Keadilan yang Sempurna

Info

Jumat, 4 Juni 2021

Keadilan yang Sempurna

Baca: Ulangan 32:1-4

32:1 “Pasanglah telingamu, hai langit, aku mau berbicara, dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulutku.

32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

32:3 Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita,

32:4 Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.

Karena segala jalan [Allah] adil. —Ulangan 32:4

Keadilan yang Sempurna

Pada tahun 1983, tiga remaja ditangkap atas tuduhan membunuh seorang anak berusia empat belas tahun. Laporan menyebutkan bahwa korban ditembak karena “jaket [atletik] yang dikenakannya.” Ketiga tersangka itu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, setelah tiga puluh enam tahun mereka mendekam di balik jeruji besi, muncul bukti yang menyatakan bahwa mereka tidak bersalah dan orang lain sebagai pelakunya. Hakim pun menyatakan permintaan maafnya lalu membebaskan ketiga orang itu dari segala hukuman.

Seberapapun kerasnya kita mencoba bersikap adil (dan seberapapun banyaknya kebaikan yang telah diperbuat oleh para penegak hukum), sistem keadilan di dunia ini masih sering kecolongan. Kita tidak akan pernah mempunyai pengetahuan yang lengkap. Adakalanya orang yang tidak jujur memanipulasi fakta. Terkadang kita memang keliru. Tak jarang keadilan baru tegak setelah bertahun-tahun, bahkan setelah orang yang menuntutnya tutup usia. Namun, kita bersyukur karena tidak seperti manusia yang selalu berubah-ubah, Allah melaksanakan keadilan dengan sempurna. “Pekerjaan-Nya sempurna,” kata Musa, dan “segala jalan-Nya adil” (Ul. 32:4). Allah melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Pada saatnya, setelah manusia gagal total, Allah akan mewujudkan keadilan yang final dan sempurna. Meskipun tidak tahu kapan itu terjadi, kita tetap meyakininya karena kita melayani “Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia” (ay.4).

Mungkin kita merasa sangsi akan apa yang benar dan apa yang salah. Mungkin juga kita gelisah membayangkan ketidakadilan yang kita derita tidak akan pernah diluruskan. Akan tetapi, kita dapat mempercayai Allah yang adil itu untuk menegakkan keadilan yang sempurna bagi kita—entah dalam masa hidup ini atau dalam kekekalan nanti.—WINN COLLIER

WAWASAN
Sebagian besar kitab Ulangan (yang berarti “hukum kedua”) berisi ucapan perpisahan Musa kepada umat Israel. Di dalamnya terdapat pembacaan kembali hukum Taurat yang pernah disepakati bangsa itu empat puluh tahun sebelumnya di Gunung Sinai. Saat ini, Musa telah memimpin bangsa Israel sejak mereka keluar dari Mesir empat dekade sebelumnya. Namun, hampir semua orang dewasa yang hadir di Sinai sudah meninggal. Oleh karena itu, tindakan mengulangi janji itu sangat tepat. Namun, ucapan perpisahan ini bukanlah perayaan kemenangan. Tak lama lagi bangsa Israel akan memasuki tanah perjanjian, tetapi Yosua, dan bukan Musa, yang memimpin mereka. Musa dilarang masuk karena suatu kegagalan rohani yang terjadi dalam pengembaraan di padang gurun (Bilangan 20:12-13). Kitab yang diawali dengan bangsa Israel di seberang Sungai Yordan yang siap memulai kehidupan baru ini diakhiri dengan kematian Musa dan bangkitnya Yosua sebagai pemimpin. —Bill Crowder

Di mana pernah melihat ketidakadilan terjadi dan keadilan dibengkokkan? Kapan pernah berseru kepada Allah agar Dia menegakkan keadilan-Nya?

Ya Allah, meski kulihat ketidakadilan di mana-mana—lewat siaran berita, di lingkunganku, di media sosial—tetapi aku bersyukur dapat selalu berharap kepada-Mu dan jalan-jalan-Mu yang adil.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-22; Yohanes 14

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

52 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!