Tenggelam dalam Pelukan
Rabu, 28 April 2021
Baca: Mazmur 116:1-7
116:1 Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku.
116:2 Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.
116:3 Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan.
116:4 Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!”
116:5 TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang.
116:6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.
116:7 Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.
Dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974
Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu. —Mazmur 116:7
“Ayah, maukah membacakan cerita untukku?” tanya putri saya. Ini pertanyaan yang lazim diajukan oleh seorang anak kepada orangtuanya. Akan tetapi, putri saya berumur sebelas tahun. Sekarang ia sudah jarang minta dibacakan cerita, tidak seperti waktu ia masih kecil. “Tentu saja,” jawab saya dengan gembira, dan ia pun meringkuk di sebelah saya di atas sofa.
Ketika saya membacakan cerita untuknya (dari buku The Fellowship of the Ring), ia hampir-hampir tenggelam dalam pelukan saya. Itulah salah satu momen paling membahagiakan bagi orangtua, yaitu ketika kita merasakan secuplik kasih sempurna yang dinyatakan Allah Bapa kepada kita dan kerinduan-Nya yang mendalam agar kita “tenggelam” dalam hadirat dan kasih-Nya.
Saya menyadari pada saat itu bahwa saya sangat mirip dengan anak saya yang berusia sebelas tahun. Sering kali saya lebih memilih untuk lepas bebas. Namun, mudah sekali kita gagal menyadari kasih Allah bagi kita—kasih pemeliharaan yang lemah lembut dari Dia yang adalah “pengasih dan adil . . . penyayang” (mzm. 116:5). Kasih itulah yang membuat saya, seperti seorang anak, bisa meringkuk nyaman di pangkuan Allah, dan Dia pun berkenan menerima saya.
Mazmur 116:7 menasihati bahwa kita perlu secara teratur mengingatkan diri sendiri tentang kasih Allah yang indah, agar kita kembali tenggelam dalam pelukan-Nya: “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu.” Memang, Dia telah melakukan yang baik kepada saya.—Adam R. Holz
WAWASAN
Mazmur 116 merupakan bagian dari kelompok enam mazmur (Mazmur 113-118) yang dikenal sebagai “Hallel Mesir”—disebut demikian karena adanya unsur pujian kepada Allah (dalam bahasa Ibrani halal) dalam mazmur-mazmur tersebut. Kidung pujian itu dinyanyikan selama masa Paskah untuk memperingati peristiwa keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir: Mazmur 113-114 diucapkan sebelum makan Paskah dan Mazmur 115-118 setelah makan. Kemungkinan pujian yang dinyanyikan Yesus dengan murid-murid-Nya setelah Perjamuan Terakhir adalah salah satu mazmur tersebut (Matius 26:30). Dalam Mazmur 116, penulis mengucap syukur kepada Allah karena telah diluputkan-Nya dari maut (ay.3,8). Karena meyakini kedaulatan Allah atas hidup dan matinya, ia menulis, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (ay.15). Pemazmur yang penuh ucapan syukur pun bertanya: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (ay.12). Ia pun memberikan komitmennya untuk “berjalan di hadapan TUHAN” (ay.9) dan menjadi hamba-Nya (ay.16). —K.T. Sim
Kapan terakhir kali kamu meringkuk nyaman dalam kasih Allah? Apa saja yang selama ini mungkin menghalangimu untuk mengalami perkenanan Bapa?
Ya Bapa, terima kasih untuk kasih-Mu yang sempurna bagiku. Tolonglah aku mengingat kasih itu dan berserah penuh dalam kebaikan dan perkenanan-Mu.
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 3-5; Lukas 20:1-26
aminn
Baru kemarin orang yang kami kasihi meninggalkan kami, namun saat membaca firman ini aku tersadar akan segala kasih dan kebaikan Tuhan yang selalu mengiringi hidupku… Kuatkan kami Bapa, dan Terima kasih untuk kasih-Mu yang selalu hadir di hidup kami semua
Amen