Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Oleh Meili Ainun

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

“Nah, dia pasti menuju dapur, lalu ke ruang tamu, dan sekarang ke kamar.”

Pintu kamar terbuka dan muncullah wajah manis sahabatku sejak kecil. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Begitu masuk, Yenny langsung mengambil posisi berbaring di ranjang.

“Ada apa?” tanyaku. Pertanyaan yang kutanyakan setiap kali bertemu Yenny.

“Biasa, mau ngobrol saja.” jawab Yenny. Jawaban yang sama juga sepanjang yang aku ingat.

“OK, mulailah,” ajakku santai.

Yenny tertawa kecil, dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

“Gini, Wi. Kamu tahu kan si Adi, itu yang sekelas dengan kita di kelas Manajemen Umum. Aku baru tahu lho, ternyata dia suka traveling juga, sama seperti aku. Rencananya kelompok travel kampus akan pergi ke Bali saat liburan. Aku akan ajak Adi ikut, ah… Sekalian kenalan lebih dekat,” Yenny memulai ceritanya dengan bersemangat.

Aku mengangguk tersenyum.

“Terus…kamu tahu kan si Camalia. Bunga kampus kita. Aku baru tahu ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah kita, Wi. Bayangkan kalau kita bisa mengajak dia main juga, Wi. Asyik juga kan ya, bisa bersahabat dengan orang terkenal.”

Yenny terus bercerita mengenai adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA, kedua orang tuanya yang masih sibuk bekerja bahkan juga di akhir pekan, keinginannya untuk bekerja di perusahaan terkenal setelah lulus, dan berbagai hal lain.

“Eh..Wi. Kamu dengerin aku nggak, sih? Kok kamu diam saja?” tanya Yenny tiba-tiba.

“Aku dengerin kamu kok,” jawabku.

“Kamu bosan ya?” tanya Yenny dengan serius.

“Ngak, aku sudah terbiasa mendengarkan kamu bercerita sampai berjam-jam,” kataku sambil nyengir. “Hanya saja…”

“Apa?” tanya Yenny waspada.

“Aku lagi berpikir mengapa kamu senang ngobrol dengan aku? Padahal kan aku lebih banyak diamnya daripada menanggapi kamu,” jawabku.

“Karena itulah kita cocok. Aku bicara, kamu mendengarkan. Iya kan?” katanya sambil memelukku. “Juga karena kamu memperhatikan saat aku berbicara. Aku kesepian, selain kamu, tidak ada orang yang dapat aku ajak ngobrol seperti ini. Kadang mereka suka memotong pembicaraan, ada juga yang menghakimiku sebelum aku selesai cerita, macam-macam deh sikapnya. Jadi aku lebih senang mengobrol sama kamu.”

“Oh..gitu ya? Sebenarnya kamu tahu nggak, ada teman ngobrol yang lebih asyik daripada aku,” kataku.

“Masa? Siapa? Beneran ada? Atau kamu bosan jadi kamu bilang seperti itu?” sahut Yenny.

“Beneran ada. Aku saja ngobrol sama Dia setiap hari. Bukan hanya setiap hari, satu hari bisa beberapa kali,” terangku.

“Hah? Siapa Dia? Aku jadi ingin tahu. Kamu ngobrol dengan Dia melalui apa? Telepon? Apa Dia datang ke rumahmu? Atau apa?” Yenny terlihat penasaran dan terus mengajukan pertanyaan.

“Dengan Tuhan, Yen. Ngobrol dengan Tuhan itu ternyata asyik, lho,” jawabku bersemangat.

Yenny menatapku tidak percaya. “Masa sih?”

“Ngobrol dengan teman itu memang asyik. Tetapi dengan Tuhan lebih asyik lagi. Teman nggak bisa selalu ada buat kita. Tetapi Tuhan selalu ada. Kapan pun kita mau ngobrol dengan Dia, langsung ngobrol saja. Di mana pun, dalam situasi apa pun, Dia siap mendengarkan. Dan kamu bisa ngobrolin apa saja termasuk rahasia hatimu. Mau kamu lagi susah, lagi senang, langsung ngobrol saja. Asyik kan?” jelasku.

“Hm… itu benar. Tetapi Tuhan kan tidak bicara langsung begitu kalau kita sedang ngobrol dengan Dia. Darimana kita tahu Dia sedang mendengarkan? Terus darimana kita tahu juga jawaban Dia?” tanya Yenny mempertahankan pendapatnya.

Melihat sahabatku tertarik, aku lebih bersemangat.

“Tuhan pasti mendengar ketika kita sedang berbicara dengan Dia. Dan bukan hanya ngobrol dengan Tuhan itu asyik. Jawaban Tuhan itu tidak kalah asyiknya. Karena Dia bisa menjawab dengan berbagai cara. Nggak hanya lewat satu cara. Macam-macam caranya. Bahkan yang tidak terpikir sebelumnya.”

“Misalnya apa?” Yenny masih menatapku heran.

Baru kali ini aku berbicara serius soal Tuhan dengan Yenny. Meskipun kami bersahabat sejak kecil, tetapi aku merasa sulit berbicara mengenai imanku. Hari ini aku melihat Tuhan membuka jalan.

“Kamu ingat ngak baju hijau yang aku pakai kemarin?”

Yenny mengangguk.

“Aku sudah lama sekali menaksir baju hijau itu, Yen. Tetapi aku nggak tega mengeluarkan uang untuk beli karena harganya mahal. Ketika aku lagi ngobrol sama Tuhan, aku ingat baju hijau itu. Aku bilang aku ingin menginginkan baju hijau itu sebagai kado ulang tahunku nanti. Begitu saja. Aku tidak ingat lagi dengan baju hijau itu sampai di hari ulang tahunku. Kamu tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku mendapat hadiah dari sepupuku. Coba tebak? Iya, benar. Baju hijau itu. Luar biasa, kan? Cara Tuhan menjawab nggak terduga sama sekali. Asyik banget. Memang sih Tuhan tidak selalu mengabulkan yang kita doakan. Tetapi kalau kamu pikirkan dengan serius, Tuhan sudah menjawab. Hanya biasanya kita tidak menyadarinya.”

“Wah…luar biasa, Wi. Ternyata Tuhan bisa menjawab dengan cara seperti itu, ya?” Yenny berdecak kagum.

“Cobain deh. Beneran. Asyik banget. Kamu harus coba supaya tahu asyiknya,” kataku memberikan senyum terbaikku.

“Ok deh. Aku akan coba. Tetapi aku masih boleh kan ngobrol dengan kamu? Siapa tahu Tuhan menjawab doaku nanti lewat kamu,” goda Yenny mengedipkan mata.

“Ha…ha…ha…ha…tentu saja. Iya, siapa tahu ya?”

“Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.”

-Kidung Jemaat 453, Yesus Kawan yang Sejati-

Baca Juga:

3 Sifat Anak Kecil yang Perlu Kita Contoh

Anak kecil sering dianggap sebagai sosok yang lemah dan penuh ketergantungan. Lantas, apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari mereka?

Bagikan Konten Ini
11 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *