Mengasihi Musuh

Senin, 23 Agustus 2021

Mengasihi Musuh

Baca: Kisah Para Rasul 1:1-8

1:1 Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus,

1:2 sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.

1:3 Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

1:4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang* — demikian kata-Nya — /”telah kamu dengar dari pada-Ku.

1:5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.”

1:6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

1:7 Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.

1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. —Kisah Para

Mengasihi Musuh

Saya buru-buru menyelinap masuk sebelum ia melihat saya. Saya merasa malu karena bersembunyi, tetapi saya tidak ingin berurusan dengannya saat itu—atau kapan pun. Saya ingin sekali memarahinya, atau menegurnya supaya ia sadar. Walaupun saya pernah dibuat kesal oleh perbuatannya di masa lalu, sepertinya sekarang saya justru membuatnya semakin jengkel!

Bangsa Yahudi dan bangsa Samaria juga merasa jengkel terhadap satu sama lain. Karena orang Samaria berdarah campuran dan menyembah dewa-dewanya sendiri, di mata orang Yahudi mereka telah merusak garis keturunan dan iman orang Yahudi, dengan mendirikan agama saingan di Gunung Gerizim (Yoh. 4:20). Begitu bencinya orang Yahudi kepada orang Samaria hingga mereka rela menempuh rute lebih jauh dengan mengitari daripada melintasi wilayah mereka.

Yesus menunjukkan pilihan yang lebih baik. Dia datang membawa keselamatan bagi semua orang, termasuk orang Samaria. Jadi, Dia berani melangkah masuk ke wilayah Samaria untuk membawa air hidup bagi seorang perempuan berdosa dan kota kediamannya (ay.4-42). Kata-kata terakhir yang diberikan-Nya kepada para murid adalah perintah supaya mereka mengikuti teladan-Nya. Mereka harus memberitakan kabar baik tentang Dia kepada siapa saja, mulai dari Yerusalem, lalu menyebar melalui Samaria, hingga sampai ke “ujung bumi” (Kis. 1:8). Samaria di sini bukan sekadar soal urutan penjangkauan. Samaria mewakili bagian yang paling menyakitkan dalam misi mereka. Para murid harus menanggalkan prasangka buruk yang sudah mereka miliki seumur hidup guna mengasihi orang-orang yang tidak mereka sukai.

Apakah Yesus lebih penting bagi kita daripada kejengkelan kita terhadap orang lain? Hanya ada satu cara untuk memastikannya. Kasihilah “Orang Samaria” di sekitar kamu. —MIKE WITTMER

WAWASAN
Setelah menaklukkan Kerajaan Israel di utara, bangsa Asyur menerapkan kebijakan asimilasi ras. Mereka membawa orang-orang Yahudi ke Asyur dan meembawa suku-suku bangsa lain untuk mendiami Samaria dan menikahi orang-orang Yahudi yang masih ada di sana. Kelompok baru ini disebut bangsa Samaria, dan akhirnya mereka membangun agama mereka sendiri, sebuah paduan antara agama Yahudi dan penyembahan berhala (2 Raja-Raja 17:22-41) dengan kuil penyembahan di Bukit Gerizim (lihat Yohanes 4:20-23). Perbuatan mereka menciptakan permusuhan mendalam antara bangsa Yahudi dan Samaria (Ezra 4:1-3; Lukas 9:51-55; Yohanes 4:9). Pada awal pelayanan Yesus, ketika menjangkau orang Yahudi menjadi prioritas-Nya, Dia berkata kepada murid-murid-Nya untuk tidak pergi kepada bangsa lain atau ke kota-kota Samaria (Matius 10:5-6). Namun, sebelum Dia naik ke surga, Yesus secara khusus memerintahkan murid-murid-Nya untuk “menjadi saksi-[Nya] di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). —K.T. Sim

Bagaimana kamu dapat mulai menunjukkan kasih kepada orang-orang yang kurang kamu sukai? Pernahkah kamu mengasihi orang seperti itu sampai mereka menunjukkan perubahan karakter?

Ya Bapa, kiranya gelombang kasih-Mu melanda diriku, supaya pancarannya juga mengalir kepada orang lain melalui aku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 113–115; 1 Korintus 6

Bagikan Konten Ini
58 replies
Newer Comments »
  1. Nathan Ricardo
    Nathan Ricardo says:

    wahh terimakasih warung SaTe! ini waktu yang pas banget buat direnungin dan pas dengan kejadian yang sedang saya alami👏🏻👏🏻👏🏻

  2. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  3. Melany Titaley
    Melany Titaley says:

    Amin, jasih Tuhan menjaga dan mempimpin dalam hidup saya sepanjang hari ini. 🙏

  4. Herlena Simamora
    Herlena Simamora says:

    saya mencoba untuk mengasihi musuh yg apa yg saya dapat…saya malah terus menerus disakiti…sudah saya coba berulang kali rasanya seperti org bodoh…tapi klo tdak dimaafkan akan menimbulkan akar pahit…serba salah

  5. renato aja
    renato aja says:

    Apakah Yesus lebih penting bagi kita daripada kejengkelan kita terhadap orang lain? Hanya ada satu cara untuk memastikannya. Kasihilah “Orang Samaria” di sekitar kamu.

  6. Lestari
    Lestari says:

    Pas banget baru minggu lalu niat ingin mengpuninya, mau berdamai sm diri sendiri agar dapat mengampuninya. Tapi setiap kali ada niat itu, esokan harinya pasti ada aja perlakuannya yg membuatku jengkel dan semakin tdk suka lg sehingga bknnya mengasihi mlh smkin memusuhi. Kalau sdh spt ini bagaimaa? Sdgkan awal akar permasalahannya sdh amat cukup lama sekali..

  7. Rubi
    Rubi says:

    2021 08 23 – 21:36
    CMI

    Untuk menjalankan Amanat Agung, pertama-tama kita harus mengasihi bahkan musuh kita selalu pun.

Newer Comments »

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *