Semua Hal

Jumat, 24 September 2021

Semua Hal

Baca: Filipi 4:1-9

4:1 Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Saudara-saudara, semua yang . . . disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. —Filipi 4:8

Semua Hal

Setiap Jumat malam, warta berita nasional yang ditonton oleh keluarga saya selalu mengakhiri siarannya dengan mengangkat kisah yang menginspirasi. Liputan penutup itu terasa bagaikan angin segar karena sangat berbeda dengan berita-berita sebelumnya yang bernada suram. Program tersebut baru-baru ini bercerita tentang seorang wartawan yang sempat terinfeksi virus COVID-19 lalu sembuh total. Ia memutuskan untuk menyumbangkan plasma darahnya agar dapat menolong orang lain yang sedang berjuang melawan virus tersebut. Waktu itu, para ahli masih memperdebatkan seberapa efektifnya antibodi seseorang dalam melawan virus. Namun, di saat banyak orang merasa tidak berdaya, bahkan ragu-ragu untuk pergi mendonorkan plasma darah mereka, si wartawan justru merasa hal tersebut sebagai “harga yang layak dibayar demi hasil yang bisa diperoleh.”

Setelah menonton tayangan itu, kami sekeluarga merasa dikuatkan—bahkan hati kami dipenuhi pengharapan. Itulah kekuatan dari “semua hal” yang diterangkan Paulus dalam Filipi 4: “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (ay.8). Apakah Paulus berpikir tentang donor plasma? Tentu saja tidak. Namun, apakah yang ada dalam benaknya adalah pengorbanan yang dilakukan demi orang lain yang membutuhkan—dengan kata lain, perbuatan yang meneladani Kristus? Saya yakin jawabannya adalah ya.

Akan tetapi, berita yang menimbulkan pengharapan itu tidak akan terlalu berpengaruh seandainya tidak disiarkan. Kita mempunyai hak istimewa sebagai saksi yang telah mengalami kebaikan Allah untuk melihat dan mendengarkan “semua hal” tadi di sekitar kita, supaya kemudian kita membagikan kabar baik tersebut kepada orang lain yang membutuhkan penguatan. —JOHN BLASE

WAWASAN
Sukacita adalah tema yang muncul berulang-ulang dalam kitab Filipi (1:4,25; 2:2,29; 4:1). “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” kata Paulus. “Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (4:4). Ia berdoa dengan penuh sukacita bagi saudara-saudari seimannya yang terkasih, bersukacita karena pertumbuhan iman mereka, keteguhan dan kesatuan mereka dalam Yesus di tengah penganiayaan (1:27–2:2), dan persekutuan mereka yang setia di dalam pekerjaan Injil (1:5,18). Sebagai penutup suratnya, Paulus menyadari perhatian mereka yang besar terhadapnya (4:10,14-18), dengan menyebut jemaat sebagai “sukacita[-nya] dan mahkota[-nya]” (ay.1). Ia mendorong mereka untuk tetap bersukacita sekalipun dalam situasi tidak enak dan sulit, karena sukacita dalam Kristus mengatasi segala situasi (Paulus sendiri sedang dipenjara saat menulis surat ini, 1:14). Ia menegaskan bahwa kalaupun dibunuh karena menyebarkan Injil, ia akan bersukacita, dan ia memerintahkan orang percaya di Filipi untuk bersukacita juga (2:17-18). —K.T. Sim

Adakah kesaksian tentang kebaikan yang menguatkan kamu baru-baru ini? Siapa yang mungkin perlu atau ingin mendengar kesaksian kamu saat ini?

Ya Bapa, aku tahu bahwa Engkau ada di balik semua yang baik dan terpuji. Aku sungguh mengasihi-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4–5; Galatia 3

Bagikan Konten ini
0 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *