Berbagi Harapan

Selasa, 23 November 2021

Baca: 2 Timotius 3:10-17

3:10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.

3:11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

3:13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.  —Mazmur 119:11

Ketika Emma bercerita bagaimana Allah telah menolongnya melihat dirinya sendiri sebagai anak Allah yang terkasih, ia kerap menyelipkan ayat-ayat Alkitab ke dalam percakapan kami. Saya hampir tidak bisa membedakan kata-katanya sendiri dengan ayat-ayat Alkitab. Saat saya memujinya sebagai Alkitab berjalan, alisnya berkerut. Ia bukan sengaja mengutip ayat-ayat, tetapi karena membacanya setiap hari, hikmat Kitab Suci pun menjadi bagian dari kosa katanya sehari-hari. Ia bersukacita mengalami kehadiran Allah yang tidak berubah, sekaligus menikmati setiap kesempatan yang Dia berikan untuk membagikan kebenaran-Nya kepada orang lain. Namun, Emma bukanlah anak muda pertama yang dipakai Allah untuk menginspirasi orang lain agar membaca, menghafal, dan menerapkan Kitab Suci dengan sungguh-sungguh.

Ketika Rasul Paulus mendorong Timotius untuk mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin, ia menunjukkan keyakinannya terhadap sang pemuda (1Tim. 4:11-16). Paulus menyadari bahwa sejak kecil Timotius sudah mengenal Kitab Suci (2Tim. 3:15). Seperti Paulus, Timotius juga menghadapi orang-orang yang meragukan dirinya. Meski demikian, keduanya hidup dengan keyakinan bahwa seluruh Kitab Suci itu “diilhamkan Allah.” Mereka mengakui Kitab Suci “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim. 3:16-17).

Ketika kita menyimpan hikmat Allah di dalam hati kita, kebenaran dan kasih-Nya dapat mengalir dengan lancar ke dalam isi percakapan kita. Kita dapat menjadi seperti Alkitab berjalan yang membagikan pengharapan kekal dari Allah ke mana pun kita melangkah. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Timotius adalah ‘anak [Paulus] yang sah di dalam iman” (1 Timotius 1:2). Kita pertama kali membaca tentang Timotius dalam Kisah Para Rasul 16:1-3, ketika kita diberitahu bahwa ‘ibunya [Eunike] adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya.” Kita juga membaca bahwa neneknya, Lois, juga orang percaya (2 Timotius 1:5). Timotius tinggal di Listra, dan orang-orang percaya di sana serta di Ikonium (sekitar dua puluh mil di utara Listra) mengenalnya sebagai orang yang baik (Kisah Para Rasul 16:2). Jadi, ketika Paulus mengunjungi Listra dalam perjalanan misinya yang kedua, ia mengajak Timotius. Namun, pertama-tama, Paulus menyunatnya, karena orang Yahudi setempat tahu ayahnya adalah orang Yunani (ay. 3). Paulus tidak ingin menghambat penyebaran Injil kepada kaum Yahudi. Timotius menjadi teman yang dikasihi dan seorang yang penting dalam kelompok misi Paulus, dan ia disebutkan di berbagai surat Paulus. Bacaan hari ini (2 Timotius 3:10-17) merupakan sebagian dari kata-kata terakhir Paulus kepada Timotius. —Alyson Kieda

Berbagi Harapan

Bagaimana kamu dapat menyimpan hikmat Kitab Suci dalam hati dan pikiran kamu? Bagaimana hikmat Allah pernah membantu kamu dalam membagikan kebenaran-Nya kepada orang lain?

Ya Bapa, biarlah hikmat-Mu memenuhi hatiku supaya aku dapat membagikan kabar baik tentang diri-Mu kepada orang lain dengan tulus dan berani.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 20–21; Yakobus 5

Bagikan Konten Ini
56 replies
« Older Comments
« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *