Sukacita yang Diberikan Allah

Selasa, 27 Juli 2021

Sukacita yang Diberikan Allah

Baca: Amsal 15:13-15,30

15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

15:14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.

15:15 Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.

15:30 Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur. —Amsal 17:22

Sukacita yang Diberikan Allah

Ketika berada di tempat umum, Marcia selalu berusaha tersenyum kepada siapa saja. Itulah caranya menjangkau orang-orang yang mungkin butuh melihat wajah yang bersahabat. Umumnya, orang-orang membalasnya dengan senyuman juga. Namun, ketika keadaan mengharuskannya untuk mengenakan masker, Marcia sadar orang tidak bisa lagi melihat bibirnya, sehingga mereka juga tidak bisa lagi melihat senyumnya. Sayang sekali, pikirnya, tetapi aku tidak mau berhenti. Barangkali mereka bisa melihatku tersenyum dari sorot mataku.

Sebetulnya pemikiran tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah. Otot-otot yang menggerakkan sudut bibir dan otot-otot yang membuat mata mengerut dapat bekerja beriringan. Hal itu dinamakan senyuman Duchenne, yang disebut juga “tersenyum dengan mata.”

Amsal mengingatkan kita bahwa “wajah gembira meriangkan hati” dan “hati yang gembira adalah obat yang manjur” (15:30 BIS; 17:22). Sering kali, senyum yang ditampilkan anak-anak Allah bersumber dari sukacita ilahi yang kita miliki dalam hati. Itulah karunia Allah yang terus-menerus memenuhi hidup kita, sembari kita berusaha menyemangati orang lain yang sedang berbeban berat atau berbagi dengan seseorang yang sedang mencari jawaban atas berbagai permasalahan hidupnya. Di tengah penderitaan yang kita alami sekalipun, sukacita kita masih dapat terpancar.

Ketika hidup terasa gelap, pilihlah untuk bersukacita. Biarlah senyummu menjadi jendela harapan yang memancarkan kasih Allah dan terang kehadiran-Nya dalam hidupmu. —Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Para ahli percaya, Raja Salomo mengumpulkan sebagian besar isi kitab Amsal dan juga menulis kitab berikutnya dalam Alkitab, yaitu Pengkhotbah. Namun, kedua kitab tersebut seperti mengandung pesan-pesan yang berlawanan. Amsal berkata, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri” (15:13). Pengkhotbah menulis, “Tertawa . . . itu bodoh!” (2:2), dan “Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega” (7:3). Yang mana yang benar? Pengkhotbah ditulis dari sudut pandang menjalani hidup semasa di dunia saja; oleh karena itu, nadanya muram. Namun, Amsal tidak mengabaikan kerumitan hidup, karena Amsal juga berkata, “Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan” (14:13). Ada keseimbangan dalam kedua kitab itu. Amsal mengandung nasihat yang baik untuk menjalani hidup, dan menolong kita memilih jalan hikmat yang memelihara hidup. Kemudian, Pengkhotbah memberikan kesimpulan, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (12:13). —Tim Gustafson

Apa lagi yang diajarkan Alkitab tentang sukacita yang kita temukan dalam Allah? Bagaimana sukacita dalam hati kita dapat menolong membentuk pikiran, tubuh, dan jiwa yang sehat?

Allah yang baik, sungguh sukacita yang Engkau berikan adalah kekuatanku. Tolonglah aku untuk menjadi pembawa pesan kasih-Mu kepada sesamaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 43-45; Kisah Para Rasul 27:27-44

Bagikan Konten Ini
64 replies
« Older Comments
  1. Sandi Sianturi
    Sandi Sianturi says:

    Tuhan sangat luar biasanya, firmanNya senantiasa menjadi jawaban atas segala permasalahan kehidupan.

« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *