Stres Sehari-hari Bukanlah Kondisi yang Bisa Dianggap Remeh

Oleh Aryanto Wijaya

Sudah lebih dari dua bulan perutku tampak dan terasa lebih besar dari biasanya.

“Dung…dung…” suara kembung muncul saat telapak tanganku kutepukkan pelan-pelan ke atas perutku. Pikiranku segera menerka kalau-kalau ada yang tak beres dengan pencernaanku. Daripada aku googling dan mendapati info-info tidak akurat, maka keesokan harinya kuputuskan untuk menemui dokter spesialis penyakit dalam.

Sebenarnya kembung yang kualami saat itu bukanlah yang pertama. Setahun sebelumnya, aku pernah mengalami kembung serupa. Oleh dokter yang kusambangi, aku cuma dibilang butuh lebih banyak olahraga. Namun, di konsultasiku yang kedua kali (tapi di dokter yang berbeda), barulah aku disodorkan fakta yang membuatku tercengang.

Selama lebih kurang setengah jam, dokter melakukan pemeriksaan USG pada perutku. Hasilnya, dia bilang kalau aku terkena Gastroesophageal Reflux Disease atau lebih beken disingkat Gerd. Penyakit Gerd ini menyebabkan lambungku memproduksi cairan asam yang berlebihan. Karena volumenya yang terlalu banyak, asam itu lalu menjalar ke kerongkongan dan bagian pencernaan lainnya. Dampaknya jika dibiarkan bisa fatal.

“Masih mau hidup lama, kan?” tanya sang dokter dengan senyum tipisnya.

Aku tahu itu pertanyaan seloroh, tapi terasa menohok. Kujawab, “Iya dong dok, menikah aja belom masa udah good bye, haha.”

Aku menggugat diriku sendiri: kok bisa di umur yang masih muda sudah punya sakit begini?

Selama enam bulan sejak aku melakukan pengobatan hari itu, aku melakukan banyak pantangan makan. Pola hidup pun mau tak mau berubah total, walaupun ini sangat sulit dan seringkali aku abai. Aku belajar membiasakan diri untuk bergerak, makan mengurangi gorengan, tidur cukup, dan yang paling susah….mengubah caraku merespons terhadap stres.

Pikiran stres yang tak mungkin bisa hilang dari hidup

Di konsultasi-konsultasiku selanjutnya dengan dokter, dia mengungkapkan bahwa salah satu penyebab gangguan lambungku adalah stres yang tidak dikelola dengan baik, yang diperparah dengan tabiat makan dan pola tidur yang buruk.

Aku lantas menyelidiki diriku. Agaknya apa yang dokter itu sampaikan bukanlah sekadar diagnosis yang diambil dari teori, tetapi memang pada faktanya demikian. Aku seorang yang bisa dikategorikan sebagai introver, meskipun karena tuntutan pekerjaan aku sering tampil di muka publik. Aku suka menyendiri dan merenung, tetapi kadang durasinya bisa kelamaan. Dari situ, kusadar kalau aku belum memiliki kapasitas untuk mengelola setiap tekanan hidupku dengan benar dan baik. Ketika beban pekerjaan, konflik dengan rekan, beban finansial, atau masalah keluarga datang—yang sebenarnya adalah masalah rutin yang kita alami—yang kulakukan adalah berlebihan memikirkannya. Kupikirkan hal-hal yang seharusnya tak perlu jadi soal, hingga aku pun terjebak dalam pusaran kekhawatiran. Tidak satu jam atau dua jam, pikiran berat itu kubiarkan berkecamuk di otak berhari-hari, sampai-sampai aku sering kedapatan melamun sendirian di samping jendela.

Dalam buku Filosofi Teras, dr. Andri yang merupakan spesialis kejiwaan mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa memengaruhi badan secara keseluruhan. Tidaklah heran apabila saat seseorang merasa tegang atau panik, dia akan gemetar atau berkeringat dingin, atau sakit kepala. Lanjutnya, otak kita selalu berusaha untuk beradaptasi. Ketika kita mengalami stres yang diterjemahkan otak sebagai persepsi negatif, otak kita akan bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengannya.

Hans Selye mengatakan demikian: “Bukan stres yang sebenarnya membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadapnya.”

Mendapati kenyataan bahwa tekanan-tekanan hidup yang mengantar kita pada pikiran stres adalah bagian dari hidup, dapat menolong kita untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Kita perlu menggeser fokus, bukan agar semua tekanan dalam hidup ini lenyap, tetapi bagaimana kita dapat merespons dengan benar terhadapnya.

Jalan pasti yang Gembala kita tawarkan

Ilmu psikologis saat ini telah berkembang. Kita dapat menemukan beragam jawaban komprehensif atas kendala-kendala pikiran dan perasaan yang kita gumulkan. Tetapi, sebagai orang Kristen, hendaknya kita tidak lupa bahwa iman yang kita anut turut pula menyajikan bagi kita jawaban-jawaban yang mendasar melalui firman Tuhan. Ayat-ayat dari Alkitab bukanlah mantra yang jika kita daraskan akan mengubah keadaan kita seperti sulap, tetapi karena itu diilhamkan oleh Allah, maka dengan kita menerima, mengerti, dan mengaplikasikannya, firman Tuhan berkuasa untuk mengubah kelakukan kita dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Timotius 3:16; Yakobus 1:22).

Alkitab pun melihat perasaan takut, stres atau tertekan sebagai respons alamiah manusia. Tidak ada satu pun manusia yang kebal dari perasaan ini. Dalam beberapa bagiannya, Alkitab mencatat tokoh-tokoh yang bergumul dengan tekanan-tekanan hidup: Pemazmur yang meratap pada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan…?” (Mazmur 13:2); Ayub yang dalam kesakitannya tak tahu bilamana segala penderitaannya akan selesai; atau seorang Rut, yang pasca kematian suaminya harus memilih bagaimana dia akan hidup. Bahkan, Tuhan Yesus dari sisi manusia-Nya pun mengalami hebatnya gulatan perasaan ini ketika Dia hendak ditangkap oleh prajurit Romawi. Injil Matius 26 mencatat saking takutnya, Yesus mengucap: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya…” (ayat 38), dan saat Dia berdoa pun keringatnya berubah seperti titik-titik darah (Lukas 22:44).

Allah mengaruniakan manusia akal budi. Kita dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, dan mampu membedakan manakah yang baik dan yang buruk (Roma 12:2). Perasaan stres sejatinya adalah respons yang wajar, namun di sinilah titik krusialnya: bagaimanakah kita akan merespons stres tersebut?

Dunia mungkin menawarkan kita solusi atas perasaan itu—rekreasi sejenak, self-healing dengan makan, atau pada kasus yang buruk: beralih pada obat-obatan atau minuman beralkohol. Solusi-solusi itu bermanfaat, tetapi itu bisa hanya bersifat sebagai pengalihan. Biasanya, segera setelah seseorang pulang dari berlibur atau nongkrong, dia akan kembali berkubang dalam pikiran stresnya.

Firman Tuhan menawarkan kita solusi yang dibangun di atas jalan yang pasti, yakni jalan yang dibuat oleh Sang Gembala Agung untuk memimpin domba-domba-Nya.

Pertama, segala permasalahan dalam hidup yang memunculkan stres dalam diri kita bukanlah hal yang harus kita nihilkan kehadirannya. Melainkan, kita dapat merengkuhnya dan membawa itu semua ke hadapan Allah, sebab Allah bukanlah Allah yang jauh. Dia adalah Allah yang mendengar doa-doa kita dan bersedia menjawabnya (Yohanes 16:23).

Allah tidak memandang hina ratapan anak-anak-Nya. Yesus telah memberi kita teladan bahwa dalam masa-masa terkelam, ketika murid-murid-Nya tertidur dan tak dapat Dia andalkan, Dia tetap dapat meluapkan perasaan-Nya yang terdalam kepada Bapa (Matius 26:39, 42). Alkitab memang tidak mencatat ada jawaban secara verbal yang Allah berikan atas ratapan Yesus, tetapi satu hal yang kita imani adalah: Allah tidak pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Dalam Podcast KaMu Episode-3, Ev. Dhimas Anugrah mengungkapkan bahwa sekalipun Allah tampaknya diam dan tidak merespons, sejatinya diamnya Allah itu merupakan bahasa kasih-Nya. Dalam diam sekalipun, Allah tidak pernah berhenti mengasihi, sebab Dia adalah kasih (1 Yohanes 4:8).

Kedua, Allah menjanjikan penyertaan-Nya bagi setiap kita (Matius 28:20). Penyertaan Tuhan bukanlah sebuah kondisi bak sulap yang menjadikan seluruh perjalanan hidup kita mulus tanpa kendala. Tantangan, kesulitan akan tetap ada dan menghadang kita, tetapi bersama Dia dan dalam penyertaan-Nya, kita selalu dimampukan untuk mengatasinya (Filipi 4:13).

Dimampukan untuk mengatasi segala tantangan itu bukan pula berarti bahwa hidup kita akan selalu berhasil. Kegagalan mungkin akan tetap kita jumpai. Kesakitan mungkin akan tetap kita alami. Tetapi, dalam iman kita mengetahui bahwa segala kesukaran itu mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

Dua kebenaran yang Alkitab sajikan bagi kita ini adalah sebuah rumus dasar yang seharusnya hadir dalam pemahaman kita. Ketika kita memiliki pola pikir dan cara pandang yang berasal dari-Nya, kita pasti bisa melalui setiap tantangan dan kesukaran, dan menjadikan itu sebagai kesempatan untuk mendewasakan iman kita.

Ketiga, merengkuh kerentanan adalah cara untuk menjadi kuat. Untuk menyembuhkan sakit, kita perlu tahu secara jelas apa yang jadi penyebabnya. Jiwa yang tertekan tidak seratus persen disebabkan oleh keadaan, tetapi lebih kepada respons kita terhadap keadaan itu. Jika respons kita adalah menanggapi dengan cara-cara yang negatif, pemazmur mengingatkan bahwa “…tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari” (Mazmur 32:3).

Kembali pada secuplik kisahku tentang sakit lambungku, sejak saat itu aku terus belajar untuk membangun dasar hidupku pada dasar yang teguh: firman Tuhan. Stres yang muncul sebagai respons atas kendala sehari-hari akan tetap ada, tetapi aku kini telah mengetahui cara yang benar untuk meresponsnya. Bukan membiarkan diriku jatuh berlarut-larut memikirkannya seorang diri, tetapi aku dapat menaikkannya dalam doa, dan juga meminta bantuan dari orang-orang terdekatku atau bahkan tenaga profesional kesehatan mental. Sebab meminta tolong bukanlah tanda bahwa kita lemah, meminta pertolongan adalah tanda bahwa kita manusia ciptaan Allah, yang dipanggil untuk saling menolong (Galatia 6:2).

Menutup tulisan ini, ada satu lagu yang liriknya memberkatiku. Lagu ini adalah sebuah himne yang dalam bahasa Inggris berjudul: “Turn Your Eyes Upon Jesus.”

Refrainnya berkata:

Turn your eyes upon Jesus
Look full in His wonderful face
And the things of earth will grow strangely dim
In the light of his glory and grace

Ketika kita memandang pada Yesus dan melihat wajah-Nya yang mulia, segala hal duniawi akan meredup, tersamarkan oleh sinar-Nya yang teramat mulia.

Tabik. Tuhan Yesus memberkati.

Bagikan Konten Ini
17 replies
  1. Betty
    Betty says:

    Sangat memberkati sekali dan kisah ini sepertinya kisah ku jugaa. Saat ini aku dalam stress dan respon ku sangat berlebihan, seperti murung, overthinking dan menyalahkan keadaan juga diri sendiri. Pas banget lah.

    Terimakasih. Tuhan berkati

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *