Ujian

Senin, 25 Oktober 2021

Baca: Kejadian 22:1-3,6-12

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetiaan Abraham. —Kejadian 22:1 BIS

Pertama kalinya saya membawa anak-anak lelaki saya mendaki Colorado Fourteener—gunung dengan ketinggian kurang lebih 14.000 kaki (4.267 m)—mereka merasa gugup. Mampukah mereka mendakinya? Mampukah mereka menerima tantangan ini? Anak bungsu saya berhenti beberapa kali di jalur pendakian untuk beristirahat. “Ayah, aku tidak sanggup lagi,” katanya berulang kali. Namun, saya yakin ujian ini baik bagi mereka, dan saya ingin mereka percaya kepada saya. Satu setengah kilometer sebelum tiba di puncak, anak saya, yang tadinya bersikeras menyatakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi, tiba-tiba kembali mendapat suntikan tenaga dan mendahului kami sampai ke puncak. Ia sangat senang telah mempercayai saya, bahkan di tengah rasa takutnya.

Saya kagum melihat sikap percaya Ishak kepada ayahnya dalam perjalanan mereka mendaki gunung Moria. Terlebih lagi, saya sungguh heran melihat kepercayaan Abraham kepada Allah saat ia mengangkat pisau untuk menyembelih anaknya (Kej. 22:10). Meskipun hatinya bingung dan pilu, Abraham tetap taat. Syukurlah, seorang malaikat menghentikannya. “Jangan bunuh anak itu,” kata utusan Allah itu. Allah tidak pernah menghendaki Ishak mati.

Ketika kita mengambil pelajaran dari kisah unik ini bagi hidup kita, penting untuk melakukannya dengan hati-hati dan memperhatikan kalimat pembukanya: “Allah menguji kesetiaan Abraham” (ay.1 BIS). Melalui ujian yang harus dilewatinya, Abraham mengetahui betapa besar kepercayaannya kepada Allah. Ia menyadari hati-Nya yang penuh kasih serta pemeliharaan-Nya yang sempurna. 

Dalam kebingungan, kekelaman, dan ujian hidup yang kita alami, kita mempelajari kebenaran tentang diri kita dan tentang Allah. Kita mungkin akan mengetahui bahwa ujian yang kita alami membawa kita semakin percaya kepada-Nya. —Winn Collier

WAWASAN
Kejadian 22:1, 15-18 jelas menyatakan bahwa Allah menguji Abraham untuk memeriksa hatinya. Meski Allah dapat menguji iman dan kepatuhan kita (Yakobus 1:2-4), Dia tidak pernah mencobai agar supaya kita melakukan kesalahan (ay. 13). Penulis Ibrani memuji iman kuat dari kepala keluarga itu: “Abraham yakin bahwa Allah sanggup menghidupkan kembali Ishak dari kematian–jadi, boleh dikatakan, Abraham sudah menerima kembali Ishak dari kematian” (Ibrani 11:19 BIS). Rasul Yakobus berkata bahwa “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah … oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:21-22). —K.T. Sim

Ujian

Pernahkah kamu diuji oleh Allah? Bagaimana rasanya menjalani pengalaman itu, dan pelajaran apa yang kamu petik darinya?

Ya Allah, aku tidak tahu apakah yang kualami saat ini merupakan ujian dari-Mu atau bukan, tetapi apa pun itu, aku ingin mempercayai-Mu. Kuserahkan masa depanku kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6–8; 1 Timotius 5

Bagikan Konten Ini
40 replies
  1. Ape Silitonga
    Ape Silitonga says:

    Dalam beberapa waktu saya mwgalami bwgitu pelik hati ini. saya kecewa dengan keluarga dr saya dan suami saya. Tapi ayat ini mengingatkan saya betapa luar biasa penyertaan Tuhan dlm hidup saya. kiranya Kasih PenywrtaanMu Tuhan menyertai kehidupan keluargaku sehingga ku selalu bersyukur kepdaMu

  2. patari newar
    patari newar says:

    terkadang memang setiap ujian diberikan agar kita tahu kemana kita harus berserah..dan selanjutnya kita akan merasakan penyertaanNya dengan melewati ujian/pencobaan yang kita alami..Amin

    1 Korintus 10:13 (TB) Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

  3. Edward
    Edward says:

    Pertanyaan,nengapa Tuhan sampai menguji Abraham utk mau membunuh Ishak,pdhal Tuhan kan tau walupun Abraham tdk di uji,mhn jwban.tks Syalom

  4. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami ke dalam TanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  5. Sindhu
    Sindhu says:

    aku tertarik kalimat, “Ku ketahui sekarang bahwa engkau takut akan Tuhan. ”
    aku rasa ini yg ingin Tuhan katakan pada qta, adakah rasa takut akan Tuhan?

  6. Arisman Hulu
    Arisman Hulu says:

    Ya Allah, aku tidak tahu apakah yang kualami saat ini merupakan ujian dari-Mu atau bukan, tetapi apa pun itu, aku ingin mempercayai-Mu. Kuserahkan masa depanku kepada-Mu. Amin 🙏🏻💙

  7. Kristian pradipa
    Kristian pradipa says:

    Saya Yakin saya pasti bisa melewati smua pencobaan dan ujian hidup ini dan keluar sebagai pemenang

  8. Grace Imanuell
    Grace Imanuell says:

    pernah, rasanya jujur menyakitkan diawal, tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar kalau semua itu untuk kebaikanku dan akupun jadi semakin dekat dengan Tuhan. bersyukur sih

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *