Memohon kepada Allah

Info

Minggu, 7 Maret 2021

Memohon kepada Allah

Baca: Daniel 9:1-5,17-19

9:1 Pada tahun pertama pemerintahan Darius, anak Ahasyweros, dari keturunan orang Media, yang telah menjadi raja atas kerajaan orang Kasdim,

9:2 pada tahun pertama kerajaannya itu aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun.

9:3 Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.

9:4 Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!

9:5 Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu,

9:17 Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.

9:18 Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.

9:19 Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!”

 

Aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab . . . Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon. —Daniel 9:2-3

Memohon kepada Allah

Pada suatu pagi, doa bersama keluarga ditutup dengan pengumuman yang mengejutkan. Segera setelah Ayah mengucapkan, “Amin,” Kaitlyn, anaknya yang berumur lima tahun, berkata, “Aku tadi berdoa untuk kakak, karena kakak tidak tutup mata waktu kita berdoa.”

Saya cukup yakin bahwa mendoakan kakak agar bisa berdoa dengan benar bukanlah yang dimaksud oleh Kitab Suci ketika orang Kristen didorong untuk berdoa bagi orang lain, tetapi setidak-tidaknya Kaitlyn menyadari bahwa kita dapat mendoakan orang lain.

Oswald Chambers, seorang pengajar Alkitab, menekankan pentingnya doa bagi orang lain. Ia berkata bahwa “mendoakan orang lain menempatkan diri kita dalam posisi Allah; kita memiliki pikiran dan pandangan Allah.” Kita mendoakan orang lain menurut pengenalan kita akan Allah dan kasih-Nya bagi kita.

Kita menemukan contoh doa yang sangat baik dalam Daniel pasal 9. Daniel memahami janji Allah yang menggelisahkan bahwa orang-orang Yahudi akan diperbudak di Babel selama tujuh puluh tahun (Yer. 25:11-12). Saat menyadari bahwa tujuh puluh tahun itu segera tiba, Daniel mulai berdoa. Ia menyebut tentang perintah-perintah Allah (Dan. 9:4-6), merendahkan diri (ay.8), meninggikan karakter Allah (ay.9), mengakui dosa (ay.15), dan bergantung kepada belas kasihan Allah sembari menaikkan doa permohonan bagi bangsanya (ay.18). Daniel pun mendapat jawaban langsung dari Allah (ay.21).

Tidak semua doa langsung memperoleh jawaban yang begitu dramatis, tetapi bersyukurlah karena kita dapat datang kepada Allah dengan membawa orang lain dalam doa dengan sikap yang percaya dan bergantung penuh kepada-Nya.—Dave Branon

WAWASAN
Doa dalam Daniel 9 ditulis menjelang akhir dari tujuh puluh tahun pembuangan orang Israel di Babel. Para nabi telah menubuatkan bahwa setelah tujuh puluh tahun Allah akan membawa umat-Nya kembali ke Yerusalem (ay.2; lihat juga Yeremia 25:11-14; 29:10). Untuk mempersiapkan perjalanan kembali itu, Daniel “berdoa dan bermohon [kepada Tuhan Allah], sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu” (Daniel 9:3). Pada masa itu, berdoa dengan cara tersebut umum dilakukan dalam keadaan-keadaan sulit (lihat Ester 4:1-3; Yunus 3:6-9). Doa Daniel tersebut menjadi contoh bagi umat Tuhan di masa sekarang. Ia mengawali dengan mengucap syukur kepada Allah atas kasih setia-Nya (Daniel 9:4), lalu ia memohon Allah mengampuni dosa dirinya dan bangsanya (ay.5-7), dan akhirnya ia mengingatkan Allah akan perjanjian-Nya, serta memohon Dia mengembalikan tanah mereka (ay.19). —Julie Schwab

Saat berdoa bagi orang lain, bagaimana kamu dapat mencari dan mengenali maksud serta sudut pandang Allah?

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk lebih mengenal-Mu agar ketika aku berdoa bagi orang lain, aku dapat menyaring permohonanku melalui pengenalanku akan kehendak-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3-4; Markus 10:32-52

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

32 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!