Yesus Damai Sejahtera Kita

Kamis, 29 Juli 2021

Yesus Damai Sejahtera Kita

Baca: Efesus 2:11-22

2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —

2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.

2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,

2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan. —Efesus 2:14

Yesus Damai Sejahtera Kita

Seorang biarawan bernama Telemachus menjalani hidupnya dengan damai, tetapi kematiannya di akhir abad ke-4 telah mengubah dunia. Saat mengunjungi kota Roma, Telemachus masuk ke dalam arena pertarungan gladiator yang brutal. Ia melompati tembok stadion dan mencoba menghentikan para gladiator yang berusaha saling membunuh. Namun, para penonton mengamuk dan merajam biarawan itu sampai mati. Meski demikian, Kaisar Honorius begitu tergerak oleh tindakan Telemachus hingga ia mengakhiri praktik pertarungan gladiator yang sudah berlangsung selama 500 tahun.

Ketika Paulus menyebut Yesus sebagai “damai sejahtera kita,” ia merujuk kepada berakhirnya perseteruan antara bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi (Ef. 2:14). Sebagai umat pilihan Allah, Israel dibedakan dari bangsa-bangsa lain dan menikmati sejumlah hak istimewa. Contohnya, meskipun orang bukan Yahudi boleh beribadah di Bait Allah di Yerusalem, sebuah tembok dibangun untuk membatasi mereka agar tetap di pelataran luar, dan pelanggaran terhadap hal itu akan dihukum mati. Orang Yahudi menganggap orang bukan Yahudi tidak tahir, dan kedua belah pihak saling berseteru. Namun sekarang, berkat kematian dan kebangkitan Yesus untuk semua orang, baik bangsa Yahudi maupun bangsa bukan Yahudi dapat menyembah Allah dengan bebas di dalam iman kepada-Nya (ay.18-22). TIdak ada lagi tembok pemisah. Tidak ada lagi kelompok yang lebih diistimewakan daripada yang lain. Keduanya setara di mata Allah.

Sama seperti Telemachus membawa perdamaian kepada para gladiator lewat kematiannya, demikian juga Yesus Kristus membawa damai sejahtera dan rekonsiliasi bagi semua orang yang percaya kepada-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Jadi, bila Yesus damai sejahtera kita, janganlah perbedaan memisahkan kita. Dia telah menyatukan kita oleh darah-Nya. —Con Campbell

WAWASAN
Dalam suratnya kepada umat Tuhan di Efesus, Paulus membahas hubungan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Meski topik itu muncul dalam beberapa surat Paulus di Perjanjian Baru, Efesus 2 membahas topik ini secara terang-terangan. Ia menyebut adanya perseteruan di antara kedua pihak (ay.14,16) dan apa yang dilakukan Kristus untuk melenyapkan perseteruan itu. Dalam kematian-Nya, Yesus mengesampingkan hukum Taurat dan mempersatukan kedua belah pihak dengan memberi mereka jalan yang sama menuju Bapa. Kesamaan yang kita miliki dapat mengatasi perbedaan-perbedaan kita.—J.R. Hudberg

Bagaimana cara kamu menunjukkan bahwa kamu hidup dalam damai dengan semua orang? Hal apa—ras, status, atau keistimewaan—yang menghalangi perdamaian itu? Mengapa?

Ya Allah Raja Damai, Engkau telah menyatukan kami di dalam Yesus. Tolonglah kami memahami sekaligus menghidupi kebenaran tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 49-50; Roma 1

Bagikan Konten Ini
54 replies
« Older Comments
« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *