Sukacita dalam Hal-Hal Remeh 

Jumat, 5 November 2021

Baca: Pengkhotbah 2:1-11

2:1 Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia.”

2:2 Tentang tertawa aku berkata: “Itu bodoh!”, dan mengenai kegirangan: “Apa gunanya?”

2:3 Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, –sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat–,dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.

2:4 Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur;

2:5 aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan;

2:6 aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda.

2:7 Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku.

2:8 Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik.

2:9 Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku.

2:10 Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.

2:11 Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku . . . dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan. —Pengkhotbah 2:11

Pada tahun 2010, James Ward, kreator blog “I Like Boring Things,” menyelenggarakan acara bertajuk “Boring Conference” (Konferensi yang Membosankan). Konferensi satu hari ini diadakan untuk merayakan hal-hal biasa, remeh, atau yang biasanya terabaikan. Para pembicara mengangkat topik-topik remeh, seperti soal bersin, suara yang dikeluarkan oleh mesin penjual otomatis, dan mesin printer inkjet keluaran 1999. Ward tahu topik-topik tersebut mungkin membosankan, tetapi para pembicara dapat membahasnya dengan cara yang menarik, bermakna, dan bahkan menyenangkan. 

Beribu-ribu tahun lalu, Salomo, raja yang paling bijaksana, berusaha mencari sukacita dalam hal-hal remeh yang ditemui sehari-hari. Ia bekerja keras, memelihara ternak, mengumpulkan kekayaan, mencari hiburan, dan mendirikan bangunan (Pkh. 2:4-9). Sebagian dari usaha itu patut dipuji, tetapi ada juga yang tidak patut. Akhirnya, dalam pencariannya akan makna hidup, sang raja hanya menemukan kebosanan (ay.11). Salomo tadinya memiliki pandangan terhadap dunia sebatas pengalaman manusiawi yang tidak melibatkan Allah. Namun, akhirnya Salomo menyadari bahwa ia dapat menemukan sukacita dalam hal-hal remeh hanya ketika ia mengingat dan memuji Allah (12:1-7).

Ketika merasa terperangkap dalam kebosanan, kita dapat mulai merayakan hal-hal remeh di sekitar kita, sambil mengingat Sang Pencipta (ay.1)—Allah yang memberi makna bagi semua yang biasa dan remeh tersebut. Seraya mengingat dan menyembah Dia, kita akan menemukan keajaiban dalam hal-hal biasa, rasa syukur terhadap hal-hal remeh, dan sukacita dalam berbagai hal yang sepertinya tidak berarti dalam hidup kita.  —Marvin Williams

WAWASAN
Kitab Pengkhotbah kemungkinan besar ditulis oleh Salomo; penulisnya dikatakan adalah anak Daud (1:1) dan raja Israel (ay. 12). Sebagai raja, Salomo dapat melakukan “eksperimen” untuk menemukan makna, dengan cara mengejar hal-hal yang paling diinginkan manusia (2:1-11). Selain itu, selama pencarian makna ini, meski menikmati kesenangan duniawi, ia mencatat bahwa ia tetap dituntun oleh hikmat (ay. 3,9). Kita diberi tahu bahwa Salomo adalah orang paling bijaksana yang pernah ada (lihat 1 Raja-Raja 3:11-12). —Julie Schwab

Sukacita dalam Hal-Hal Remeh 

Mengapa begitu sulit menemukan makna dalam hal-hal yang takkan pernah memuaskan? Bagaimana kamu dapat mengutamakan kembali komitmen dan ibadah kamu kepada Allah supaya kamu dapat menemukan makna hidup di dalam Dia?

Ya Allah, penuhilah momen-momen hidupku yang biasa-biasa saja dengan sukacita dan keajaiban-Mu yang luar biasa.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 34–36; Ibrani 2

Bagikan Konten Ini
30 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan , biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  2. Feodora Judith
    Feodora Judith says:

    Allah, penuhilah momen-momen hidupku yang biasa-biasa saja dengan sukacita dan keajaiban-Mu yang luar biasa.

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *