Bagaikan Simfoni

Jumat, 10 September 2021

Bagaikan Simfoni

Baca: Filipi 2:1-11

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. —Filipi 2:2

Bagaikan Simfoni

Saya pernah memberi kejutan kepada istri saya dengan membelikannya tiket konser seorang penyanyi yang sudah lama ingin ia tonton. Dengan diiringi oleh Colorado Symphony Orchestra, sang biduan tampil di Red Rocks—sebuah amfiteater terbuka yang dibangun di antara dua formasi batu setinggi 90 meter pada ketinggian lebih dari 1.800 meter di atas permukaan laut. Orkestra tersebut memainkan sejumlah lagu klasik dan lagu rakyat favorit. Sebagai penutup, mereka membawakan pujian klasik “Amazing Grace” dengan gaya baru. Aransemennya yang indah dan harmonis membuat kami terpesona!

Keharmonisan memang indah—alat-alat musik yang berdiri sendiri dimainkan bersama sedemikian rupa sehingga menghasilkan keindahan irama yang saling berpadu dan melengkapi. Rasul Paulus menekankan indahnya harmoni ketika ia mendorong jemaat Filipi agar “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (flp. 2:2). Ia tidak meminta mereka menjadi identik, melainkan untuk meneladani sikap Yesus yang rendah hati dan kasih-Nya yang rela berkorban. Seperti yang Paulus ketahui dan ajarkan, Injil tidak menghilangkan perbedaan kita masing-masing, tetapi dapat meleburkan perpecahan di antara kita.

Menarik pula bahwa para ahli meyakini kata-kata Paulus (ay.6-11) merupakan pendahuluan dari sebuah pujian yang biasa dinyanyikan di antara jemaat mula-mula. Intinya: Ketika kita mengizinkan Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan dan konteks kita masing-masing, untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Yesus, kita bersama menjadi sebuah simfoni indah yang mengumandangkan kasih Kristus yang penuh kerendahan hati. —Glenn Packiam

WAWASAN
Ketika Paulus meminta pembaca di Filipi untuk memperhatikan kerendahan hati Yesus (Filipi 2:5-8), ia menggunakan kata-kata yang menggambarkan sikap seseorang yang rela dianggap sebagai hamba. Lebih penting dari itu, ia ingin mereka mengingat bahwa siapa saja yang hidup dengan semangat Yesus itu melakukannya dengan menyadari Dialah yang pertama-tama telah merendahkan diri-Nya bagi kita. Itu bukan pemikiran baru. Jauh sebelumnya, Nabi Yesaya menyebutkan “Hamba” yang misterius itu dihina dan dihindari orang, penuh kesengsaraan dan biasa menderita. Sebelum menyinggung kehormatan dan kemuliaan sejati dari pribadi tersebut, sang nabi menyebutnya tidak akan dianggap orang, sehingga tidak ada yang mau memandangnya (Yesaya 53:3). Sekarang, mereka yang merendahkan diri demi kebaikan orang lain dengan semangat yang dimiliki Yesus sesungguhnya mengungkapkan kerendahan hati Juruselamat kita yang “pada dasarnya . . . sama dengan Allah” (Filipi 2:6 BIS). —Mart DeHaan

Siapakah yang dapat kamu semangati hari ini? Bagaimana kamu dapat mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kamu sendiri, seperti yang telah Yesus lakukan bagi kita?  

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah menyelamatkanku. Kiranya Roh-Mu terus mengubahku menjadi serupa dengan-Mu. Tolonglah aku memiliki kerendahan hati dan kasih yang rela berkorban seperti diri-Mu. Kiranya sikap dan perbuatanku mempererat hubunganku dengan saudara-saudari seimanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8–9; 2 Korintus 3

Bagikan Konten Ini
44 replies
  1. renato aja
    renato aja says:

    Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah menyelamatkanku. Kiranya Roh-Mu terus mengubahku menjadi serupa dengan-Mu. Tolonglah aku memiliki kerendahan hati dan kasih yang rela berkorban seperti diri-Mu. Kiranya sikap dan perbuatanku mempererat hubunganku dengan saudara-saudari seimanku.

  2. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, dan beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam TanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah NamaMu kekal selamanya, amin

  3. Noviana Rosaria Da Silva
    Noviana Rosaria Da Silva says:

    Shalom.
    Ya Tuhan trimakasih atas penyertaaan-Mu saat ini. Tuhan mngkin kemarin kami sekeluarga mendapt suatu kbr yg buruk dri slh satu keluarga kmi ya telah Engkau panggil ya Tuhan, sekiranya ya Tuhan biarlah kmi sekeluarga saling menguatkan dan saling menghibur satu sama lain. Brilah kami ya Tuhan kesanggupan untk bisa meneladani kerendahan hati-Mu setiap saat dan setiap waktu. Amin🙏😇

  4. Feodora Judith
    Feodora Judith says:

    Kiranya Roh-Mu terus mengubahku menjadi serupa dengan-Mu. Tolonglah aku memiliki kerendahan hati dan kasih yang rela berkorban seperti diri-Mu. Kiranya sikap dan perbuatanku mempererat hubunganku dengan saudara-saudari seimanku.

  5. fronita saputra
    fronita saputra says:

    Kerendahan hati dibutuhkan untuk menjadi bisa mendahulukan orang lain dari diri sendiri. susaaah. tapi mesti usaha. semangaat

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *