Perlindungan bagi yang Tertolak

Info

Jumat, 9 April 2021

Perlindungan bagi yang Tertolak

Baca: Mazmur 57

57:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.

57:2 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

57:3 Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

57:4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

57:5 Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

57:6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

57:7 Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

57:8 Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.

57:9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

57:10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

57:11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.

57:12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung. —Mazmur 57:2

Perlindungan bagi yang Tertolak

George Whitefield (1714-1770) adalah salah seorang pengkhotbah paling berbakat dan berhasil sepanjang sejarah, dan ia telah membawa ribuan orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Meski demikian, hidupnya tidak lepas dari kontroversi. Pilihannya untuk berkhotbah di tempat terbuka (agar bisa dihadiri sejumlah besar orang) terkadang dikritik oleh pihak-pihak yang mempertanyakan motivasinya dan merasa bahwa Whitefield seharusnya berkhotbah di dalam gedung gereja saja. Perkataan Whitefield tentang tulisan pada batu nisannya kelak menjadi tanggapannya terhadap kritikan yang diterimanya: “Dengan sabar saya akan menunggu hingga Hari Penghakiman untuk membersihkan nama baik saya; dan setelah mati, saya tidak menghendaki tulisan pada batu nisanku kecuali ini, ‘Di tempat ini terbaring George Whitefield—seperti apa sesungguhnya dirinya kelak akan diketahui pada hari yang agung itu.’”

Di Perjanjian Lama, ketika Daud menerima kritikan tajam dari orang lain, ia juga mempercayakan dirinya kepada Allah. Ketika Daud dituduh Raja Saul sebagai orang yang memimpin pemberontakan sehingga terpaksa bersembunyi dari kejaran tentara Saul dan tinggal di dalam gua, ia menggambarkan kondisinya seperti “terbaring di tengah-tengah singa . . . yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam” (Mzm. 57:5). Namun, sekalipun dalam situasi sulit seperti itu, Daud berpaling kepada Allah dan menemukan penghiburan di dalam Dia: “Sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan” (ay.11).

Ketika orang lain gagal memahami atau bahkan menolak kita, Allah saja tempat kita berlindung (ay.2). Pujilah Dia atas kasih-Nya yang besar dan tak berkesudahan!—James Banks

WAWASAN
Mazmur 57 mengontraskan kerapuhan yang dirasakan pemazmur, yang merasa seakan berada di tengah-tengah binatang pemangsa (ay.5), dengan keyakinan yang semakin kuat kepada kehebatan Allah yang tak tertandingi. Kesadaran yang mendalam akan pemeliharaan Allah yang dahsyat membuat keyakinannya tetap teguh di tengah keadaan-keadaan yang mengerikan. Seperti Mazmur 17:8 dan 36:8, Mazmur 57:2 menggunakan perlindungan dari seekor induk burung sebagai lambang pemeliharaan Allah yang memberikan keamanan. Metafora ini juga dipakai dalam kesusastraan Mesir dan Asyur kuno sebagai gambaran perlindungan dewa atas raja. Namun, dalam Mazmur 36:8, pemazmur menekankan bahwa “anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu”. Dengan merayakan kemuliaan Allah (57:6,12; dalam bahasa Ibrani kebod), pemazmur mengalami bagaimana Allah menghembuskan hidup baru ke dalam jiwanya sendiri (ay.9). Daud mengatakan bahwa kemuliaan Allah sekarang menjadi kemuliaannya ketika ia berharap kepada Allah untuk kelepasan dan perlindungan yang dibutuhkan-Nya. —Monica La Rose

Bagaimana berharap kepada belas kasihan Allah dapat mengangkatmu kembali saat patah semangat? Bagaimana kamu dapat menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain?

Bapa, aku memuji-Mu karena aku selamanya diterima oleh-Mu karena Anak-Mu. Aku berlindung dalam kasih-Mu yang sempurna hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 13-14; Lukas 10:1-24

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

48 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!