Belajar Mengasihi Orang Asing: Aku vs Ketakutanku

Info

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Mengemban tugas pelayanan sebagai pemimpin kelompok kecil (PKK) semasa kuliah dulu merupakan hal tersulit bagiku. Bahkan aku sempat ‘bersumpah’ pada rekan-rekan sepelayananku bahwa: “Aku tuh enggak bisa gampang deket sama orang yang baru dikenal. Susah, lho. Takut banget”. Itulah mengapa aku cukup kesulitan ketika mendapat bagian melayani sebagai PKK bagi adik-adik mahasiswa baru di kampus sekitar 8 tahun lalu. Mengasihi orang asing atau orang yang baru kukenal menjadi hal yang tak pernah kuinginkan.

Keenggananku itu perlahan terkikis, ketika akhirnya Tuhan memberiku berbagai proses yang mengarahkanku untuk mengasihi diri sendiri.

Sejak aku belajar dan menyadari bahwa aku sangat dikasihi Tuhan meskipun mengalami penolakan, sejak aku menyadari bahwa menikmati relasi pribadi dengan Tuhan ternyata banyak sekali mengubah hidupku, pelan-pelan aku berani membuka diriku terhadap hal-hal baru dan juga orang-orang baru. Awalnya memang pikiranku dikuasai oleh ketakutan dan kekhawatiran. Terlebih lagi aku memiliki isu ketidakpercayaan terhadap orang baru. Namun, ‘belajar’ menjadi motivasi utamaku ketika mulai menjalin relasi bersama mereka. Aku berkata pada diriku sendiri, “Mau sampai kapan kamu menutup diri terus, Meista?” Dan ketika aku memahami, menyadari, serta mengalami betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidupku, keberanian untuk membuka hati dan kepercayaan diri pun muncul.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menerima Pelayanan Sebagai Mentor

Tahun 2020 aku mendapat tawaran sebagai mentor untuk sebuah pembinaan yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga pelayanan. Pembinaan ini dilakukan selama 6 bulan dengan sistem daring. Peranku sebagai mentor adalah membimbing adik-adik mahasiswa semester akhir dalam menggumulkan panggilan hidup mereka setelah lulus kuliah nanti. Sebagai orang yang pernah menikmati pemuridan semasa kuliah, juga sebagai orang yang tahu betul bagaimana sulitnya bertumbuh seorang diri tanpa komunitas kecil, pelayanan tersebut langsung aku terima.

Aku sempat merasa takut. Aku dihantui kecemasan dan keraguan terhadap diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tiba-tiba muncul dalam pikiranku: apa motivasimu terima pelayanan ini? Apa kamu sedang merasa dibutuhkan?

Aku pun lebih tekun berdoa menjelang hari-H pelayanan. Aku bertanya dalam doaku: Tuhan, apakah hal yang kulakukan ini benar? Jika Engkau tidak berkenan aku mengambil pelayanan ini, lebih baik aku mundur saja. Tuhan lantas tidak menjawab doaku secara langsung. Namun, dalam hatiku aku merasa yakin bahwa alasanku menerima pelayanan ini hanyalah karena aku telah dan sedang menikmati pimpinan Tuhan dalam proses menemukan serta menjalani panggilan hidup. Prosesnya berlangsung hingga saat ini, dan aku tidak ragu untuk membagikan bagaimana Tuhan menuntun dan memimpin hidupku melalui banyak hal. Aku juga ingin mengimani dan membuktikan apa yang tertulis dalam kitab Ulangan 31:6 :

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Inilah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk tidak mundur menggembalakan adik-adik yang Tuhan berikan menjadi bagianku sepanjang pembinaan berlangsung.

Ternyata, ada banyak hal yang menjadi berkat buat diriku sendiri ketika aku melayani sebagai mentor. Pertama, tentu aku mendapat teman-teman baru. Baik itu adik-adik dalam kelompok mentoring, hingga teman-teman panitia. Kedua, materi dari pembinaan itu sendiri. Meskipun statusku adalah mentor, namun aku kembali diingatkan esensi tentang menggumulkan panggilan hidup. Aku kembali belajar bahwa panggilan hidup tidak terbatas pada apa jabatan, jenis pekerjaan, atau di mana aku bekerja. Panggilan hidup dalam Tuhan berbicara tentang berjalan dan berelasi bersama-Nya dalam kehidupan ini. Jadi, segala sesuatu benar-benar harus dipusatkan pada Kristus, bukan mengedepankan apa yang kita mau—meskipun tidak ada salahnya juga untuk menyampaikan apa yang kita inginkan pada-Nya di dalam doa. Ketiga, aku juga makin dimampukan untuk melihat lebih tajam tentang kepribadianku, talenta, serta minatku. Hal ini tentu menolongku juga untuk makin serius melakukan pekerjaan dan pelayanan yang tengah dipercayakan padaku.

Dari beberapa pelajaran dan pengalaman yang dinikmati, aku bersyukur karena tidak mengikuti rasa takutku dalam menjalin relasi dengan adik-adik mentoring yang ‘statusnya’ adalah orang-orang asing. Kasih dari Tuhan yang lembut mengubah ketakutan itu menjadi berkat yang tak pernah aku sesali hingga saat ini.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menjadi Pendengar yang Baik untuk Teman Baru

Suatu kali aku tengah menceritakan kisah kegagalanku pada salah satu teman dekat. Kemudian ia menyarankan aku mendengarkan siaran podcast yang ia buat bersama temannya. Podcast yang mereka produksi ternyata berbicara tentang kegagalan juga. Singkat cerita, aku sangat terberkati melalui konten tersebut, dan aku langsung mempublikasikannya di akun Instagram Story-ku.

