Nyalakan Lampunya

Info

Selasa, 23 Februari 2021

Nyalakan Lampunya

Baca: Matius 5:14-16

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Nyalakan Lampunya

Ketika saya dan suami bersiap-siap untuk pindah ke kota lain, saya ingin memastikan bahwa kami tetap bisa berhubungan dengan anak-anak lelaki kami yang sudah dewasa. Saya menemukan sebuah hadiah yang unik: lampu persahabatan yang terhubung secara nirkabel dengan Internet dan dapat dinyalakan dari jauh. Sewaktu memberikan hadiah itu kepada anak-anak, saya menjelaskan bahwa lampu mereka akan menyala saat saya menyentuh lampu saya di tempat kami. Lampu yang menyala akan mengingatkan mereka pada kasih sayang dan doa saya untuk mereka. Sejauh apa pun jarak memisahkan kami, satu sentuhan pada lampu mereka akan menyalakan juga lampu di rumah kami. Meski kami tahu tidak ada yang dapat menggantikan kontak fisik dan tatap muka, kami dapat berbesar hati dengan mengetahui bahwa kami dicintai dan didoakan setiap kali lampu-lampu tersebut menyala.

Semua anak Allah memiliki hak istimewa untuk membagikan terang dari Roh Kudus. Kita ditetapkan untuk hidup sebagai mercusuar yang memancarkan pengharapan kekal dan kasih Allah yang tak bersyarat. Ketika kita memberitakan Injil dan melayani sesama, kita menjadi lampu yang terang benderang dan saksi-Nya yang hidup. Setiap perbuatan baik, senyum ramah, kata-kata yang membangun, dan doa yang tulus akan mengingatkan orang lain pada kesetiaan Allah dan kasih-Nya yang tak bersyarat dan mengubahkan hidup (Mat. 5:14-16).

Ke mana pun Allah memimpin kita, dan bagaimanapun cara kita melayani Dia, kita dapat dipakai oleh-Nya untuk menolong orang lain bersinar bagi Dia. Ketika Allah, lewat Roh-Nya, memberikan terang yang sesungguhnya, kita dapat memancarkan terang dan kasih dari kehadiran-Nya. —XOCHITL DIXON

WAWASAN
Perjanjian Baru menggunakan beragam metafora untuk menggambarkan orang-orang yang percaya kepada Yesus. Kita disebut sebagai domba (Yohanes 10:27); ranting yang berbuah banyak (15:5); utusan (2 Korintus 5:20); prajurit, olahragawan, petani (2 Timotius 2:3,5-6); dan batu hidup (1 Petrus 2:5). Dalam Matius 5:13-16, Yesus menggunakan dua barang sehari-hari—garam dan pelita—untuk menggambarkan dampak yang patut diberikan murid-murid Kristus terhadap orang-orang di sekitar mereka. Garam adalah bahan pengawet, penambah rasa, dan perangsang rasa haus. Sebagai orang percaya, kita harus membawa garam pengawet dan sukacita kepada dunia yang hambar, tawar, dan mudah lapuk. Pelita memberikan terang yang memungkinkan orang untuk melihat dan memberikan arahan. Pelita harus ditempatkan di tempat yang mencolok agar supaya terangnya efektif. Kita dipanggil untuk membawa terang keselamatan kepada dunia yang gelap akibat dosa. —K.T. Sim

Bagaimana kamu dapat menjadi terang bagi Kristus, menyatakan kasih-Nya kepada orang-orang di sekitarmu minggu ini? Bagaimana kamu dapat memancarkan kasih Allah ketika melayani orang-orang yang tidak mengenal-Nya?

Allah Mahakasih, penuhi aku dengan kebenaran dan cinta-Mu yang sempurna supaya aku menjadi terang yang bersinar bagi kemuliaan-Mu dengan mengasihi-Mu dan sesamaku di mana pun aku berada.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 7-8; Markus 4:21-41

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

43 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!