3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Beberapa pekan lalu, jagat Twitter diramaikan oleh kicauan seorang figur publik yang menyatakan bahwa seorang SJW (Social Justice Warrior atau Pejuang Keadilan Sosial) adalah “tipe orang di kelas yang saat ulangan mengumpulkan jawabannya duluan agar tidak ditanya-tanya (dicontek) oleh temannya, melaporkan ke guru apabila ada teman yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di kelas, atau mengingatkan guru tentang ulangan atau kuis.”

Kicauan ini pun direspons hangat oleh banyak orang, baik yang mendukung atau menentang.

Sebenarnya, apa sih SJW itu? Oxford Dictionaries memberikan definisi SJW sebagai “a person who expresses or promotes socially progressive views”. Meski definisi dan tujuan SJW ini baik, istilah ini kemudian mengalami makna peyoratif. Istilah yang tadinya dipandang positif menjadi sangat negatif sekitar tahun 2011 ketika dilontarkan sebagai celaan untuk pertama kalinya di Twitter.

Tulisanku ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kontroversi itu, tetapi melalui topik ini aku ingin mengajakmu untuk melihat bahwa memperjuangkan keadilan sejatinya adalah tugas kita sebagai orang Kristen. Mengapa?

Menurutku, setidaknya ada tiga alasan:

Pertama, keadilan adalah sifat Allah dan Allah menghendaki keadilan ditegakan di dunia.

“Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya” (Mazmur 99:4).

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24).

Dalam beberapa kitab di dalam Alkitab, Allah melalui perantaraan para nabi secara tegas menyatakan ketidaksukaannya kepada ibadah umat yang tidak disertai perbuatan baik dan kebajikan kepada orang-orang miskin dan tertindas. Misalnya melalui Nabi Yesaya, Allah menyatakan bahwa Ia jijik dengan persembahan umat dan tidak menyukai perayaan dilakukan bangsa Israel. Allah kemudian berfirman:

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:16-17)

Keadilan adalah sifat Allah, dan oleh karena itu Ia menghendaki agar kita umat-Nya hidup dalam keadilan dan senantiasa berbuat adil. Sebagai umat Allah, sudah sepatutnya kita ikut terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan melawan penindasan di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Kedua
, orang Kristen adalah terang dan garam dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13).

Pada zaman dahulu, ketika bahan pengawet buatan belum ditemukan, garam adalah bahan alami untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat busuk. Itulah fungsi garam: mencegah kebusukan. Garam juga digunakan untuk memberikan rasa yang enak; dan meskipun kehadirannya dalam sebuah masakan tidak terlihat, keberadaannya bisa dirasakan.

Sebagai orang Kristen, kita hadir di tengah dunia untuk mencegah kebusukan oleh karena dosa serta memberikan pengaruh yang baik bagi lingkungan di sekitar kita, termasuk dalam memperjuangkan keadilan sosial. Perlu diingat bahwa Matius 5:13-16 bukan menyatakan bahwa “kamu harus menjadi garam dan terang dunia”, melainkan “kamu adalah garam dan terang dunia”. Artinya, orang Kristen sudah merupakan garam dan terang dunia. Menjadi orang Kristen berarti harus menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang karena “jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Terakhir, Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna untuk memperjuangkan keadilan.

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Markus 12:38-40).

Selama pelayanannya di dunia, Tuhan Yesus sendiri menjadi sosok yang kontroversial dengan tindakan dan pengajaran-Nya yang seolah-olah mengobrak-abrik tatanan kehidupan masyarakat yang pada saat itu diterima sebagai “tradisi yang harus dipatuhi”. Tuhan Yesus duduk bergaul dengan para pemungut cukai, perempuan sundal, dan orang-orang dianggap berdosa oleh masyarakat serta dikucilkan dari pergaulan. Dia melawan kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi serta menentang ketidakadilan atau praktik kejahatan yang dilakukan para pemuka agama pada saat itu. Tuhan Yesus melayani setiap orang tanpa memandang wajah serta latar belakang sosial ekonomi, serta memberikan berbagai jawaban/keputusan yang adil atas pertanyaan orang-orang (bahkan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti kisah perempuan yang kedapatan berbuat zinah dalam Yohanes 7:53-8:11). Tuhan Yesus adalah teladan yang sempurna mengenai memperjuangkan keadilan (sosial).

Bahkan Tuhan Yesus menggenapi perjuangan-Nya melawan ketidakadilan dengan menjadi korban yang sejati dari ketidakadilan kosmis ketika Ia rela mati untuk menanggung dosa kita semua di atas kayu salib.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Ketidakadilan adalah produk kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika dosa menghancurkan dan merusak relasi manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan alam ciptaan, dan dengan sesama; membuat manusia dapat bersikap tidak adil bahkan menindas sesamanya manusia.

Karya keselamatan yang Kristus bawa melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah menghancurkan dosa dan ketidakadilan sekali untuk selama-lamanya. Karya Agung ini telah memberikan kepada kita harapan bahwa meski dunia ini begitu tidak adil dengan berbagai penindasan dan kejahatan; akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja, dan Ia akan memerintah dengan penuh keadilan di langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:3-4).

Tetaplah berpengharapan dan terlibat!

Lighten our darkness, breathe on this flame
Until your justice burns brightly again
Until the nations learn of your ways
Seek your salvation and bring you their praise
God of the poor, friend of the weak
Give us compassion we pray
Melt our cold hearts, let tears fall like rain
Come, change our love from a spark to a flame

Lirik lagu God of the Poor (Beauty for Brokennes) oleh Graham Kendrick

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Papa kelelahan bukan main. Hampir seluruh waktunya habis untuk mengurusi orang-orang lain. Rasanya aku ingin marah pada dunia, kenapa ada pandemi? Kenapa papa harus jadi dokter?

Bagikan Konten Ini
2 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *