Sebutan bagi yang Berduka

Sabtu, 6 November 2021

Baca: Lukas 23:44-46

23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,

23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.

23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

 

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” —Lukas 23:46

Setelah Hugh dan DeeDee harus merelakan berpulangnya anak tunggal mereka ke surga, mereka bergumul dengan sebutan diri mereka. Tidak ada istilah khusus untuk orangtua yang kehilangan anak mereka. Istri tanpa suami disebut janda. Suami tanpa istri disebut duda. Anak yang tidak berayah dan beribu lagi disebut yatim piatu. Orangtua yang ditinggal mati oleh anaknya tidak mempunyai sebutan yang bisa mewakili rasa duka mereka yang tidak terlukiskan.

Keguguran. Kematian bayi secara mendadak. Bunuh diri. Sakit penyakit. Kecelakaan. Kematian merenggut seorang anak dari dunia ini dan kemudian merampas identitas orangtua yang ditinggalkan.

Namun, Allah Bapa sendiri memahami duka tak terperikan tersebut ketika Anak-Nya yang tunggal, Yesus, berseru kepada-Nya dari atas kayu salib, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46). Allah sudah menjadi Bapa sebelum Yesus dilahirkan di dunia dan tetap menjadi Bapa ketika Yesus menghembuskan napas terakhir-Nya. Allah tetap menjadi Bapa ketika jasad Putra-Nya itu dibaringkan di dalam kubur. Allah juga hidup hari ini sebagai Bapa dari Sang Putra yang telah bangkit, dan ini memberikan pengharapan bagi setiap orangtua bahwa seorang anak dapat hidup kembali.

Sebutan apa yang bisa kamu berikan kepada Bapa surgawi yang telah menyerahkan Anak-Nya bagi keselamatan dunia? Bagi kamu dan saya? Kita dapat dan tetap memanggil-Nya Bapa. Ketika tidak ada sebutan yang tepat untuk menggambarkan dukacita besar akibat kematian orang yang kita kasihi, Allah tetap Bapa kita dan Dia menyebut kita anak-Nya (1Yoh. 3:1).  —Elisa Morgan

WAWASAN
Yesus mengucapkan tujuh perkataan di atas kayu salib, yang ditujukan secara horizontal dan vertikal. Pernyataan horizontal-Nya ditujukan kepada orang-orang di sekitar kayu salib, termasuk kata-kata penghiburan-Nya kepada ibu-Nya (Yohanes 19:26-27) dan kata-kata peneguhan-Nya kepada penjahat yang sekarat (Lukas 23:43). Setidaknya empat perkataan-Nya bersifat vertikal, berupa doa. Yesus mendoakan pengampunan bagi para pembunuh-Nya (ay. 34), mengekspresikan perasaan telah ditinggalkan oleh Bapa-Nya (Matius 27:46), menyatakan bahwa Dia telah menyelesaikan tugas menanggung dosa (Yohanes 19:30), dan mengembalikan nyawa-Nya kepada Bapa (Lukas 23:46). Perkataan-Nya yang ketujuh, “Aku haus” (Yohanes 19:28), ditujukan secara horizontal dan vertikal. Sebagian memandangnya sebagai permintaan kepada orang-orang di dekat-Nya untuk meminta minum (horizontal), sementara yang lain melihatnya secara vertikal, yaitu Yesus sedang meminta cawan yang ingin dilalui-Nya di Taman Getsemani kepada Bapa-Nya (Matius 26:39). —Bill Crowder

Sebutan bagi yang Berduka
 

Bagaimana hati kamu dipengaruhi oleh kesadaran bahwa Allah tetaplah menjadi Bapa kita dan Dia selalu menyebut kita anak-Nya? Bagaimana pemikiran tersebut menghibur hati kamu?

Bapa surgawi yang baik, terima kasih karena Engkau menjadi Bapaku dan menerimaku sebagai anak-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 37–39; Ibrani 3

Bagikan Konten Ini
36 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan, serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan, biarlah Kehendak Mu yang terjadi, terpujilah NamaMu kekal selamanya, amin

  2. Feodora Judith
    Feodora Judith says:

    Bapa surgawi yang baik, terima kasih karena Engkau menjadi Bapaku dan menerimaku sebagai anak-Mu. 🙏

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *