Prasangka dan Pengampunan

Info

Sabtu, 17 Juli 2021

Prasangka dan Pengampunan

Baca: Kisah Para Rasul 10:23-28

10:23 Ia mempersilakan mereka untuk bermalam di situ. Keesokan harinya ia bangun dan berangkat bersama-sama dengan mereka, dan beberapa saudara dari Yope menyertai dia.

10:24 Dan pada hari berikutnya sampailah mereka di Kaisarea. Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul.

10:25 Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus.

10:26 Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.”

10:27 Dan sambil bercakap-cakap dengan dia, ia masuk dan mendapati banyak orang sedang berkumpul.

10:28 Ia berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. —Kisah Para Rasul 10:34

Prasangka dan Pengampunan

Setelah mendengar khotbah tentang mengoreksi ketidakadilan, seorang jemaat gereja menghampiri gembalanya sambil menangis dan memohon pengampunan. Ia mengaku pernah menolak memilih pendeta berkulit hitam itu menjadi gembala di gereja mereka karena ia memiliki prasangka terhadap kaum kulit hitam. “Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak ingin prasangka dan sifat rasialis yang buruk ini merasuk dalam kehidupan anak-anak saya. Saya tidak memilih kamu dahulu, dan saya keliru.” Air mata dan pengakuannya disambut dengan air mata dan pengampunan dari sang pendeta. Seminggu kemudian, seluruh gereja bersukacita mendengar pria itu bersaksi tentang bagaimana Allah telah bekerja di dalam hatinya.

Rasul Petrus, seorang murid Yesus dan pemimpin utama di gereja mula-mula, juga harus dikoreksi karena pemahamannya yang salah tentang orang bukan Yahudi. Makan dan minum dengan orang bukan Yahudi (yang dianggap tidak tahir) merupakan pelanggaran terhadap norma sosial dan aturan keagamaan Yahudi. Petrus berkata, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka” (Kis. 10:28). Diperlukan campur tangan Allah yang ajaib (ay.9-23) untuk meyakinkan Petrus bahwa ia “tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (ay.28).

Melalui pemberitaan firman Allah, peneguhan Roh Kudus, dan pengalaman hidup, Allah terus bekerja dalam hati manusia untuk mengoreksi cara pandang kita yang keliru tentang orang lain. Dia akan menolong kita untuk melihat bahwa “Allah tidak membedakan orang” (ay.34). —ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Kornelius adalah seorang perwira pasukan (centurion)—kepala pasukan seratus prajurit di era Romawi kuno. Ia ditempatkan di kota maritim Kaisarea Maritima, tempat tinggal Pilatus, sang gubernur. Meski orang Yahudi membenci tentara Romawi, gambaran sosok perwira dalam Perjanjian Baru cukup positif (lihat Lukas 7:1-5; 23:47; Kisah Para Rasul 23:17-23). Dua kali Kornelius digambarkan “takut akan Allah” (Kisah Para Rasul 10:2,22). Orang yang “takut akan/kepada Allah” (13:26; 17:4) adalah istilah yang dipakai orang Yahudi untuk menyebut bangsa-bangsa lain yang menyembah Allah Israel dan mengikuti Hukum Taurat, tetapi tidak sepenuhnya pindah agama karena belum disunat atau tidak sepenuhnya mengikuti ritus agama dan tradisi Yahudi. Filipus adalah penginjil yang telah membawa Injil ke Kaisarea (8:40; 21:8), tetapi sekarang Allah memulai karya yang jauh lebih besar di antara bangsa-bangsa asing. Kornelius dan mereka yang berkumpul di rumahnya menjadi orang-orang non-Yahudi pertama yang menerima karunia Roh Kudus (10:24,44-46). Para ahli menyebut episode itu “Pentakosta Bangsa-bangsa Asing.” —K.T. Sim

Adakah pengalaman atau pribadi yang telah dipakai Allah untuk menolongmu melihat bahwa Dia tidak membeda-bedakan orang? Hal apa saja dalam hidupmu yang bisa jadi membuatmu sulit melihat bahwa Allah menerima semua orang?

Ya Allah, selidikilah hatiku dan tunjukkanlah perubahan apa yang harus terjadi dalam diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 18-19; Kisah Para Rasul 20:17-38

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

57 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!