Berdiam di dalam Allah

Senin, 15 November 2021

Baca: Mazmur 27:1-6

27:1 Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?

27:2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

27:3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

27:5 Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.

27:6 Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

 

Satu hal telah kuminta kepada Tuhan . . . diam di rumah Tuhan seumur hidupku. —Mazmur 27:4

Saat tengah berjalan menuju mobil, Zander melepaskan diri dari tangan ibunya dan berlari kencang kembali ke pintu gereja. Ia tidak mau pulang! Ibunya mengejar dan dengan penuh kasih berusaha mendekap anaknya kembali supaya mereka bisa segera pulang. Ketika akhirnya sang ibu berhasil merangkul kembali bocah berusia empat tahun itu, Zander menangis tersedu-sedu dan menoleh ke gereja dengan tatapan sedih sambil mereka berjalan pergi.

Zander mungkin sekadar senang bermain dengan teman-temannya di gereja, tetapi antusiasmenya menjadi gambaran kerinduan Daud untuk menyembah Allah. Walaupun bisa jadi ia meminta Allah menghancurkan musuh-musuhnya demi kenyamanan dan keselamatannya sendiri, Daud ingin kedamaian terus berlangsung agar ia bisa “menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya” (Mzm. 27:4). Hatinya sangat rindu untuk bersama Allah—di mana pun Dia berada—dan menikmati kehadiran-Nya. Raja terbesar dan pahlawan perang Israel itu berniat menggunakan masa damai untuk “menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan” (ay.6).

Kita dapat dengan bebas menyembah Allah di mana saja, sebab lewat kehadiran Roh Kudus, Dia sekarang berdiam di dalam diri kita oleh iman (1Kor. 3:16; Ef. 3:17). Kiranya kita rindu menghabiskan hari-hari kita dalam hadirat-Nya dan untuk berkumpul menyembah Dia bersama saudara-saudari seiman. Hanya di dalam Allah—bukan di balik tembok suatu bangunan—kita mendapatkan keselamatan dan sukacita kita yang terbesar. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Ketika dikejar musuh-musuh yang kuat, Daud memilih untuk berfokus pada Allah dan bukan keadaannya yang sulit. Daud berkata, Allah adalah terangnya saat ia menjalani tantangan-tantangan hidup, menuntunnya dengan selamat ke dalam hadirat dan kebaikan-Nya (Mazmur 27:1). Allah juga adalah keselamatannya, membebaskannya dari bahaya dan kematian, dan bentengnya, menyediakan tempat yang kokoh untuk keamanan dan kestabilan hidupnya (ay. 1-6, 13; lihat 23:6; 43:3-4). Dengan semua pemeliharaan Allah ini, Daud dengan yakin menyatakan, “Kepada siapakah aku harus takut?” (27:1). Berada dalam hadirat Allah memberi Daud kepercayaan diri dan keamanan, karenanya ia ingin berada dalam hadirat-Nya melebihi segala hal—untuk “diam di rumah TUHAN seumur hidup[nya]” (ay. 4). Di mazmur lain, Daud menulis bahwa Allah menuntunnya ke tempat perlindungan dan kelimpahan: “TUHAN adalah gembalaku, . . . aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (23:1,6). —K. T. Sim

Berdiam di dalam Allah
 

Pernahkah kamu merasa begitu rindu untuk menyembah Allah? Apa yang menghalangi kamu untuk lebih sering merasa demikian?

Ya Bapa, Engkaulah kebahagiaan dan sukacitaku. Aku rindu menyembah-Mu tanpa gangguan yang mengalihkan perhatianku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 1–2; Ibrani 11:1-19

Bagikan Konten Ini
47 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami , sembuhka. juga orang- orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan. serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  2. Feodora Judith
    Feodora Judith says:

    Ya Bapa, Engkaulah kebahagiaan dan sukacitaku. Aku rindu menyembah-Mu tanpa gangguan yang mengalihkan perhatianku 🙏🙏🙏

  3. Truth
    Truth says:

    saya sedang bergumul untuk mencari kerja setelah lulus kuliah, terhitung sejak september. terkadang saya merasa lelah, merasa ingin menyerah, merasa marah pada tuhan. saya terus mempertanyakan diri saya, purpose tuhan menciptakan saya, purpose tuhan menjadikan saya sebagai apa di dunia. saya mengalami kegagalan selama perjalananan mencari kerja. sampai hari ini saya merasa khawatir, saya selalu cemas, karena saya ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga bukan untuk bersenang-senang. tetapi selama pergumulan sulit itu pula, jauh di dalam hati saya, saya merasakan ada kedamaian seolah-olah selalu ada yg berbicara bahwa ini cara tuhan untuk menunjukkan kuasanya, menjadikan saya terang sesuai dengan rencananya meski berbatu dan sulit ditempuh. saya selalu berharap bahwa kita semua terus berjalan bersama tuhan dan tidak bosan menanti janjinya sampai selamanya, amin..

  4. Gabriela Boka
    Gabriela Boka says:

    Amin.. semoga dengan kekuatan Roh Kudus kita terus rindu untuk bersekutu memuji Tuhan. Tuhan Yesus Memberkati

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *