Harga yang Harus Dibayar

Info

Jumat, 2 April 2021

Harga yang Harus Dibayar

Baca: Yohanes 19:25-30

19:25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

19:26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”

19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”

19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. —Yohanes 19:30

Harga yang Harus Dibayar

Karya-karya seni Michelangelo mengeksplorasi banyak segi kehidupan Yesus, tetapi salah satu karyanya yang paling mengharukan datang dari salah satu yang paling sederhana. Pada dekade 1540-an, Michelangelo membuat sketsa “pieta” (gambar ibu Yesus memangku tubuh Kristus yang sudah mati) untuk sahabatnya, Vittoria Colonna. Gambar yang dibuat dengan kapur itu melukiskan Maria yang menengadah ke langit sambil memangku tubuh Sang Putra yang sudah kaku. Menjulang di belakang Maria adalah sebuah salib yang pada palangnya tercantum kata-kata dari sajak berjudul Paradise (Firdaus) karya Dante, “Tidak terpikirkan oleh mereka harga darah yang tertumpah.” Maksud Michelangelo sangat tegas: ketika kita merenungkan kematian Kristus, kita juga harus memikirkan besarnya harga yang telah Dia bayar.

Harga yang dibayar oleh Kristus tercakup dalam ucapan-Nya sesaat sebelum Dia mati, “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Istilah “sudah selesai” (tetelestai) bisa berarti suatu utang sudah dibayar lunas, suatu tugas sudah tuntas dikerjakan, sebuah korban telah dipersembahkan, atau sebuah mahakarya sudah rampung. Setiap pengertian tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan karya Tuhan Yesus bagi kita di kayu salib! Mungkin karena itulah Rasul Paulus menulis: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal. 6:14).

Kerelaan Yesus Kristus untuk mati menggantikan kita menjadi bukti abadi betapa besarnya kasih Allah kepada kita. Ketika kita merenungkan besarnya harga yang telah Dia bayar, kiranya kita juga memuji cinta kasih-Nya—dan bersyukur untuk pengorbanan-Nya di kayu salib.—BILL CROWDER

WAWASAN
Mengapa Injil Yohanes begitu berbeda dari Injil Matius, Markus, dan Lukas? Kemungkinan besar jawabannya adalah karena Yohanes menulis belakangan di abad ke-1 Masehi dan dalam keadaan yang berbeda. Pertanyaan utama yang dihadapi penulis Matius, Markus, dan Lukas adalah apakah Yesus memang Mesias yang dijanjikan untuk menghadirkan Kerajaan Allah, sementara bagi Yohanes yang mendesak adalah pertanyaan apakah Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Beberapa guru palsu telah menyatakan bahwa Yesus hanyalah manusia dan bukan benar-benar Allah. Yang lain mengatakan bahwa Yesus mungkin ilahi, tetapi Dia hanya tampak sebagai manusia. Yohanes menulis untuk melawan kedua ajaran sesat tersebut. Hanya Yesus yang sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah yang dapat memberikan keselamatan bagi manusia berdosa. Tema yang konsisten dikumandangkan di sepanjang Injil Yohanes adalah bahwa Yesus adalah pernyataan Allah itu sendiri, yang memberikan hidup kekal kepada semua orang yang percaya (lihat 3:16). Diadaptasi dari Understanding the Bible: The Gospels.

Bagaimana setiap pengertian tetelestai di atas dapat menjelaskan karya Tuhan Yesus di kayu salib dan apa yang digenapi oleh-Nya? Bagaimana pengaruh setiap pengertian itu bagimu sendiri?

Ya Bapa, ketika aku mengingat pengorbanan yang Tuhan Yesus perbuat bagiku, aku merasa tak layak sekaligus sangat bersyukur. Terima kasih, Tuhan Yesus, untuk kasih dan pengorbanan-Mu di kayu salib.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 16-18; Lukas 7:1-30

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

62 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!