Sekaranglah Kesempatan Kedua Itu!: Disiplin Rohani Menebus Waktu

Oleh Jefferson

“Apakah halangan terbesarmu untuk berdisiplin rohani?”

Aku tidak tahu apa jawabanmu untuk pertanyaan di atas, tetapi kebanyakan responden dari surveiku menjawab “keterbatasan waktu” sebagai halangan terbesar mereka untuk rutin mempraktikkan disiplin rohani. Sambil merenungkan realita ini, kata-kata Paulus terngiang dalam benakku:

“Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal,…” (Efesus 5:15).

Apa maksud di balik perkataan Paulus? Penggalian perikop besarnya menuntunku untuk melihat penatalayanan waktu sebagai salah satu disiplin rohani terpenting di zaman ini, “terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat” (Ibr. 10:25; bdk. Mat. 24:42, 44).

Belajar Menebus Waktu dari Efesus 5:1–20

Latar belakang kitab Efesus sudah pernah kugali dalam satu tulisanku sebelumnya, jadi di sini kita langsung fokus pada perikopnya. Paulus memulai dengan satu perintah utama di ayat 1–2, di mana sekali lagi kita melihat sasaran daripada disiplin rohani, yaitu keserupaan dengan Yesus:

1) Sebab itu, jadilah peniru-peniru Allah sebagaimana anak-anak yang terkasih.
2) Hiduplah dalam kasih, sama seperti Kristus mengasihi kita dan memberikan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.

Tapi bagaimana cara kita dapat hidup serupa dengan Yesus? Paulus menjawab lewat 18 ayat berikutnya, yang ia kemas dalam tiga bagian (yang dibatasi oleh “Jadi” di ayat 7 dan 15) yang membandingkan antara kehidupan dalam kegelapan dunia dan dalam terang Kristus. Bagian pertama (ay. 3–6) mencatat berbagai larangan bagi jemaat Efesus (dan kita) agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Mengapa begitu? Alasannya ada di bagian kedua (ay. 7–14): karena kita adalah “anak-anak terang” (ay. 8) yang telah dibangkitkan oleh Allah dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14) agar kita “mencari tahu apa yang menyenangkan Tuhan” (ay. 10). Paulus lalu menjelaskan hal-hal apa saja yang menyukakan Tuhan dalam bagian terakhir lewat empat pasang perintah–larangan (ay. 15–18), yang ia kemudian akhiri dengan beberapa perintah penutup (ay. 19–20):

Ayat Perintah (+) Larangan (–)
15 Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, …, jadilah bijak. … jangan seperti orang bebal…
16 Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya …  … karena hari-hari ini adalah jahat. 
17 Karena itu, …, tetapi mengertilah apa itu kehendak Tuhan.  … janganlah menjadi bodoh… 
18 … sebaliknya penuhlah dengan Roh. Jangan mabuk oleh anggur karena hal itu tidak pantas,…  

Dari keempat ayat di atas, aku ingin menyorot dua kata yang makna aslinya dalam bahasa Yunani mungkin hilang dalam proses penerjemahan. 

Pertama-tama, frasa “Pergunakanlah […] dengan sebaik-baiknya” di ayat 16 aslinya hanya satu kata, exagorazō, yang bisa berarti “dibeli” atau “ditebus”. Lewat pilihan kata ini, Paulus sedang mendorong jemaat Efesus (dan kita) untuk menebus waktu yang biasanya dipakai untuk “perbuatan kegelapan” (ay. 11) dengan hal-hal yang “menyenangkan Tuhan” (ay. 10) dan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di akhir hayat, banyak orang mengharapkan kesempatan kehidupan kedua, tetapi bagi kita yang telah ditebus Kristus, sekaranglah kesempatan kedua itu (bdk. 2 Kor. 5:17; Gal. 2:20), apalagi kita tidak tahu kapan kedatangan-Nya yang kedua (Mat. 24:44).

Kata kedua yang ingin kusorot adalah “penuhlah” (plērousthe, ay. 18). Kata ini menurut tata bahasa Yunani mengambil bentuk tensa imperatif masa kini sehingga memiliki makna tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi terus-menerus. Pilihan gramatika ini menyatakan perintah Paulus dengan gamblang: janganlah hidup sembarangan menurut hawa nafsu kita layaknya orang mabuk, tetapi berikanlah hidup kita untuk terus-menerus dipenuhi oleh Roh (ay. 18) yang salah satu bentuk buah-Nya adalah penguasaan diri (Gal. 5:22–23; bdk. Mat 24:42). Lewat semuanya ini kita dimampukan untuk beribadah kepada Allah, baik secara pribadi maupun dengan sesama orang percaya (ay. 19), mengucapkan “syukur senantiasa atas segala sesuatu kepada Allah Bapa dalam nama Tuhan kita, Kristus Yesus” (ay. 20).

Dari penguraian di atas, jelaslah hubungan antara keserupaan dengan Kristus dan disiplin rohani menebus waktu: menjadi serupa dengan Yesus (ay. 1–2) berarti menjalani setiap detik kehidupan (ay. 8) yang telah ditebus oleh-Nya dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14, 16) di dalam Roh Kudus (ay. 18) agar kita dapat memahami dan mengerjakan kehendak Allah dalam kehidupan kita (ay. 15, 17) demi kemuliaan-Nya dan sukacita kita (ay. 19–20).

7 Tindakan Menebus Waktu di Zaman Akhir

Ketika mengetahui berbagai tanggung jawabku di kantor maupun pelayanan, umumnya aku akan ditanya, “Bagaimana caranya kamu bisa mengerjakan semuanya itu?”

Setelah membaca dan merenungkan perikop di atas, tepatnya ayat 13–20, aku melihat paling tidak ada tujuh tindakanku yang lewatnya Tuhan memenuhiku dengan Roh-Nya (ay. 18) untuk menatalayani waktuku yang telah Ia tebus di zaman akhir ini.

#1. Mulailah hari dengan Firman Tuhan (ay. 13–14) 

Bisa kamu tebak dari artikel yang kukutip di awal bahwa aku adalah pendukung garis keras saat teduh di pagi hari. Walaupun wajar-wajar saja kalau kita bersaat teduh di malam hari, menurutku melakukannya tepat setelah bangun tidur adalah praktik terbaik. Seperti matahari pagi yang membangunkan dunia dari kegelapan malam, begitu juga Firman Allah lewat saat teduh pagi “membangkitkan” kita untuk hidup dalam terang-Nya (ay. 13–14). Menjadikan persekutuan pribadi dengan Tuhan sebagai hal pertama yang kita lakukan di pagi hari mengingatkan bahwa Ialah pusat kehidupan kita yang mendikte tempo kita menjalani hari, bukan relasi maupun kesibukan kita. Saat teduh pagi layaknya briefing dari Tuhan yang mengarahkan bagaimana kita akan menjalankan aktivitas-aktivitas pada hari itu. 

Tetapi bagaimana kalau jadwal kita mengharuskan kita untuk mulai beraktivitas sejak fajar? Usahakan untuk tidur dan bangun lebih awal. Sebagai seorang konsultan lingkungan hidup, tidak jarang aku sudah harus berada di lokasi survei supaya dapat mengamati satwa-satwa yang menjadi aktif bersamaan dengan terbitnya sang surya. Awalnya memang berat, tetapi lewat persekutuan dengan sang Firman sebelum masuk ke hutan, aku jadi lebih siap untuk menikmati kemuliaan-Nya lewat alam yang kujelajahi.

#2. Pastikan urutan prioritas-prioritas yang ada benar (ay. 15, 17)

Setelah menikmati hadirat Tuhan sebagai pusat kehidupan, kita perlu melakukan tindakan kedua ini. Mengapa begitu? Karena kita pasti selalu menyediakan waktu untuk hal-hal yang kita prioritaskan, sekecil apapun hal itu. Prioritas-prioritas inilah yang menyingkapkan siapa yang sebenarnya kita sembah dalam kehidupan. Oleh karena itu, mintalah hikmat dari Allah (Yak. 1:5) agar kita dapat mencari dahulu kerajaan dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33) dalam segala hal yang kita prioritaskan sehingga kita tidak hidup “seperti orang bebal” (ay. 15, 17).

Sebagai seorang perantau di Singapura, aku bisa saja memilih untuk bersantai tiap malam setelah seharian bekerja tanpa memperdulikan keluargaku di Indonesia maupun tanggung jawabku yang lain. Lagipula aku berhak beristirahat, bukan? Kalau urutan prioritasku begitu, kamu tidak akan sedang membaca tulisan ini. Puji Tuhan, aku tahu urutan prioritasku yang semestinya untuk bisa menjadi serupa dengan Kristus, bahkan di waktu malam yang sangat mudah disia-siakan. Perhatikan bahwa aku tidak sedang berdalih untuk menyibukkan diri setiap malam; ada waktu-waktu khusus yang kuprioritaskan untuk beristirahat, menonton serial drama, dan, tentu saja, menelpon keluargaku dan bersekutu dengan teman.

#3. Kenali serta kelola batasan-batasan dan pengalih perhatian yang ada (ay. 16, 18)

Selain mengenali bagaimana kita sebaiknya mengurutkan prioritas-prioritas kita, kita perlu mengenali dan mengelola hal-hal yang dapat mengancam susunan prioritas itu. Kita semua memang dianugerahkan Tuhan dengan jumlah waktu yang sama (24 jam), tetapi setiap kita memiliki batasan dan pengalih perhatian yang berbeda-beda. Sekali lagi, butuh hikmat dari Allah (Yak. 1:5) untuk dapat mengenali dan mengelola jenis-jenis anggur yang bisa memabukkan serta mengalihkan kita dari mengerjakan kehendak-Nya (ay. 18).

Batasan utamaku adalah tendensi untuk memikul tanggung jawab lebih dari yang bisa aku pikul. Di tahun-tahun awalku di Singapura, aku kesulitan dalam mengenali dan mengelola batasanku ini, tapi sekarang aku lebih mengenali diriku sendiri dan lebih bisa berkata tidak terhadap berbagai tawaran pekerjaan dan pelayanan yang ada. Hampir semua orang di sekelilingku bilang kalau aku sibuk, tapi nyatanya aku selalu punya waktu untuk bersekutu dengan dan mendengarkan mereka. Di sisi lain, pengalih perhatian utamaku adalah game; kalau ada di gadget, aku pasti kecanduan dan bermain setiap saat. Solusinya hanya satu: menghapus game dari gawai supaya bisa fokus pada prioritas-prioritasku.

#4. Buatlah jadwal dengan “spasi” (ay. 16)

Di minggu terakhir tahun 2020, aku bertemu dengan beberapa kelompok teman yang sudah lama tidak kujumpai karena kesibukan kami masing-masing. Sebagai seorang ekstrovert, aku seharusnya tidak mudah kelelahan ketika berinteraksi dengan banyak orang selama beberapa hari berturut-turut, walaupun beberapa di antaranya memang terjadi dadakan. Kamu bisa bayangkan betapa anehnya perasaanku ketika memutuskan untuk beristirahat di rumah di akhir minggu pertama tahun ini. Ayat 16 menyadarkanku bahwa waktu itu aku tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena tidak meluangkan “spasi” dalam jadwal lewat mana kasih karunia Tuhan dapat bekerja lewat rehat dan hal-hal dadakan

Pembelajaran di akhir 2020 ini lalu aku praktikkan pada Jumat terakhir di bulan Januari, di mana aku sengaja mengambil cuti untuk mengerjakan seri tulisan ini. Apa daya, aku gagal memenuhi target untuk menyelesaikan dua artikel tetapi memiliki cukup waktu luang untuk sisa hari itu. Melihat “spasi” ini sebagai anugerah dari Tuhan, aku menggunakannya untuk mempersiapkan bahan kelompok pemuridan yang baru bertemu dua minggu kemudian supaya ke depannya ada waktu lebih untuk mengerjakan sisa tulisan dan kalau-kalau ada kebutuhan mendadak. Benar saja, minggu depannya satu lembaga misi memintaku untuk berkontribusi untuk satu tulisan singkat, yang kemudian dapat kuselesaikan karena ada sejumlah “spasi” dalam jadwalku. Begitulah pentingnya “spasi” dalam jadwal kita sehari-hari.

