Diri Kita yang Sebenarnya

Info

Minggu, 6 Juni 2021

Diri Kita yang Sebenarnya

Baca: 1 Yohanes 3:1-3

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia. —1 Yohanes 3:2

Diri Kita yang Sebenarnya

Dalam album foto lama milik orangtua saya terdapat foto seorang bocah laki-laki. Wajahnya bulat dengan kulit berbintik-bintik dan rambut pirang lurus. Ia menyukai film kartun, tidak suka alpukat, dan hanya punya satu buah kaset album musik dari grup ABBA.

Album yang sama juga memuat foto seorang remaja. Wajahnya lonjong, tidak bulat; rambutnya berombak, tidak lurus. Ia memiliki wajah bersih tanpa bintik-bintik, suka sekali alpukat, lebih memilih menonton film bioskop ketimbang kartun, dan kalau ditanya, tidak akan mengaku pernah punya kaset ABBA! Bocah dan remaja lelaki itu tidak mirip. Menurut ilmu pengetahuan, keduanya mempunyai kulit, gigi, darah, dan tulang yang berbeda. Padahal kedua-duanya adalah saya sendiri. Paradoks ini telah membingungkan para filsuf di sepanjang zaman. Karena dalam hidup ini kita terus berubah, manakah diri kita yang sebenarnya?

Jawabannya diberikan oleh Kitab Suci. Sejak Allah menenun kita dalam kandungan ibu kita (Mzm. 139:13-14), kita bertumbuh sesuai dengan rancangan unik yang kita miliki. Meskipun kita tidak bisa membayangkan seperti apa keadaan kita kelak, kita tahu bahwa jika kita adalah anak-anak Allah, pada akhirnya kita akan menjadi sama seperti Yesus Kristus (1Yoh. 3:2)—tubuh kita mengenakan sifat-Nya, kepribadian kita sendiri tetapi dengan karakter-Nya, dan kita akan memancarkan kemuliaan-Nya tanpa noda dosa sama sekali.  

Sampai hari kedatangan Yesus kembali, kita terus dibentuk menjadi diri kita yang akan datang. Lewat karya-Nya, sedikit demi sedikit, kita akan mencerminkan kemuliaan-Nya dengan semakin nyata (2Kor. 3:18). Saat ini kita belum menjadi diri kita yang seharusnya, tetapi ketika dibentuk semakin serupa dengan Kristus, kita akan menjadi diri kita yang sebenarnya.—SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Apa yang menjadikan seseorang anak Allah yang sejati? Yohanes menjawab pertanyaan itu dalam 1 Yohanes 3 dan tulisannya yang lain. Dalam catatan tentang kisah hidup Yesus yang kita kenal sebagai Injil Yohanes, ia menulis: “Tetapi semua orang yang menerima [Yesus] diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, . . . melainkan dari Allah” (Yohanes 1:12-13). Dalam suratnya, Yohanes mencatat bahwa sebagai anak-anak-Nya “kita akan menjadi sama seperti [Yesus]” (1 Yohanes 3:2). Masih di pasal yang sama, Yohanes lalu menegaskan bukti utama status kita sebagai anak-anak Allah adalah bahwa kita saling mengasihi (ay.10). Aspek ini sangat penting, sehingga Yohanes berkata, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay.14). Anak-anak Allah yang sejati akan mengasihi satu sama lain. —Tim Gustafson

Banyak lagu dan film populer mendorong kita untuk mencari “diri kita yang sebenarnya”. Menurutmu, apa yang mereka maksudkan, dan apa bedanya dengan yang Alkitab katakan? Dalam aspek apa saja dapat melangkah maju untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus hari ini?

Tuhan Yesus, bentuklah aku semakin menyerupai-Mu dari hari ke hari.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27; Yohanes 16

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

40 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!