Dalam Kondisi Terburuk

Info

Senin, 26 April 2021

Dalam Kondisi Terburuk

Baca: Efesus 4:20-32

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. —Efesus 4:2

Dalam Kondisi Terburuk

“Ia tidak jelek, tetapi tidak cukup cantik untuk memikat saya.” Kalimat yang diucapkan Mr. Darcy dalam novel Pride and Prejudice karya Jane Austen itu menjadi alasan saya tidak akan pernah melupakan novel tersebut dan dampaknya terhadap saya. Setelah membaca kalimat itu, saya memutuskan bahwa saya tidak akan pernah menyukai Mr. Darcy.

Ternyata saya salah. Seperti Elizabeth Bennet, tokoh utama dalam novel ini, pelan-pelan—meski agak enggan—pikiran saya berubah. Seperti Elizabeth, saya sempat menolak untuk mengenal sifat Darcy secara utuh; saya lebih senang mengingat-ingat reaksi saya terhadap salah satu sikapnya yang buruk. Bahkan setelah selesai membaca novel itu, saya merenungkan apakah saya sendiri pernah membuat kesalahan yang sama di dunia nyata. Adakah persahabatan yang terabaikan karena saya tidak mau melepaskan kesan pertama yang buruk?

Inti iman kita dalam Yesus Kristus adalah bagaimana kita diperhatikan, dikasihi, dan diterima oleh Juruselamat kita—dalam kondisi kita yang terburuk (Rm. 5:8, 1Yoh. 4:19). Itulah keajaiban yang kita alami saat menyadari bahwa kita bisa menanggalkan manusia lama kita yang sesat untuk mengenakan manusia baru kita yang sesungguhnya dalam Kristus (Ef. 4:23-24). Itulah sukacita yang kita rasakan saat mengetahui bahwa kita tidak lagi sendirian, melainkan menjadi bagian dari sebuah keluarga, suatu “tubuh” yang terdiri dari orang-orang yang belajar “[hidup] di dalam kasih”—kasih sejati yang tidak bersyarat (5:2).

Ketika kita mengingat segala yang sudah Kristus lakukan bagi kita (ay.2), tidakkah kita ingin memperhatikan orang lain sebagaimana Dia memperhatikan kita?—Monica La Rose

WAWASAN
Watak menjadi faktor penting dalam menjalani hidup sesuai dengan panggilan Allah (Efesus 4:1). Apa sajakah watak itu? Kerendahan hati—menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri (Filipi 2:3-4). Kelemahlembutan—menolak meninggikan diri dan mau menunjukkan kesopanan. Kesabaran—menolak memuaskan diri sendiri. Menunjukkan kasih dengan saling membantu—menerima satu sama lain tanpa syarat. Semua itu diperlukan orang percaya untuk “memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:3), yang penting bagi kedewasaan tubuh Kristus, yaitu jemaat (ay.15-16). Kesatuan Roh tersebut diterapkan oleh umat dengan menerima watak-watak Kristus yang mendorong terjalinnya hubungan yang sehat dalam ikatan kasih, seperti yang digambarkan dalam ayat 20-32. —Con Campbell

Menurut kamu, mengapa adakalanya kita cenderung mempertahankan penilaian buruk terhadap orang lain? Apakah kamu pernah salah menilai seseorang?

Ya Allah, terkadang memang sulit melepaskan diri dari kecenderungan menghakimi dan membandingkan diri, dan melawan niat untuk menilai diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Tolonglah aku menyadari bahwa aku tidak perlu bersaing dan aku sungguh dikasihi.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 23-24; Lukas 19:1-27

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

55 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!