Kasih yang Tak Kenal Takut

Senin, 9 Agustus 2021

Kasih yang Tak Kenal Takut

Baca: 1 Yohanes 3:1,11-18

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;

3:12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.

3:13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.

3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

3:15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. —1 Yohanes 3:14

Kasih yang Tak Kenal Takut

Ada foto-foto yang meninggalkan kesan begitu kuat dan tak terlupakan. Salah satunya adalah foto terkenal mendiang Putri Diana, yang sambil tersenyum hangat, menjabat tangan seorang pria yang tidak disebutkan namanya. Sekilas, suasana dalam foto itu terlihat biasa-biasa saja. Akan tetapi, kisah di balik foto itulah yang membuatnya luar biasa.

Pada tanggal 19 April 1987, ketika Putri Diana mengunjungi RS Middlesex di London, rakyat Inggris sedang dilanda kepanikan menghadapi epidemi AIDS. Karena tidak tahu bagaimana penyakit yang kerap menewaskan penderitanya dengan sangat cepat itu menyebar, publik terkadang memperlakukan para penderita AIDS seperti sampah masyarakat.

Jadi, sangatlah menakjubkan ketika Diana, tanpa sarung tangan dan dengan senyum tulus, menjabat tangan seorang pasien AIDS dengan tenang hari itu. Gambaran sikap hormat dan kebaikan itu kemudian menggerakkan dunia untuk memperlakukan para penderita AIDS dengan kebaikan dan belas kasih serupa.

Foto tersebut mengingatkan saya kepada sesuatu yang sering saya lupakan: alangkah berartinya meneruskan kasih Yesus kepada orang lain secara tulus dan murah hati. Yohanes mengingatkan jemaat mula-mula bahwa membiarkan kasih padam atau menyembunyikannya karena takut sesungguhnya menunjukkan bahwa kita “tetap di dalam maut” (1Yoh. 3:14). Sebaliknya, mengasihi dengan leluasa tanpa rasa takut, dengan dipenuhi dan dimampukan oleh kasih Roh Kudus yang rela memberi diri, berarti mengalami hidup baru dengan segala kepenuhannya (ay.14,16). —MONICA LA ROSE

WAWASAN
Perkataan-perkataan Yohanes di dalam suratnya menunjukkan kesadaran seorang anggota keluarga yang telah berumur lanjut yang menginginkan saudara-saudari, anak-anak, dan cucu-cucunya untuk mengalami juga kepenuhan sukacita dan kasih Kristus yang dimilikinya (1 Yohanes 1:4; 2:5). Pada usia mudanya, ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri Sang “Firman hidup” (1:1-3). Selama tiga tahun ia telah berjalan bersama, memperhatikan, dan berbincang dengan Sang Guru yang mendorong murid-murid-Nya untuk hidup di dalam Dia-bagaikan ranting pohon anggur yang mendapatkan hidup dan menghasilkan buah dari pokoknya (2:6; Yohanes 15:5). Jadi sekarang, meskipun Yohanes menyadari tidak ada orang yang dapat menyebut diri mereka memiliki kesempurnaan yang dilihatnya pada diri Kristus (1 Yohanes 1:8-10), ia rindu setiap anggota keluarganya mengalami hidup seutuhnya dan tidak kembali lagi kepada kebimbangan dari hidup yang penuh kematian dan kegelapan tanpa kasih. —Mart DeHaan

Kapan kamu pernah merasakan rasa takut yang memadamkan kasih kamu kepada orang lain? Bagaimana kamu dapat bertumbuh dalam mengalami dan membagikan kasih Roh yang tak terbatas di tempat-tempat yang menakutkan tersebut?

Ya Allah, Engkaulah kasih, dan hidup dalam kasih berarti hidup di dalam Engkau. Aku rindu hidup dengan kasih yang tak kenal takut dan berkemenangan. Penuhi aku dengan Roh dan kasih-Mu, sampai rasa takutku lenyap dan kasih-Mu mengalir bebas melalui diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77–78; Roma 10

Facebooktwitterreddit

49 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit Akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya ,amin

  2. Tety Vera hayati br.ginting
    Tety Vera hayati br.ginting says:

    amin 🙏🏻
    Tuhan Yesus selalu memberkati semua kita untuk menyatakan kuasa-Nya,di dalam kita jadi kita harus tetap semangat untuk menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kuasa dan kasih-Nya ke sekeling kita dan dunia ini untuk selalu bersyukur untuk Tuhan yang baik .😇💪🏻🙏🏻

  3. Intan Nirwana Adventri Situmorang
    Intan Nirwana Adventri Situmorang says:

    “Mampukan kami Tuhan untuk mengasihi sesama kami Tanpa Membeda-bedakan nya”
    AMIN💐

  4. Rubi
    Rubi says:

    2021 08 09 (10) 5:09
    CMI

    Kasih yang berasal dari Tuhan adalah kasih sejati yang tulus tanpa mengenal ketakutan

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *