Alasan Penulisan

Info

Senin, 8 Maret 2021

Alasan Penulisan

Baca: Yohanes 20:24-31

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

 

Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya. —Yohanes 20:31

Alasan Penulisan

“Tuhan adalah kota bentengku . . . Kami meninggalkan kamp sambil menyanyikannya.” Tanggal 7 September 1943, Etty Hillesum menuliskan kata-kata tersebut pada sehelai kartu pos dan melemparkannya dari atas kereta api. Itulah catatan terakhir darinya. Tanggal 30 November 1943, ia mati dibunuh di Auschwitz. Di kemudian hari, catatan harian Hillesum tentang pengalamannya di kamp konsentrasi diterjemahkan dan diterbitkan. Catatan tersebut merangkum pengalamannya melihat kengerian dari pendudukan Nazi berpadu dengan keindahan dunia ciptaan Allah. Tulisan Hillesum yang telah diterjemahkan ke dalam enam puluh tujuh bahasa itu menjadi berkat bagi setiap pembacanya yang mempercayai adanya kebaikan di tengah segala kejahatan yang merebak.

Rasul Yohanes tidak menutupi kenyataan sulit yang dialami Yesus selama hidup-Nya di dunia; ia menulis tentang kebaikan yang Yesus lakukan, tetapi juga tantangan yang dihadapi-Nya. Kata-kata penutup dari kitab Injil yang ditulisnya memberi kepada kita pemahaman tentang tujuan penulisannya. Yesus Kristus melakukan “banyak tanda lain . . . yang tidak tercatat dalam kitab ini” (20:30), “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya” (ay.31). “Catatan harian” Yohanes ditutup dengan nada kemenangan: “Yesuslah Mesias, Anak Allah.” Anugerah berupa tulisan Injil tersebut memberi kita kesempatan untuk percaya dan “memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Kitab-kitab Injil adalah catatan harian tentang kasih Allah kepada kita. Isinya perlu kita baca, percayai, dan bagikan kepada orang lain, karena semua yang tertulis di dalamnya membawa kita kepada hidup—Kristus sendiri.—John Blase

WAWASAN
Tomas memang disebut sebagai salah satu murid Yesus dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas, tetapi lewat Injil Yohanes kita mendapat gambaran yang lebih dekat tentang dirinya. Catatan Yohanes mengenai kehidupan Yesus memasukkan enam peristiwa yang melibatkan Tomas (semua dalam pasal 11-20), dan untuk pertama kalinya Tomas angkat suara di 11:16 setelah kematian Lazarus. Perkataan Yesus dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” merupakan tanggapan atas pertanyaan Tomas, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ay.5). Dalam Injil Yohanes, kita melihat Tomas sebagai seorang pesimis yang juga realistis—begitu ingin tahu, manusiawi, dan jujur. Ia sering disebut sebagai “Tomas si peragu” karena ucapannya di Yohanes 20:25 dan tanggapan Yesus kepadanya di ayat 27. Namun, ucapannya yang terakhir dicatat memperlihatkan bahwa ia sudah yakin tentang diri Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay.28). —Arthur Jackson

Perubahan apa yang kamu rasakan jika kamu membaca kitab-kitab Injil sebagai catatan harian para penulisnya? Bagaimana kamu dapat mengenal isi hati Kristus melalui kitab-kitab itu?

Allah yang Maha Pengasih, aku mengucap syukur atas anugerah Kitab Suci yang ditulis oleh tangan-tangan hamba-Mu yang setia, sehingga aku dapat percaya dan beroleh hidup dalam nama Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 5-7; Markus 11:1-18

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

36 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!