Kasih yang Mengekang

Kamis, 8 April 2021

Kasih yang Mengekang

Baca: Roma 14:1-13

14:1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.

14:2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.

14:3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.

14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

14:5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.

14:6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.

14:7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

14:8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

14:9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.

14:11 Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”

14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

Lebih baik tidak . . . melakukan apa saja kalau hal itu menyebabkan seorang saudara seiman menjadi berdosa. —Roma 14:21 BIS

Kasih yang Mengekang

Sebagian besar pemuda Samoa diberi tato sebagai tanda tanggung jawab kepada masyarakat dan kepala suku mereka. Namun, ketika para pemain rugbi dari Samoa berkunjung ke Jepang, negara yang sebagian masyarakatnya melihat tato secara negatif, mereka menyadari bahwa simbol itu bisa menimbulkan masalah. Demi memelihara hubungan baik, para pemuda Samoa itu pun mengenakan kain panjang berwarna kulit pada lengan untuk menutupi tato mereka. “Kami menghormati dan menghargai budaya Jepang,” kata kapten tim Samoa. “Kami harap usaha kami dapat mereka terima.”

Di era yang mengagungkan kebebasan berekspresi bagi individu, sungguh luar biasa melihat adanya pembatasan diri—sebuah konsep yang ditulis Paulus dalam kitab Roma. Ia mengatakan bahwa terkadang kasih menuntut kita menanggalkan hak kita demi orang lain. Alih-alih memaksakan kebebasan kita, adakalanya kasih mengharuskan kita mengekang diri. Paulus menjelaskan bagaimana sebagian anggota jemaat meyakini bahwa mereka bebas “makan segala jenis makanan”, tetapi yang lain “makan sayur-sayuran saja” (Rm. 14:2). Kelihatannya ini soal kecil, tetapi di abad pertama, kepatuhan kepada hukum Taurat tentang makanan menjadikan masalah ini kontroversial. Paulus memerintahkan setiap orang untuk tidak “saling menghakimi lagi” (ay.13), lalu mengakhiri dengan menasihati mereka yang tidak berpantang makan: “Lebih baik tidak usah makan daging atau minum anggur atau melakukan apa saja kalau hal itu menyebabkan seorang saudara seiman menjadi berdosa” (ay.21 BIS).

Adakalanya mengasihi sesama berarti mengekang kebebasan kita sendiri. Kita tidak harus selalu melakukan segala sesuatu yang bisa dengan bebas kita lakukan. Terkadang kasih justru membuat kita membatasi diri.—Winn Collier

WAWASAN
Pola normal surat-surat Paulus untuk jemaat biasanya terdiri dari bagian pengajaran (doktrin) diikuti dengan bagian penerapan pengajaran tersebut dalam iman (praktis). Seorang pendeta mengatakan bahwa apa yang kita percayai menjadi dasar bagi perilaku kita. Roma 1-11 memberikan doktrin, yaitu penjelasan terperinci oleh Paulus tentang kebenaran Injil sebagai pesan kasih karunia yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah kita yang Maha Pemurah. Tidaklah mengherankan bahwa dalam bagian praktis suratnya (seperti perikop hari ini), ia mendorong kita untuk menyalurkan dan menerapkan kasih karunia itu dalam hubungan kita dengan satu sama lain. —Bill Crowder

Pernahkah kamu melihat seseorang membatasi kebebasan dirinya demi saudara seimannya? Kesulitan apa yang dihadapi ketika kasih kepada sesama membuat kita harus mengekang diri?

Ya Allah, tolonglah aku melihat kapan aku perlu mendorong orang lain untuk menggunakan kebebasannya, dan kapan aku perlu membatasi kebebasanku sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 10-12; Lukas 9:37-62

Bagikan Konten ini
47 replies
  1. eap mlksdk
    eap mlksdk says:

    terimakasih untuk santapan rohaninya, semoga boleh direnungkan dan melakukannya dalam kehidupan sehari” Amin 🙏

  2. George C
    George C says:

    Ya Allah, tolonglah aku melihat kapan aku perlu mendorong orang lain untuk menggunakan kebebasannya, dan kapan aku perlu membatasi kebebasanku sendiri. Kiranya aku semakin bisa mengasihi sesama kami dan Menjadi Berkat bagi Sesama kami ya Tuhan . Amin

  3. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *