Perkataan yang Benar

Jumat, 7 Mei 2021

Perkataan yang Benar

Baca: Efesus 6:10-20

6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

Juga [doakan] aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil. —Efesus 6:19

Perkataan yang Benar

Dalam satu-dua tahun terakhir ini, sejumlah penulis mendorong orang-orang Kristen untuk meninjau kembali “kosa kata” yang dipakai dalam lingkungan iman kita. Seorang penulis, contohnya, menekankan bahwa kosa kata yang kaya makna secara teologis sekalipun dapat kehilangan dampaknya. Karena telah terbiasa dan terlalu sering digunakan, kata-kata tersebut tidak lagi membuat kita mengagumi kedalaman Injil dan kebutuhan kita akan Allah. Ketika itu terjadi, si penulis menyarankan, mungkin kita perlu mempelajari ulang bahasa iman kita “dari nol”, dengan melepaskan asumsi yang ada sampai kita dapat melihat kembali keindahan Injil untuk pertama kalinya.

Ajakan untuk belajar “berbicara tentang Allah dari nol” mengingatkan saya akan Paulus, yang mengabdikan hidupnya “bagi semua orang [dengan] menjadi segala-galanya . . . karena Injil” (1Kor. 9:22-23). Ia tidak pernah menganggap dirinya selalu tahu cara yang terbaik untuk menyampaikan kisah tentang karya Kristus. Paulus justru terus-menerus mengandalkan doa dan memohon kepada saudara-saudari seiman untuk ikut mendoakannya—agar ia menggunakan “perkataan yang benar” (Ef. 6:19) untuk menyampaikan kabar baik dari Allah.

Sang rasul juga memahami perlunya setiap orang percaya untuk tetap rendah hati dan selalu peka akan kebutuhan mereka untuk semakin berakar di dalam kasih Kristus (3:16-17). Hanya dengan berakar semakin kuat di dalam kasih Allah, yaitu menyadari ketergantungan kita dari hari ke hari pada anugerah-Nya, kita dapat menemukan dan menggunakan perkataan yang benar untuk membagikan kabar luar biasa tentang karya-Nya bagi kita.—Monica La Rose

WAWASAN
Meski menulis dari penjara, Paulus mengabaikan penderitaan fisiknya. Ia malah memperingatkan kita akan sifat rohani dari peperangan yang kita hadapi: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan . . . penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12). Senjata untuk menghadapi peperangan ini bersifat defensif (ay.14-17), dengan satu pengecualian: “pedang Roh, yaitu firman Allah” (ay.17). Peperangan kita yang sesungguhnya bersifat rohani, dan Roh Kudus berperan sangat penting dalam perjuangan ini. Oleh karena itu, kita harus berdoa “setiap waktu di dalam Roh” (ay.18). —Tim Gustafson

Pernahkah kamu mengalami kembali Injil dengan cara yang baru untuk pertama kalinya? Bagaimana kebiasaan berdoa dapat menjaga hatimu untuk menyadari bahwa kamu selalu membutuhkan anugerah Allah?

Allah Mahakasih, ampunilah aku karena sering menyia-nyiakan karunia dan kebaikan-Mu. Tolonglah aku menghayati kedalaman anugerah dan kasih-Mu dengan cara-cara baru. Mampukan aku menggunakan perkataaan yang benar untuk menceritakan keajaiban karya-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 1-3; Lukas 24:1-35

Facebooktwitterreddit

61 replies
« Older Comments
« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *