Penolakan yang Tegas

Senin, 19 Juli 2021

Penolakan yang Tegas

Baca: Daniel 6:11-24

6:11 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

6:12 Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.

6:13 Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

6:14 Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”

6:15 Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.

6:16 Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”

6:17 Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

6:18 Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.

6:19 Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.

6:20 Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa;

6:21 dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?”

6:22 Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu!

6:23 Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”

6:24 Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.

Tiga kali sehari [Daniel] mengucapkan doanya. —Daniel 6:14

Penolakan yang Tegas

Ketika Franz Jägerstätter direkrut oleh rezim Nazi pada masa Perang Dunia II, ia sempat menyelesaikan pelatihan dasar militer tetapi menolak mengikuti kewajiban untuk mengucapkan janji setia kepada Adolf Hitler. Pihak militer mengizinkan Franz kembali ke kampung halamannya, tetapi kemudian mereka memanggilnya kembali kepada dinas aktif. Namun, setelah melihat ideologi Nazi dari dekat dan mengetahui tentang genosida yang dilakukan rezim itu terhadap orang-orang Yahudi, Jägerstätter memutuskan bahwa kesetiaan kepada Allah membuatnya tidak akan pernah bisa berperang untuk Nazi. Ia pun ditangkap dan dihukum mati dengan meninggalkan istri dan ketiga putrinya.

Dari abad ke abad, banyak orang yang percaya kepada Yesus terancam mati karena iman mereka, tetapi mereka menolak dengan tegas saat diperintahkan untuk tidak menaati Allah. Salah satu teladan dari sikap tersebut adalah Daniel. Ketika datang perintah raja yang mengancam “setiap orang yang . . . menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada [raja]” (Dan. 6:13) akan dilemparkan ke dalam gua singa, Daniel mengabaikan keselamatan dirinya dan tetap setia kepada Allah. “Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (ay.11). Daniel memilih untuk menyembah Allah—dan hanya Allah—apa pun konsekuensi yang akan ditanggungnya.

Adakalanya pilihan kita jelas. Meskipun semua orang di sekitar kita mendesak kita untuk mengikuti saja pendapat yang umum berlaku—sekalipun reputasi atau keberadaan kita terancam—kiranya kita tidak pernah mengingkari ketaatan kita kepada Allah. Adakalanya, walaupun harus mengalami kerugian besar, yang dapat kita berikan hanyalah penolakan yang tegas. —Winn Collier

WAWASAN
Integritas dan kesetiaan Daniel mirip kehidupan dan kisah Yusuf. Kira-kira delapan ratus tahun sebelum Daniel dipilih menjadi pejabat tinggi (orang nomor dua) di Babel (Daniel 6:4), Yusuf diangkat menjadi pejabat nomor dua atas seluruh Mesir (Kejadian 41:40-41). Baik Daniel maupun Yusuf terbuang dari rumah dan keluarga mereka semasa muda dan dipaksa menjadi tawanan di negeri asing. Keduanya pun berhasil menafsirkan mimpi raja-raja yang menyembah ilah lain. Lewat pengasingan dan tahanan, keduanya diingat karena menyatakan kasih Allah, bukan saja bagi mereka yang mengenal-Nya, melainkan juga bagi mereka yang tidak mengenal-Nya. —Mart DeHaan

Kapan kamu merasa bahwa ketaatan kepada Allah menuntutmu untuk memberikan penolakan yang tegas? Kerugian apa yang diakibatkan sikap tersebut? Sebaliknya, apa yang kamu peroleh?

Ya Allah, aku tahu kesetiaanku kepada-Mu terkadang berarti aku harus menolak permintaan atau tuntutan orang lain. Mungkin ada kerugian yang harus kutanggung karena sikap itu. Berikanlah aku keberanian.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 23-25; Kisah Para Rasul 21:18-40

Bagikan Konten ini
43 replies
  1. Pamungkas Gogolek
    Pamungkas Gogolek says:

    tetap taat kepada Tuhan dan menyembahnya setiap waktu apapun yang menjadi tantangan atau halangan namun tetap berpegang kepadanya

  2. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan, serta tolong kami, sembuhkan juga orang-orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami ke dalam tangan Mu saja ya Tuhan, biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  3. Tety Vera hayati br.ginting
    Tety Vera hayati br.ginting says:

    amin😇🙏🏻.
    Tuhan Yesus tolong aku untuk setia akan perintah kamu saja untuk selalu berani dan bersyukur dengan segala yg terjadi aku yakin engkau akan mampukan aku untuk selalu bersikap untuk setia dan berani akan firman dan dan ajaran-Mu ,tetap kuasai aku untuk selalu mengandalkan Tuhan.
    amin🤗😇🙏🏻

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *