Kembali Berkembang

Kamis, 27 Mei 2021

Kembali Berkembang

Baca: Keluaran 1:6-14

1:6 Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia.

1:7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.

1:8 Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.

1:9 Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: “Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita.

1:10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan–jika terjadi peperangan–jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.”

1:11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.

1:12 Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.

1:13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,

1:14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

 

Makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka. —Keluaran 1:12

Kembali Berkembang

Karena menerima sinar matahari dan air yang cukup, bunga-bunga liar tumbuh dengan leluasa dan menghiasi beberapa wilayah di California seperti di Antelope Valley dan Figueroa Mountain. Namun, apa yang biasanya terjadi di musim kemarau? Para ilmuwan telah menemukan bahwa beberapa jenis bunga liar menyimpan benih dalam jumlah besar di bawah tanah daripada membiarkannya menembus tanah dan berkembang. Setelah musim kemarau berakhir, tumbuh-tumbuhan itu menggunakan benih-benih yang telah disimpan itu untuk kembali berkembang.

Bangsa Israel kuno pernah berkembang pesat di tanah Mesir, meski mereka berada dalam keadaan yang serba sulit. Mandor-mandor budak memaksa mereka bekerja di ladang dan membuat batu bata. Para pengawas yang kejam mengharuskan mereka membangun kota-kota bagi Firaun. Raja Mesir bahkan membunuh bayi-bayi yang baru lahir untuk mengurangi pertambahan jumlah orang Israel. Akan tetapi, karena Allah menopang mereka, “makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka” (Kel. 1:12). Banyak ahli Alkitab memperkirakan populasi pria, wanita, dan anak-anak Israel bertambah menjadi dua juta jiwa (bahkan lebih) selama mereka tinggal di Mesir.

Allah yang memelihara umat-Nya di masa silam masih menopang kita di masa kini. Dia sanggup menolong kita dalam segala keadaan yang kita hadapi. Kita mungkin tidak yakin apakah bisa bertahan melewati musim demi musim. Namun, Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah, yang “mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api,” sanggup menyediakan segala kebutuhan kita (Mat. 6:30).—JENNIFER BENSON SCHULDT

WAWASAN
Sekitar tahun 1650-1550 SM, suku bangsa Semit yang oleh bangsa Mesir disebut “raja-raja gembala,” atau Hyksos, mengambil alih dan memerintah bagian utara Mesir, tempat umat Israel tinggal. Ada kemungkinan pengusiran para pemimpin tersebut pada sekitar tahun 1540 SM tersebut menjadi latar belakang kitab Keluaran. Sebuah dinasti “baru” (Keluaran 1:8) menunjukkan kecurigaan yang besar terhadap sisa orang-orang Semit di Mesir. Mungkin “musuh” (ay.10) yang dikhawatirkan Firaun akan bersekutu dengan orang-orang Israel adalah sisa bangsa Hyksos. Sebagai jalan keluarnya, Firaun mengusulkan untuk menindas umat Israel dengan sangat keras. Ini dimulai dengan kerja paksa dalam proyek-proyek pembangunan ambisius dinasti itu (ay.11). Di Mesir, batu hanya bisa didapatkan di bagian paling selatan negeri, sehingga bangsa Israel diberikan tugas berat untuk membuat bata dari tanah liat dengan campuran cangkang atau jerami sebagai bahan pengikatnya (ay.14). Dalam iklim Mesir yang kering dan panas, batu bata ini cukup kuat setelah kering. —Monica La Rose

Mengapa begitu sulit mempercayai Allah pada musim “kemarau” hidup kita? Bagaimana Dia telah menopangmu di masa lalu, dan bagaimana kisah tentang kesetiaan-Nya itu dapat menguatkan seseorang yang kamu kenal?

Ya Bapa, terkadang sulit bagiku untuk terus melangkah. Kumohon, penuhilah kebutuhanku hari ini, dan tolonglah aku untuk terus bertahan dengan kuasa Roh Kudus-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 1-3; Yohanes 10:1-23

Facebooktwitterreddit

55 replies
« Older Comments
  1. Adilmawati Baene
    Adilmawati Baene says:

    amin .
    Tuhan Yesus itu baik,selalu ada disamping kita dalam suka dan duku,meski kita menyakiti nya Tuhan Yesus tetap setia berada disamping kita untuk membimbing kita,tergantung kitanya aja,kita mau gak dibimbing 😊.

« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *