Percaya kepada Allah Saja

Minggu, 4 Juli 2021

Percaya kepada Allah Saja

Baca: Yesaya 30:1-5,15-18

30:1 Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah,

30:2 yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusan-Ku, untuk berlindung pada Firaun dan untuk berteduh di bawah naungan Mesir.

30:3 Tetapi perlindungan Firaun akan memalukan kamu, dan perteduhan di bawah naungan Mesir akan menodai kamu.

30:4 Sebab sekalipun pembesar-pembesar Yerusalem sudah ada di Zoan, dan utusan-utusannya sudah sampai ke Hanes,

30:5 sekaliannya akan mendapat malu karena bangsa itu tidak dapat memberi faedah kepada mereka, dan tidak dapat memberi pertolongan atau faedah; melainkan hanya memalukan, bahkan mengaibkan mereka.

30:15 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,

30:16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

30:17 Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.

30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. —Yesaya 30:15

Percaya kepada Allah Saja

Pada masa awal Perang Kemerdekaan Amerika Serikat, sepasukan tentara dikirim untuk memerangi pasukan Inggris di Quebec. Dalam perjalanan ke Kanada, ketika ekspedisi itu melalui Newburyport, Massachusetts, mereka mampir ke makam penginjil terkenal bernama George Whitefield. Mereka membuka peti mati Whitefield, mengambil kerah dan manset kependetaannya, lalu menggunting-gunting kain tersebut dan membagi-bagikannya di antara para prajurit. Mereka meyakini benda-benda itu bisa menjadi jimat yang membuat ekspedisi mereka berhasil.

Kenyataannya, penyerangan mereka gagal. Namun, apa yang mereka lakukan menunjukkan kecenderungan kita sebagai manusia untuk mempercayai sesuatu yang bernilai jauh lebih rendah daripada hubungan dengan Allah—uang, kekuatan manusia, atau bahkan tradisi keagamaan—demi kesejahteraan dan keuntungan kita. Allah memperingatkan umat-Nya tentang sikap itu ketika mereka yang terancam diserang Asyur justru meminta bantuan Firaun daripada meninggalkan dosa-dosa mereka dan berpaling kepada Allah: “Beginilah firman Tuhan Allah, Yang Mahakudus, Allah Israel: ‘Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.’ Tetapi kamu enggan, kamu berkata: ‘Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,’ maka kamu akan lari dan lenyap’’ (Yes. 30:15-16).

“Ekspedisi” Yehuda itu gagal juga (persis seperti yang dikatakan Allah) dan Asyur pun menaklukkan mereka. Meski demikian, Allah juga berfirman kepada umat-Nya, “Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu.” Sekalipun kita telah mengandalkan hal-hal lain yang tidak sebanding nilainya dengan Dia, Allah tetap mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita kembali kepada-Nya. “Berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! (ay.18). —James Banks

WAWASAN
Perbandingan adalah salah satu perangkat sastra yang banyak digunakan para nabi dalam tulisan mereka. Dengan membandingkan dua tindakan atau gagasan, sifat lebih baik/lebih buruk atau baik/buruk dari keduanya menjadi semakin tajam. Untuk perbandingan ini sering digunakan kata tetapi. Dalam Yesaya 30, Nabi Yesaya menggunakan cara perbandingan ini untuk menunjukkan betapa bodohnya pilihan-pilihan bangsa Israel. Dalam ayat 1-5, bangsa Israel mengharapkan perlindungan dari persekutuannya dengan bangsa Mesir, “tetapi” (ay.3) harapan itu akan “memalukan” mereka. Dalam ayat 15-18, Allah menggambarkan jalan keselamatan, “tetapi” (ay.15) Israel memilih jalan mereka sendiri dan akhirnya jatuh kepada kehancuran (ay.16-18). —J.R. Hudberg

Adakah hal lain yang terkadang kamu andalkan selain Allah? Bagaimana kamu akan bergantung pada-Nya hari ini?

Aku percaya kepada-Mu, ya Allah. Tolonglah aku untuk selalu mengandalkan-Mu karena Engkau selalu setia!

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 28-29; Kisah Para Rasul 13:1-25

Bagikan Konten Ini
52 replies
« Older Comments
  1. Tya
    Tya says:

    Andalkan Tuhan Yesus selalu, maka Ia akan meluruskan jalanmu 😇❤️ Tuhan Yesus memberkati kita selalu amin

« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *