Menanti dalam Pengharapan

Info

Sabtu, 5 Juni 2021

Menanti dalam Pengharapan

Baca: Roma 12:9-13

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! —Roma 12:12

Menanti dalam Pengharapan

Rogelio melayani kami di sepanjang masa liburan keluarga kami. Suatu kali ia bercerita bagaimana ia sangat bersyukur kepada Allah karena menganugerahkan seorang istri yang beriman teguh seperti Kaly. Setelah anak pertama mereka lahir, Allah memberi mereka kesempatan untuk membantu merawat keponakan mereka yang berkebutuhan khusus. Tak lama kemudian, ibu mertua Rogelio juga membutuhkan perawatan total di rumah.

Rogelio bekerja dengan gembira, bahkan sering kali harus bekerja dua shift berturut-turut agar istrinya bisa tinggal di rumah dan merawat orang-orang yang dipercayakan Allah kepada mereka. Ketika saya mengatakan kepadanya bahwa cara mereka membuka hati dan rumah mereka untuk melayani anggota-anggota keluarga mereka telah menginspirasi saya untuk lebih mengasihi sesama, Rogelio berkata, “Saya senang bisa melayani mereka . . . dan juga.”

Kehidupan Rogelio menegaskan besarnya pengaruh menjalani hidup dengan kemurahan hati dan keyakinan bahwa Allah akan menyediakan apa yang kita butuhkan ketika kita melayani satu sama lain tanpa pamrih. Rasul Paulus mendorong umat Allah: “Hendaklah kamu saling mengasihi . . . Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”. Semua itu kita lakukan dengan membantu saudara-saudari seiman yang berkekurangan dan memberikan tumpangan kepada mereka (Rm. 12:10-13).

Perubahan hidup yang terjadi tiba-tiba bisa membuat kita atau orang-orang yang kita kasihi masuk ke dalam keadaan yang dirasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Namun, ketika kita rela membagikan semua yang telah diberikan Allah kepada kita sambil menantikan Dia berkarya, bersama-sama kita dapat berpegang teguh pada kasih-Nya yang tak berkesudahan.—XOCHITL DIXON

WAWASAN
Kasih adalah pokok dari serangkaian nasihat dalam surat Paulus kepada orang percaya di Roma. Roma 12:9-21 menggambarkan secara terperinci seperti apa kasih yang tidak berpura-pura itu. Satu aspek yang terdapat dalam setiap ekspresi kasih ini adalah kasih menuntut kita untuk mendahulukan kepentingan dan kebutuhan orang lain di atas kepentingan dan kebutuhan kita sendiri. Dalam 1 Korintus 13, Paulus mengingatkan kembali sifat kasih yang rela berkorban dengan menggambarkan apa itu kasih dan apa yang bukan kasih. Kembali kita melihat aspek umum dari kasih, yaitu bahwa kasih berfokus kepada kebaikan orang lain. Yesus mengajarkan bahwa kasih terbesar adalah pengorbanan diri: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Ketika kita berkata kita mengasihi seseorang, itu berarti kita rela mendahulukan orang tersebut di atas kepentingan diri sendiri. —J.R. Hudberg

Bagaimana dapat memberi dukungan kepada seseorang yang membutuhkannya hari ini, baik berupa doa atau tindakan nyata? Bagaimana Allah telah memakai seseorang untuk memberimu dukungan yang nyata sementara menantikan-Nya?

Ya Allah, tolonglah aku agar dapat mengasihi orang lain sambil aku menantikan-Mu berkarya di dalam diriku dan melalui keadaanku.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 23-24; Yohanes 15

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

51 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!