#5. Libatkan sesama untuk akuntabilitas (ay. 19)

Elemen komunitas tidak bisa dipungkiri dan hampir pasti muncul dalam setiap pembahasan tentang pelaksanaan disiplin rohani, termasuk penatalayanan waktu. Adalah seorang teman kos yang mengingatkanku bahwa masih ada hari esok ketika aku “hanya” menyelesaikan satu tulisan dalam kesaksianku di tindakan #4. Tidak heran kalau Paulus mendorong jemaat Efesus untuk berbicara “satu sama lain dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani” di ayat 19, karena lewat persekutuan dengan sesama anggota tubuh Kristuslah kita dapat memuji Tuhan “dengan segenap hati [kita]”. 

#6. Naikkan syukur setiap saat kepada Allah dalam nama Tuhan Yesus (ay. 20)

Kata “setiap saat” (“senantiasa” menurut ayat 20) mungkin membingungkanmu. “Maksudnya bahkan ketika kita sedang mandi pun kita mengucapkan syukur kepada Tuhan? dan bahkan ketika kita sedang menghadapi situasi yang buruk?” Ya, kalau kamu melakukannya dalam nama Tuhan Yesus.

John Piper dalam salah satu podcast-nya menjelaskan bahwa kata “Teruslah” (adialeiptōs) di 1 Tesalonika 5:17 (“Teruslah berdoa!”) memiliki arti berulang kali dan sering, bukan setiap detik. Walaupun frasa “setiap saat” di Efesus 5:20 bukanlah adialeiptōs melainkan pantote, keduanya memiliki kemiripan sehingga konotasi “berulang kali dan sering” bisa dibilang berlaku untuk tindakan keenam ini. Dan ya, kita melakukannya atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Mengapa begitu? Karena pengucapan syukur “senantiasa atas segala sesuatu” menyelaraskan kita dengan kehendak Allah (ay. 10) untuk melihat bahwa Allah bekerja di dalam setiap momen kehidupan, baik yang baik maupun yang buruk, untuk kebaikan kita dan rencana-Nya untuk menjadikan kita serupa Anak-Nya (Rom. 8:28–29).

Tindakan ini mungkin adalah yang paling mudah dilakukan dibandingkan dengan yang lain. Selain doa pagi, makan, dan malam, aku biasanya memakai waktu commuting dari dan menuju kantor, sewaktu rehat dalam pekerjaan, dan bahkan ketika mandi untuk mengingat dan mengucapkan syukur atas setiap hal yang Tuhan biarkan terjadi sepanjang hari itu.

#7. Ingat: yang lalu tidak bisa kembali, tapi yang akan datang telah Yesus tebus (ay. 15–20)

Di akhir hari, kita mungkin menyesali keputusan dan tindakan yang kita ambil hari itu. “Coba tadi aku makan lebih cepat, pasti tidak akan telat untuk rapat dengan klien!” “Kenapa aku bisa lupa lihat jam, jadi kelamaan bersantai nonton drama Korea!” Oleh karena itu, sambil memejamkan mata sebelum tidur, kita perlu berpegang pada satu kebenaran penting, yang herannya kutemukan dalam baris-baris puisi mini drama AADC yang kemudian kugubah:

Adalah [Allah yang adalah Kasih] yang mengubah jalannya waktu.

Karena [Kasih], waktu terbagi dua:

[tanpa-Nya dan rindu akan hadirat-Nya]

Detik tidak pernah melangkah mundur

tapi [rahmat-Nya] selalu ada;

waktu tidak pernah berjalan mundur

dan hari tidak pernah terulang,

tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru

untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab (Rat. 3:22–23).

Ya, pada akhirnya bukanlah kita yang “mengubah jalannya waktu”, tetapi Tuhan (ay. 17–18, bdk. Kej. 50:20). Dalam keberdosaan kita, segala prioritas dan jadwal yang telah kita rencanakan lewat tindakan #1–6 mungkin malah akan kita gunakan untuk melawan Tuhan, secara sadar maupun tidak sadar. Meskipun begitu, di penghujung hari-hari yang jahat (ay. 16), kita bisa berserah kepada Allah dan tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa “Yesus Kristus tetap sama kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Lebih lagi, kita bisa terlelap dengan harapan bahwa Kristus akan membangunkan kita besok pagi dan mengaruniakan satu lagi hari untuk ditebus di dalam-Nya (bdk. Rat. 3:22–23; Flp. 3:13–14) “menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:25 TB).

Meneladani Sang Penebus dalam Menebus Waktu

Sebagai penutup, sambil mengembangkan satu gagasan dalam tindakan #7, aku ingin mengarahkan pandanganmu kepada Tuhan Yesus sendiri. Perhatikan bahwa dalam setiap momen kehidupan-Nya, Yesus tidak pernah terburu-buru sama sekali. Dia selalu tahu waktu yang paling tepat untuk bertindak (e.g. peristiwa kebangkitan Lazarus di Yohanes 11:1–44, panggilan-Nya kepada Zakheus di Lukas 19:1–10) karena Ia menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Allah Bapa dan mencari kehendak-Nya walaupun Ia baru saja melayani seharian (Mrk. 1:35). Dan “[k]etika waktunya semakin dekat bagi Yesus untuk ditinggikan, Ia meneguhkan hati untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51) untuk mati menebus umat-Nya.

Mengetahui bahwa Roh Kristus memenuhi diri kita (ay. 18), kita dapat berjuang untuk hidup dalam kasih karunia-Nya yang memampukan kita untuk “[menggunakan] waktu yang ada dengan sebaik-baiknya” (ay. 16), menatalayani setiap detik kesempatan kedua ini “dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7) sambil menyambut kedatangan Kristus yang kedua (Why. 22:20).

Seperti yang Anthony Hoekema katakan dalam The Bible and The Future, “Hiduplah seolah-olah Kristus baru mati kemarin, bangkit pagi ini, dan akan kembali lagi besok.

Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo gloria.

Pertanyaan refleksi

  1. Bagaimanakah kamu selama ini memahami dan menggunakan waktu yang ada?
  2. Luangkan waktu ~10–15 menit untuk membaca Efesus 5:1–20. Apa saja yang kamu pelajari dari perikop ini, terutama tentang disiplin rohani menatalayani waktu?
  3. Di antara ketujuh tindakan menebus waktu yang sudah dijelaskan, mana saja yang sudah dan/atau akan kamu mulai praktikkan?
  4. Adakah peristiwa(-peristiwa) lain dalam kehidupan Tuhan Yesus yang dapat kamu teladani dalam menggunakan kesempatan kedua yang telah Ia anugerahkan dengan sebaik-baiknya?

Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Metode Bertemu Realita: Bagaimana Melakukan Disiplin Rohani

Tulisan ini akan menjelaskan tiga prinsip yang menolong kita untuk mempraktikkan disiplin rohani dalam kesalehan Kristiani.

Yuk baca artikel kedua dari #SeriDisiplinRohani ini.

Bagikan Konten ini
5 replies
  1. Annalia Tanuwijaya
    Annalia Tanuwijaya says:

    “AADC” tapi huruf C nya ga ada singkatan nya =)
    Terima Kasih utk sharing nya
    Gbu always

  2. Joan Claudya
    Joan Claudya says:

    Hari ini minta firman sama Tuhan, yang benar-benar bisa tampar aku. dan Pas baca renungan ini, rasanya benar² ditampar hhuhuuu! Terimakasih banyak renungannya.. Sekarang mau belajar untuk disiplin waktu dan bersekutu dengan Tuhan selalu..

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *