Demi Orang Lain

Minggu, 10 Oktober 2021

Baca: Roma 14:13-21

14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

14:14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.

14:15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.

14:16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.

14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

14:20 Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!

14:21 Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.

Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! —Roma 14:20

Selama pandemi COVID-19, banyak warga Singapura tinggal di rumah untuk menghindari penularan. Namun, dengan santainya, saya tetap berenang, karena meyakini bahwa itu akan aman-aman saja. 

Namun, istri saya khawatir bahwa saya dapat terinfeksi di kolam renang umum dan menularkannya kepada ibu mertua saya yang sudah lanjut usia—yang lebih rentan terhadap virus seperti lansia pada umumnya. “Bisakah kamu tidak berenang dahulu untuk sementara, demi aku?” ia memohon.

Awalnya, saya ingin membantah dan menyatakan bahwa risiko penularannya kecil, tetapi saya menyadari ada hal lain yang lebih penting, yakni menjaga perasaannya. Mengapa saya bersikeras untuk tetap berenang—sesuatu yang tidak mendesak—dan membuat istri saya khawatir berlebihan?

Dalam Roma 14, Paulus membahas masalah-masalah seperti apakah orang percaya boleh makan makanan tertentu atau ikut merayakan hari raya tertentu. Ia khawatir beberapa orang memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.

Paulus mengingatkan jemaat di Roma, dan juga kita, bahwa sesama orang percaya dapat berbeda dalam memandang dan memaknai situasi-situasi yang ada. Beragamnya latar belakang yang kita miliki tentu mempengaruhi cara kita bersikap dan berperilaku. Paulus menulis, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (ay.13).

Anugerah Allah memberi kita kebebasan yang luas, sekaligus menolong kita untuk menyatakan kasih-Nya kepada saudara-saudari seiman. Kita dapat memakai kebebasan itu untuk mendahulukan kebutuhan rohani orang lain di atas keyakinan kita sendiri tentang berbagai aturan dan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran pokok Kitab Suci (ay.20). —LESLIE KOH

WAWASAN
Kunci untuk memahami perikop hari ini (Roma 14:13-21) adalah pernyataan Paulus dalam ayat 1: “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.” Apa yang dimaksudkan dengan lemah iman? Dalam konteks ini, Paulus membicarakan para pengikut Kristus yang hati nuraninya membuat mereka tetap mengikuti hukum Yahudi yang menyangkut makan makanan tertentu. Seorang Kristen “yang kuat” (15:1) paham bahwa sebagai orang yang percaya kepada Kristus, diselamatkan oleh kasih karunia, ia tidak terikat kepada hukum Taurat. Memaksa orang lain mengikuti patokan mereka dalam hal perbedaan “pendapat” berarti menghakimi dengan salah arah. Kita tidak boleh memaksa orang lain menyerahkan kebebasan mereka berdasarkan keyakinan pribadi kita. —Tim Gustafson

Demi Orang Lain

Apa saja kebiasaan dan aturan yang masih kamu pertahankan sebagai orang percaya? Bagaimana hal tersebut mungkin mempengaruhi saudara seiman yang berbeda pandangan?

Ya Tuhan, berilah aku kerelaan untuk tidak memaksakan hal-hal yang sebenarnya tidak bertentangan dengan firman-Mu, dan kasih untuk mendahulukan perasaan orang lain daripada perasaanku sendiri. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34–36; Kolose 2

Bagikan Konten Ini
27 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dari segala macam penyakit, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit dan beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerah kan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah NamaMu kekal selamanya, amin

  2. rico art
    rico art says:

    Bapa kami yang disorga
    di kuduskanlah NamaMu
    datang lah kerajaanMu
    dibumi seperti disorga,
    berilah kami makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami , seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat, karena Engkaulah yang empunya kerajaan Sorga dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya,
    amin

  3. Sindhu
    Sindhu says:

    Jd makanan halal haram itu ndak ada ya. bukankah apa yg di tulis di hukum taurat itu perintah Tuhan sendiri. dan penegasan2 sesudahnya ttg hukum taurat yg bgt penting dan sakral itu.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *