah? Situasi apa dalam hidup kamu yang paling membutuhkan doa?

Ya Bapa, kuserahkan semua perkataanku untuk kemuliaan-Mu. Biarlah perkataanku mengilhami dan menguatkan sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Yoel 1-3; Wahyu 5

Bagikan Konten Ini
38 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari. pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami Dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan,biarlah KehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *