Hikmat yang Kita Butuhkan

Rabu, 7 Juli 2021

Hikmat yang Kita Butuhkan

Baca: Amsal 1:1-9

1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,

1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,

1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,

1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda–

1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–

1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

1:8 Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu

1:9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.

Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. —>Amsal 1:7

Hikmat yang Kita Butuhkan

Ellen membuka kotak posnya dan menemukan sebuah amplop tebal yang dikirim oleh teman baiknya. Baru beberapa hari sebelumnya, ia menceritakan pergumulan yang dialaminya dengan teman itu. Karena penasaran, ia membuka bungkusan tersebut dan menemukan seuntai kalung manik-manik aneka warna dari tali rami sederhana. Pada tali itu terpasang sehelai kartu yang mencantumkan slogan, “Katakan dengan Sandi Morse,” dan pesan bijak yang tersembunyi dalam manik-manik kalung itu, yang berbunyi, “Carilah Kehendak Allah.” Ellen tersenyum sembari mengenakan kalung itu di lehernya.

Kitab Amsal adalah kumpulan ungkapan bijak—banyak di antaranya ditulis oleh Salomo, pribadi yang diakui sebagai orang paling bijaksana pada masanya (1Raj. 10:23). Ketiga puluh satu pasalnya mengundang pembaca untuk mendengarkan hikmat dan menjauhi kebodohan, dimulai dengan pesan inti dari Amsal 1:7, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Hikmat, yaitu mengetahui apa yang harus dilakukan pada waktu yang tepat, diawali dengan menghormati Allah dengan mencari kehendak-kehendak-Nya. Dalam ayat-ayat pembuka kitab itu, kita membaca: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu” (ay.8-9).

Ellen dituntun temannya kepada Sumber hikmat yang dibutuhkannya: Carilah kehendak Allah. Hadiah yang diterima Ellen mengarahkan perhatiannya kepada Pribadi yang sanggup memberikan pertolongan yang dibutuhkannya.

Ketika kita menghormati Allah dan mencari kehendak-Nya, kita akan menerima hikmat yang kita butuhkan untuk segala persoalan yang kita hadapi dalam hidup ini. Ada hikmat Tuhan untuk setiap persoalan. —Elisa Morgan

WAWASAN
Dalam kitab Amsal, khususnya pasal 1–9, terdapat nasihat seorang ayah kepada putranya “untuk mengetahui hikmat dan didikan” (1:2). Unsur penting dan dasar hikmat ada di ayat 7: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.” Pentingnya “takut akan TUHAN” terlihat dari fakta bahwa frasa tersebut muncul 16 kali dalam kitab Amsal (dan perintah “Takutlah akan TUHAN” atau “takutilah TUHAN” muncul 3 kali) di dalam Alkitab Terjemahan Baru. Jadi apa maksudnya “takut akan TUHAN”? Kata Ibrani (yirah) yang diterjemahkan “takut” ini tidak berarti perasaan ngeri atau waswas terhadap Allah. Sebaliknya, kata tersebut berarti “kagum” atau “hormat”—sikap hati terhadap Sang Pencipta yang menimbulkan keinginan untuk patuh kepada-Nya. Di sinilah hikmat bermula, yakni dengan mengakui kebesaran Allah sehingga muncul kerinduan untuk menghormati-Nya. —Bill Crowder

Ke mana kamu mencari hikmat yang kamu butuhkan? Bagaimana kamu dapat menjadikan firman Allah sebagai yang utama dalam ingatanmu?

Ya Allah, ingatkan aku bahwa Engkaulah Sumber segala hikmat yang kubutuhkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 34-35; Kisah Para Rasul 15:1-21

Bagikan Konten Ini
56 replies
« Older Comments
« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *