Orang-Orang Menjengkelkan

Info

Rabu, 21 April 2021

Orang-Orang Menjengkelkan

Baca: Amsal 15:1-7, 18

15:1 Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

15:2 Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.

15:3 Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.

15:4 Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.

15:5 Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.

15:6 Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.

15:7 Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur.

15:18 Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1

Orang-Orang Menjengkelkan

Lucy Worsley adalah seorang sejarawan dan pembawa acara TV di Inggris. Seperti kebanyakan tokoh masyarakat, adakalanya Lucy menerima surat bernada kasar—salah satunya mempersoalkan gangguan bicara ringan yang diderita Lucy, yang membuatnya sulit mengucapkan huruf “r”. Seseorang pernah mengirimkan pesan berikut, “Lucy, terus terang saja, tolong perbaiki cara bicaramu yang asal-asalan, atau hilangkan saja semua huruf “r” dalam teks yang perlu kaubaca—saking kesalnya, aku tidak tahan menonton siaranmu. Salam, Darren.”

Bagi sebagian orang, komentar yang tidak sopan seperti ini bisa memancing balasan yang sama pedasnya. Namun, Lucy membalasnya demikian: “Darren, saya rasa kamu memanfaatkan dunia maya yang anonim untuk leluasa mengucapkan hal-hal yang tidak mungkin kamu katakan secara langsung di hadapan saya. Silakan renungkan kembali perkataanmu yang tidak sopan itu! Lucy.”

Jawaban Lucy yang tenang itu membuahkan hasil. Darren meminta maaf dan berjanji tidak akan mengirim pesan seperti itu lagi kepada siapa pun.

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman,” kata Amsal, “tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (15:1). Seorang pemarah suka memicu pertengkaran, tetapi orang sabar memadamkan perselisihan (ay.18). Ketika kita dikritik oleh rekan sekerja, dikomentari sinis oleh kerabat, atau mendapat tanggapan pedas oleh orang asing, kita punya pilihan: mengeluarkan kata-kata penuh amarah yang bisa menyulut api pertikaian atau mengucapkan perkataan lemah lembut yang dapat memadamkannya.

Kiranya Allah menolong kita mengucapkan kata-kata yang meredakan kemarahan—bahkan mungkin menolong orang-orang menjengkelkan itu untuk berubah.—SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Amsal 15 termasuk dalam bagian kitab itu (pasal 10-29) yang menggunakan kuplet atau bait sajak dua baris. Kuplet-kuplet itu memberikan hikmat yang masuk akal dan bimbingan bagi setiap orang yang ingin hidup dengan cara yang berkenan kepada Allah dan sesamanya. Gaya bahasa paralelisme ini merupakan salah satu sifat utama dari puisi Ibrani. Paralelisme terjadi ketika sejumlah pokok kebenaran ditempatkan bersebelahan, dengan tujuan untuk menegaskan pesan utamanya. Ketika dua kuplet digabungkan dengan kata sambung dan, hal itu disebut paralelisme sinonim. Ketika digabungkan dengan kata tetapi, itulah bentuk paralelisme antitesis, dengan kebenaran ditekankan melalui perbedaan atau pertentangan. Paralelisme antitesis inilah yang kita temukan dalam sebagian besar Amsal 15. Penggunaan kata tetapi yang berulang memperingatkan pembaca bahwa kebenaran sedang ditekankan dengan menyoroti perbedaan-perbedaannya. —Arthur Jackson

Pikirkan waktu kamu bersikap defensif terhadap seseorang. Mengapa kamu bereaksi demikian? Bagaimana kamu dapat memberikan respons yang berbeda dengan pertolongan Allah?

Allah Mahakasih, mampukanlah aku untuk menanggapi orang-orang yang suka bertengkar dengan kesabaran dan perkataan yang lembut.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 12-13; Lukas 16

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

58 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!