Kuasa Allah

Info

Senin, 14 Juni 2021

Kuasa Allah

Baca: Mazmur 121

121:1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?

121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

121:3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.

121:4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.

121:5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.

121:6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.

121:7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.

121:8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. —Mazmur 121:2

Kuasa Allah

Dokter pernah memberi tahu Rebecca dan Russell bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak. Namun, Allah berkehendak lain—Rebecca pun hamil sepuluh tahun kemudian. Kehamilannya sehat; dan ketika Rebecca mulai merasakan kontraksi, keduanya bergegas pergi ke rumah sakit dengan perasaan gembira. Akan tetapi, proses persalinan yang berjalan panjang tidak kunjung mencapai puncak, dan kondisi Rebecca tidak cukup siap untuk melahirkan secara normal. Akhirnya, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar darurat. Mendengar itu, Rebecca menangis karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan bayinya. Namun, dengan tenang dokter berusaha meyakinkannya. Ia berkata, “Saya akan melakukan yang terbaik, tetapi marilah kita berdoa kepada Allah karena Dia sanggup melakukan lebih dari yang kita pikirkan.” Lalu dokter itu berdoa bersama Rebecca, dan lima belas menit kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat, yang dinamai Bruce.     

Sang dokter memahami bahwa ia harus bergantung pada Allah dan kuasa-Nya. Ia menyadari bahwa sekalipun memiliki keahlian dan keterampilan untuk melakukan operasi, ia tetap membutuhkan hikmat, kekuatan, dan pertolongan Allah untuk menuntun tangannya (Mzm. 121:1-2).

Sungguh menguatkan mendengar bagaimana orang-orang yang memiliki keahlian dan kepandaian, atau siapa pun juga, menyadari kebutuhan mereka akan Allah—karena memang kita semua membutuhkan Dia. Dia saja Allah; kita bukan. Hanya Dia “yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20). Dengan rendah hati, marilah belajar dari Dia dan mempercayai-Nya dalam doa, karena Dia sanggup melakukan lebih daripada apa pun yang dapat kita lakukan. —Anne Cetas

WAWASAN
Mazmur 121 adalah satu dari lima belas “nyanyian ziarah” yang dinyanyikan umat Israel ketika mendaki bersama ke kota tempat Bait Allah mereka berada (pasal 120–134). Tiga kali setahun, jemaat Yahudi berangkat secara berkelompok ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun (Ulangan 16:16). Kata-kata pembuka Mazmur 121 tampaknya mencerminkan perasaan gentar sekaligus harapan peziarah saat mendaki jalan setapak yang berkelok-kelok dan berbahaya, menuju puncak bukit di kota Allah. Namun, keyakinan mereka tidak terletak pada bukit dan gunung itu. Mereka meletakkan pengharapan mereka pada Allah Pencipta yang sanggup melindungi umat-Nya, dalam hidup dan mati mereka. Nyanyian mereka menggemakan perkataan Nabi Yeremia yang menulis, “Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel!” (Yeremia 3:23). —Mart DeHaan

Bagaimana menyadari kebutuhanmu sendiri akan Allah dan kuasa-Nya? Bagaimana ketergantungan kepada Allah tersebut terlihat dalam kehidupanmu sehari-hari?

Aku membutuhkan-Mu, ya Allah, juga hikmat dan kuasa-Mu dalam seluruh aspek hidupku—dalam mengambil keputusan, dalam melakukan pekerjaanku, dan dalam hubunganku dengan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 9-10; Kisah Para Rasul 1

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

62 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!