Mengarungi Ombak

Info

Sabtu, 3 April 2021

Mengarungi Ombak

Baca: Mazmur 89:6-18

89:6 Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.

89:7 Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?

89:8 Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.

89:9 Ya TUHAN, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya TUHAN, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu.

89:10 Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya.

89:11 Engkaulah yang meremukkan Rahab seperti orang terbunuh, dengan lengan-Mu yang kuat Engkau telah mencerai-beraikan musuh-Mu.

89:12 Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.

89:13 Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya, Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu.

89:14 Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.

89:15 Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu.

89:16 Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;

89:17 karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah.

89:18 Sebab Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami meninggi.

Ya Tuhan, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya Tuhan, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu. —Mazmur 89:9

Mengarungi Ombak

Saat suami saya berjalan menyusuri pantai sambil mengambil foto-foto cakrawala di Hawaii, saya duduk di sebuah batu besar, resah memikirkan kondisi kesehatan saya yang kembali memburuk. Meski masalah tetap akan ada ketika saya pulang ke rumah nanti, saat itu saya benar-benar membutuhkan ketenangan. Saya menatap ombak demi ombak menerjang batu-batu karang berwarna hitam, dan perhatian saya tertuju kepada bayangan gelap di atas ombak itu. Dengan memakai fitur zoom pada kamera, dari bentuknya saya mengenali bayangan itu sebagai seekor penyu yang mengarungi ombak dengan santai. Kedua kaki depannya terbentang lebar, tenang tak bergerak. Saya tersenyum sembari membiarkan wajah saya tertiup angin sepoi-sepoi dari laut.

“Langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya Tuhan” (Mzm. 89:6). Allah kita yang tak tertandingi itu “memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, [Dia] juga yang meredakannya” (ay.10). Dialah yang memiliki “bumi, dunia serta isinya” (ay.12). Dialah yang menciptakan segalanya, mempunyai segalanya, mengatur segalanya, dan menggunakan segalanya untuk kemuliaan-Nya dan untuk kita nikmati.

Dengan berdiri di atas fondasi iman kita—kasih Bapa yang tidak pernah berubah—kita dapat “hidup dalam cahaya wajah-[Nya]” (ay.16). Allah tetap berkuasa penuh dan berbelas kasihan atas kita, sehingga kita dapat “bersorak-sorak sepanjang hari” karena nama-Nya (ay.17). Sebesar apa pun rintangan yang kita hadapi atau kemunduran yang harus kita alami, Allah tetap menjaga kita di tengah pasang surut ombak kehidupan.—XOCHITL DIXON

WAWASAN
Mazmur 89 berbicara tentang perjanjian Allah dengan Daud (ay.4-5), tetapi tidak ditulis oleh Daud. Ayat 1 menyebut penulisnya Etan, orang Ezrahi. Apa yang kita ketahui tentang dirinya? 1 Raja-Raja 4:31 menyiratkan bahwa ia bijaksana, dan kebijaksanaannya itu hanya dilebihi oleh Salomo. Selain itu, beberapa ahli percaya bahwa Etan inilah yang disebutkan dalam 1 Tawarikh 15:16-18, anak Kusaya dan salah satu orang Lewi yang ditunjuk untuk memimpin musik dalam ibadah. Meski pernyataan-pernyataan itu memberi kita beberapa informasi dasar mengenai penulis Mazmur 89, kita tidak mempunyai indikasi apa pun tentang waktu atau alasan penulisannya. Namun, dalam merayakan perjanjian Daud, mazmur ini berfokus pada kebesaran Allah sebagai Pencipta dan kasih setia-Nya sebagai Allah Israel, sekalipun kasih setia itu tidak selalu kasatmata. —Bill Crowder

Saat menghadapi pasang surut kehidupan ini, bagaimana merenungkan keajaiban Allah dapat memberikan kepadamu ketenangan, keberanian, dan keyakinan pada penyertaan dan pemeliharaan-Nya? Keadaan apa saja yang perlu kamu serahkan kepada Allah selagi mengarungi ombak kehidupan?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau menguatkanku dalam mengarungi pasang surut kehidupan ini dengan iman yang teguh, sambil berpegang erat pada kesetiaan-Mu yang telah terbukti.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 19-21; Lukas 7:31-50

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

39 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!