Tak berapa lama, tiba-tiba aku dikontak oleh temannya temanku yang berada dalam podcast itu melalui pesan Instagram (Direct Message/DM). Temannya temanku. Aku tidak tahu dia siapa, aku tidak mengenalnya, lalu tiba-tiba dia merespon postingan yang aku buat. Untuk aku yang cukup tertutup terhadap orang asing, menjadi tantangan tersendiri bagiku ketika hendak memberikan respon balik. Namun salah satu komitmen pribadiku di tahun 2021 ini adalah belajar untuk lebih membuka diri, termasuk dalam hal relasi. Aku sempat bertanya pada diri sendiri, “Apa sih yang salah dengan punya teman baru di luar lingkaran terdekat, Meista? Enggak ada kan?” Akhirnya dengan mengingat hal ini, aku memberanikan diri untuk membalas pesannya.

Obrolan demi obrolan berlangsung, hingga aku mengetahui bahwa ia memiliki isu pada kesehatan mental (ia menceritakannya langsung kepadaku). Topik mengenai kesehatan mental ini tentu menjadi hal menarik bagiku karena aku juga pernah merasakan situasi yang sama meski dengan detail yang berbeda. Jadilah aku juga membuka diri untuk bercerita tentang beberapa pergumulan hidupku padanya dengan motivasi siapa tahu ceritaku bisa menguatkannya juga.

Hari demi hari berlalu dan kami jadi cukup sering mengobrol melalui aplikasi chat. Hingga tiba pada masa di mana aku mulai merasa khawatir, cemas, dan takut jika relasi kami makin dekat. Jika teman baruku ini perempuan, mungkin aku tidak masalah. Namun dia adalah laki-laki. Kecenderungan perempuan, atau lelaki pun, pada umumnya jika cukup sering berkomunikasi dengan teman lawan jenis adalah mudah dibawa perasaan (baper)—meski memang kondisi ini tidak bisa digeneralisasikan. Aku sempat terpikir untuk tidak lagi membalas chat-nya, tidak ingin lagi meresponi curhatannya, tidak ingin lagi mengetahui cerita-cerita hidupnya meski ia terus mengontakku. Namun, saat itu aku sadar aku memang diperhadapkan pada 2 pilihan: tetap merespons dengan sewajarnya, atau diamkan saja.

Lalu aku merenung dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada diriku sendiri: apa yang membuatku khawatir, cemas, dan takut ketika berkomunikasi dengannya? Apakah aku terganggu dengan pesan-pesan singkatnya? Ketika merenungkan hal ini, aku teringat salah satu bagian Firman yang berkata:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

Ditambah lagi dengan Firman yang kudapat dari saat teduh pada tanggal 15 April 2021 tentang “Berbagi Beban”. Imamat 19:34 sangat jelas menyatakan, “…kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Lalu ada bagian yang menguatkanku hingga aku memutuskan untuk tidak berfokus pada ketakutanku sendiri:

“Terkadang beban yang orang lain tanggung membuat mereka merasa seperti orang asing—sendirian dan tidak dimengerti—bahkan di antara orang-orang sebayanya. …mungkin kita belum pernah mengalami kesulitan yang orang lain alami. Meski demikian, kita dapat memperlakukan siapa pun yang dihadirkan Allah dalam hidup kita dengan penuh hormat dan pengertian, seperti yang kita sendiri inginkan. Kita menghormati Allah ketika kita melakukannya.”

Tanpa ingin melakukan ‘cocoklogi’, aku yakin pilihan ada di tanganku untuk tetap berteman dengannya atau hentikan saja karena akunya ketakutan. Akhirnya aku pelan-pelan menyadari bahwa mungkin bagianku hanya menjadi teman yang mendengar saja. Belajar menjadi pendengar yang baik di kala dia bercerita. Aku tidak perlu takut dalam mengasihi teman sendiri selama tidak ada ekspektasi yang dipautkan padanya. Jadi, saat ini aku belajar untuk menikmati relasi pertemanan kami yang masih berlangsung hingga sekarang dan tetap mengasihinya sebagai teman tanpa harus merasa takut baper.

* * *

Kehadiran orang asing dalam konteks orang yang sengaja dilayani di pelayanan tertentu atau bahkan dalam ranah pekerjaan profesional sekalipun, atau orang asing yang hadir secara tak disengaja (random) ke dalam hidup kita pastinya bukanlah suatu kebetulan. Namun bukan bagian kita untuk mengetahui, “Apa sih maksud Tuhan dalam hal ini?”.

Kadang, tidak semua hal Tuhan beritahu kepada kita maksud dan tujuan dari segala sesuatu yang terjadi. Namun satu hal yang pasti: pimpinan dan penyertaan-Nya selalu ada. Kasih-Nya selalu nyata, dan kasih inilah yang sepatutnya bisa kita bagikan kepada orang-orang asing yang datang ke hidup kita jika kita sudah mengalami sendiri bagaimana indahnya kasih Allah itu.

Baca Juga:

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

7 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!