Kata-kata yang Kekal

Rabu, 13 Oktober 2021

Baca: Yeremia 36:27-32

36:27 Sesudah raja membakar gulungan berisi perkataan-perkataan yang dituliskan oleh Barukh langsung dari mulut Yeremia itu, maka datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

36:28 “Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda.

36:29 Mengenai Yoyakim, raja Yehuda, haruslah kaukatakan: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membakar gulungan ini dengan berkata: Mengapakah engkau menulis di dalamnya, bahwa raja Babel pasti akan datang untuk memusnahkan negeri ini dan untuk melenyapkan dari dalamnya manusia dan hewan?

36:30 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim, raja Yehuda: Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam.

36:31 Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka; Aku akan mendatangkan atas mereka, atas segala penduduk Yerusalem dan atas orang Yehuda segenap malapetaka yang Kuancamkan kepada mereka, yang mereka tidak mau mendengarnya.”

36:32 Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.

 

Datanglah firman ini dari Tuhan kepada Yeremia. —Yeremia 36:1

Di awal abad ke-19, Thomas Carlyle memberikan sebuah naskah kepada filsuf John Stuart Mill untuk ditinjau olehnya. Entah bagaimana, sengaja atau tidak, naskah itu terlempar ke dalam api. Padahal, itulah satu-satunya salinan yang dibuat Carlyle. Dengan gigih, ia menulis ulang teks yang terhilang tadi. Api tidak dapat memusnahkan kisah yang tetap tersimpan utuh dalam benaknya. Dari kehilangan yang luar biasa itu, Carlyle justru menghasilkan karya monumentalnya, The French Revolution (Revolusi Prancis).

Pada hari-hari menjelang runtuhnya kerajaan Yehuda, Allah memerintahkan Nabi Yeremia, “Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu” (Yer. 36:2). Pesan tersebut mengungkapkan kelembutan hati Allah, yang memanggil umat-Nya untuk bertobat agar terhindar dari serbuan yang segera tiba (ay.3).

Yeremia melakukan persis seperti yang diperintahkan Allah. Gulungan kitab yang ditulisnya itu kemudian sampai ke tangan raja Yehuda, Yoyakim, yang langsung mengoyak-ngoyak dan melemparkannya ke dalam api (ay.23-25). Tindakan pembakaran oleh raja itu justru memperburuk keadaan. Allah menyuruh Yeremia menulis sebuah gulungan lain dengan pesan yang sama. Dia berkata, “[Yoyakim] tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam” (ay.30).

Mencoba menyingkirkan firman Allah dengan membakar kitabnya memang bisa dilakukan. Namun, tindakan itu sia-sia sama sekali. Firman Allah yang hidup di balik kata-kata itu kekal selamanya. —TIM GUSTAFSON

WAWASAN
Penolakan Raja Yoyakim terhadap firman Allah yang ditunjukkan melalui ulah gegabahnya membakar gulungan-gulungan kitab Yeremia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Nabi Yeremia telah memicu kemarahan di tanah yang tadinya dipercayakan kepada bangsa yang terdiri dari budak yang dibebaskan. Sejak zaman Musa, ada hukum manusiawi di Israel yang menuntut budak Ibrani dimerdekakan setelah tujuh tahun (Keluaran 21:2). Namun hukum tersebut telah lama diabaikan oleh para pemilik tanah yang kaya, yang sudah terbiasa hidup dengan menundukkan orang-orang yang ditangkap kembali dan ditindas (Yeremia 34:8-17). Hak istimewa yang mereka miliki membuat mereka mudah mengabaikan nabi yang menyusahkan, yang menyatakan bahwa ia menyampaikan firman Allah orang Israel (37:1-2). Menurut Yeremia, serbuan Babel yang akan terjadi adalah tindakan perbaikan yang tidak dapat dihindari. Namun, bahkan Yeremia pun tidak dapat menduga, bahwa tindakan keji berupa pembakaran gulungan-gulungan kitab merupakan pendahuluan dari perbuatan lain yang lebih mengerikan—penolakan secara harfiah dan penyaliban Yesus, Firman Allah yang hidup. —Mart DeHaan

Kata-kata yang Kekal
 

Apa yang pernah menyebabkan kamu atau orang lain yang kamu kenal mengabaikan firman Allah? Mengapa penting bagi kamu untuk tunduk dan patuh mengikuti apa yang diperintahkan-Nya?

Ya Bapa, tolonglah aku menyimpan firman-Mu di dalam hatiku, sekalipun pesannya sulit untuk kuterima. Berikanlah aku hati yang tidak membangkang, melainkan rela untuk bertobat.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 41–42; 1 Tesalonika 1

Bagikan Konten ini
45 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau Limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami ke dalam Tangan Mu saja ya Tuhan, biarlah KehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *