Waktu untuk Berbicara

Senin, 18 Oktober 2021

Baca: Pengkhotbah 3:1-7

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

Untuk segala sesuatu ada masanya . . . ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. —Pengkhotbah 3:1,7

Selama tiga puluh tahun, seorang wanita berkulit hitam bekerja dengan setia di sebuah lembaga pelayanan berskala global. Namun, ketika ia mengajak rekan-rekan kerjanya berdiskusi soal diskriminasi ras, ajakannya tidak mendapat sambutan. Akhirnya, pada musim semi tahun 2020—ketika isu rasisme mulai dibicarakan secara terbuka dan meluas di seluruh dunia—barulah teman-teman sepelayanannya “mau berdialog secara terbuka.” Meski dengan perasaan campur aduk dan sedih, ia tetap bersyukur untuk dialog itu, sambil bertanya-tanya mengapa baru sekarang rekan-rekannya angkat bicara.

Dalam beberapa situasi, berdiam diri adalah pilihan yang bijaksana. Raja Salomo pernah menulis dalam kitab Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya . . . . ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara” (Pkh. 3:1,7).

Namun, berdiam diri terhadap prasangka dan diskriminasi hanya akan mendorong meluasnya perlakuan yang merugikan dan menyakitkan. Martin Niemoeller (seorang pendeta Lutheran yang dipenjara Nazi Jerman karena menyuarakan keadilan) mengakui hal itu dalam puisi yang ditulisnya setelah perang. “Awalnya, mereka datang mencari kaum Komunis,” tulisnya, “tetapi aku diam saja karena aku bukan Komunis.” Lalu ia menambahkan, “Kemudian mereka datang mencari” orang Yahudi, orang Katolik, dan lain-lain, “tetapi aku diam saja.” Akhirnya, “mereka datang mencariku—dan saat itu, tidak ada lagi yang tersisa untuk membelaku.”

Dibutuhkan keberanian—dan kasih—untuk menyuarakan perlawanan terhadap diskriminasi dan ketidakadilan. Namun, dengan meminta pertolongan Allah, kita sadar bahwa sekaranglah saatnya untuk berbicara. —Patricia Raybon

WAWASAN
Pengkhotbah mungkin terkesan pesimis, dan bila kita membaca puisi tentang waktu hari ini, mungkin kita dengan mudah merasa tertekan. Karena, bagaimana pun juga, syairnya dimulai dengan menyeimbangkan antara mukjizat kelahiran dengan kalimat suram “waktu untuk meninggal” (3:2). Namun, yang terpenting dalam rangkaian kalimat yang sangat jujur itu adalah bagian ayat yang mengikutinya (ay. 9-14). “[Allah] membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” dikemukakan oleh penulis bijak Pengkhotbah (ay. 11). Kemudian ia melanjutkan, “Ia memberikan kekekalan dalam hati [manusia] (ay. 11). Kesadaran akan kekekalan memotivasi kita untuk melihat di luar diri kita sendiri (dan melampaui bumi yang terikat oleh waktu) untuk menemukan arti sesungguhnya, dan kita hanya dapat menemukannya dalam Pribadi yang kekal. “Segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya,” tulis si orang bijak (ay. 14). Kita dapat hidup dengan penuh sukacita dalam pengetahuan kita bahwa Allah itu besar dan kekal, yang memberikan kepada kita arti sesungguhnya dalam hidup ini dan masa depan kekal berikutnya. —Tim Gustafson

Waktu untuk Berbicara

Mengapa penting untuk tidak berdiam diri saat berdiskusi soal diskriminasi ras dan ketidakadilan? Apa yang membuat kamu sulit ikut serta dalam dialog tentang perlakuan diskriminatif?

Ya Allah, lepaskanlah cengkeraman si musuh atas lidah dan hatiku. Perlengkapi aku agar dapat melihat dan merasakan akibat buruk dari diskriminasi ras, supaya aku dapat berbicara untuk membela mereka yang terluka oleh dosa ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 53–55; 2 Tesalonika 1

Bagikan Konten Ini
43 replies
  1. Sandra Ria
    Sandra Ria says:

    Puji Tuhan, Terima kasih atas renungan Pagi Ini, Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua, Aminnnn 😇🙏🤍

  2. fellysia
    fellysia says:

    tema yang dibawakan sungguh luar biasa. tidak hanya mengingatkan kita untuk unjuk membela keadilan dalam hal diskriminasi ras. namun memberiksn kita keberanian dlm membela hal² yg berbau diskriminasi dalam hal yang lsinnya.

    sekedar masukan, tulisan dlm poster sulit untuk dipahami karena bentuk font tulisan.

  3. Sindhu
    Sindhu says:

    Perlu suatu keberanian dan waktu yg tepat utk menyurakan pendapat atau kebenaran. Perlu hikmat & tuntunan Roh Kudus. Amin

  4. rico art
    rico art says:

    Bapa kami yang di sorga,
    Dikuduskanlah nama-Mu,
    datanglah Kerajaan-Mu,
    jadilah kehendak-Mu
    di bumi seperti di sorga.
    Berikanlah kami pada hari ini
    makanan kami yang secukupnya
    dan ampunilah kami akan kesalahan
    kami, seperti kami juga mengampuni
    orang yang bersalah kepada kami;
    dan janganlah membawa kami ke
    dalam pencobaan,
    tetapi lepaskanlah kami dari pada
    yang jahat.
    Karena Engkaulah yang empunya
    Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
    sampai selama-lamanya.
    Amin.

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *