Merataplah!

Info

Kamis, 3 Juni 2021

Merataplah!

Baca: Ratapan 3:19-26

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya. —Ratapan 3:25

Merataplah!

Saya tersimpuh sambil menangis tersedu-sedu. “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak memelihara aku?” saya berseru. Ini terjadi ketika dunia sedang dilanda pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Sudah hampir satu bulan saya diberhentikan dari pekerjaan, dan tampaknya ada masalah dalam pengajuan saya untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Jadi, saat itu saya belum menerima uang sepeser pun, dan tunjangan yang diharapkan tidak juga cair. Jauh di lubuk hati saya, saya yakin Allah akan membereskan semuanya. Saya yakin Dia benar-benar mengasihi dan memelihara saya, tetapi pada saat itu, saya merasa terabaikan.

Kitab Ratapan mengingatkan bahwa kita boleh meratap. Kemungkinan besar kitab ini ditulis selama atau tidak lama setelah serangan pasukan Babel yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 587 sm. Di dalamnya terdapat gambaran kesengsaraan (3:1,19), penawanan (1:18) dan kelaparan besar (2:20, 4:10) yang dihadapi oleh bangsa Israel. Namun, di bagian tengah kitab tersebut, sang penulis ingat mengapa ia masih dapat berharap: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (3:22-23). Meskipun ada kehancuran di mana-mana, sang penulis ingat bahwa Allah tetap setia. 

Terkadang kita merasa sulit untuk percaya bahwa Tuhan “baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (ay.25), terutama ketika kita tidak tahu kapan penderitaan kita akan berakhir. Namun, kita dapat berseru kepada-Nya, dengan keyakinan bahwa Dia mendengar seruan kita dan setia menolong kita melewati segala kesulitan tersebut.—JULIE SCHWAB

WAWASAN
Ketika Nabi Yeremia menyebut “ipuh dan racun” (Ratapan 3:19), ipuh di sini mengacu kepada tanaman artemisia (baru cina) yang mengeluarkan rasa pahit, sementara racun yang dimaksud adalah tanaman beracun yang menyebabkan kepedihan jika termakan. Keduanya dipakai untuk melambangkan kesesakan dan penderitaan besar, yang dialami karena penghakiman Allah (Yeremia 9:15). Kesanggupan untuk berharap telah memberi Nabi Yeremia kekuatan untuk bertahan (Ratapan 3:21). Sekarang ini, kata “berharap” sering kali disamakan dengan perasaan optimis. Namun, di Perjanjian Lama, dua kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “berharap” (yakhal dan qavah) mengacu kepada penantian. Dalam Ratapan 3:21 dan 24 digunakan kata yakhal, yang dalam bagian Alkitab lain juga diterjemahkan sebagai menanti-nantikan atau menunggu. Oleh karena itu, sikap berharap—menanti-nanti dengan penuh pengharapan—bukan didasarkan pada pandangan optimistis terhadap kondisi saat ini, melainkan pada karakter dan kasih setia Allah, yang akan mendatangkan pemulihan di masa depan (lihat Mazmur 39:8). —Monica La Rose

Apa yang membuatmu sulit mempercayai Allah hari ini? Apa yang dapat menolongmu untuk berani berseru kepada-Nya?

Ya Bapa, aku membutuhkan-Mu saat ini. Tolonglah aku untuk meyakini bahwa Engkau akan menolongku menghadapi kesulitanku.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19-20; Yohanes 13:21-38

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

63 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!