Solusi Nekat

Info

Rabu, 17 Februari 2021

Solusi Nekat

Baca: Yesaya 22:8-13

22:8 dan Yehuda kehilangan perlindungan. Pada waktu itu engkau memandang kepada perlengkapan senjata di “Gedung Hutan”;

22:9 kamu melihat bahwa memang sudah banyak sekali retak-retak tembok kota Daud dan kamu mengumpulkan air kolam bawah;

22:10 kamu menghitung rumah-rumah di Yerusalem, dan kamu merobohkan rumah-rumah untuk meneguhkan tembok;

22:11 kamu membuat tempat pengumpulan air di antara kedua tembok itu untuk menampung air dari kolam yang lama; tetapi kamu tidak memandang kepada Dia yang membuatnya, dan tidak melihat kepada Dia yang telah sejak dahulu membentuknya.

22:12 Pada waktu itu Tuhan, TUHAN semesta alam menyuruh orang menangis dan meratap dengan menggundul kepala dan melilitkan kain kabung;

22:13 tetapi lihat, di tengah-tengah mereka ada kegirangan dan sukacita, membantai lembu dan menyembelih domba, makan daging dan minum anggur, sambil berseru: “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati!”

Kamu tidak memperhatikan Allah yang sudah lama merencanakan semua itu, dan yang menyebabkan itu terjadi. —Yesaya 22:11 BIS

Solusi Nekat

Di penghujung abad ketujuh belas, William Oranye memutuskan untuk membanjiri sebagian besar daratan negerinya dengan sengaja. Sang Raja Belanda terpaksa menempuh solusi nekat itu sebagai upaya untuk mengusir tentara Spanyol yang hendak menyerang. Namun, usaha itu tidak berhasil, bahkan sejumlah besar tanah pertanian yang subur menjadi hilang ditelan lautan. Ini seperti ungkapan, “Untuk masa yang kritis dibutuhkan solusi yang nekat.”

Pada zaman Nabi Yesaya, penduduk kota Yerusalem mengambil langkah-langkah nekat ketika pasukan Asyur mengancam mereka. Selain membuat tempat penampungan air untuk bertahan melawan pengepungan musuh, mereka juga merobohkan rumah-rumah untuk memperkuat tembok kota. Taktik seperti itu mungkin cukup bijaksana, tetapi mereka melalaikan satu langkah terpenting. “Kamu membuat kolam di dalam kota dan menampung air dari kolam lama,” kata Allah, “Tetapi kamu tidak memperhatikan Allah yang sudah lama merencanakan semua itu, dan yang menyebabkan itu terjadi” (Yes. 22:11 BIS).

Hari ini, mungkin kita tidak menghadapi pasukan musuh yang mengepung rumah kita. “Pukulan akan selalu datang dalam hal-hal yang umum dan melalui orang-orang biasa,” kata Oswald Chambers. “Pukulan” itu juga benar-benar ancaman. Namun, syukurlah, bersama pukulan itu juga datang undangan Allah yang memanggil kita agar terlebih dahulu berpaling kepada-Nya untuk segala sesuatu yang kita butuhkan.

Ketika masalah dan gangguan hidup datang, akankah kita melihatnya sebagai kesempatan untuk berpaling kepada Allah? Ataukah kita akan menggunakan cara-cara nekat kita sendiri? —Tim Gustafson

WAWASAN
“Tempat pengumpulan air” yang dibangun di antara dua tembok untuk menampung air dari “kolam yang lama” (Yesaya 22:11) kemungkinan besar adalah Terowongan Hizkia, yang sampai sekarang masih dapat dilihat (dan dilalui dengan berjalan kaki) di Yerusalem. Raja Hizkia membangun terowongan itu di bawah kota lama Yerusalem di sisi selatan dari Bukit Bait Suci. Terowongan itu menghubungkan mata air Gihon di Lembah Kidron di sisi timur kota dengan kolam yang sekarang dikenal sebagai Kolam Siloam di sebelah barat. Gunanya adalah untuk mengalirkan air dari mata air itu ke dalam tembok kota, supaya tentara yang mengepung tidak dapat memperoleh air, sementara penduduk Yerusalem masih bisa mendapatkannya. Ini merupakan strategi militer yang baik, dan Yesaya tidak mengkritik hal itu. Yang dikecam sang nabi adalah diutamakannya pembangunan fisik daripada persiapan rohani. Namun, di kemudian hari, Hizkia menunjukkan iman yang tidak terlihat di Yesaya 22 (lihat pasal 37). —Con Campbell

Hal-hal umum apa saja yang mengancammu hari ini? Apa yang kamu butuhkan untuk menghadapinya?

Allah Mahakasih, hari ini aku datang terlebih dahulu kepada-Mu dengan membawa setiap masalah besar dan kecil yang kuhadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 21-22; Matius 28

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

43 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!