Menghadapi Pandemi: Kita Butuh Lebih Dari Sekadar Berani

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Hampir setahun berlalu tetapi pandemi belum mereda. Sebaliknya, malah makin meluas. Virus ini awalnya tampak jauh dari hidupku karena aku selalu menerapkan disiplin protokol kesehatan dan belum ada orang-orang di inner-circle-ku yang terkonfrimasi positif. Tapi, belakangan tetanggaku positif, disusul dengan temanku. Rasa tenang dan aman pun mulai berubah menjadi resah dan gelisah.

Di tengah rasa gelisahku itu, keluargaku berkumpul untuk melakukan ibadah keluarga. Kami biasanya membaca sebuah ayat atau perikop. Kali ini, bacaan diambil dari Hakim-hakim 7:1-8, ketika Gideon dan pasukannya akan pergi berperang melawan orang Midian. Pertama-tama, Gideon membawa 32 ribu pasukan, namun Tuhan berfirman bahwa jumlah itu terlalu banyak. Tuhan meminta Gideon berseru: siapa anggota pasukan yang takut dan gentar agar pulang ke rumah masing-masing. Hasilnya, 22 ribu orang undur diri sehingga tersisa 10 ribu orang. Mereka tentu adalah pasukan perang yang berani dan tak gentar. Namun, Tuhan berfirman lagi bahwa jumlah tersebut masih terlalu banyak. Tuhan memerintahkan Gideon untuk meminta pasukannya minum air. Mereka yang minum dengan berlutut dan menjilat air seperti seekor anjing harus disingkirkan. Yang harus Gideon pilih ialah mereka yang minum dengan menghirup air dengan membawa tangannya ke mulutnya (Hakim-hakim 7:5-6). Maka, tersisalah 300 orang yang dipilih Allah, yaitu mereka yang minum dengan cara mencedok air dengan tangan mereka. Tetapi, mengapa kelompok pasukan itu yang dipilih? Sebab, mereka yang minum dengan berlutut adalah pasukan yang bersikap tidak siaga. Bayangkan jika ketika mereka sedang minum dan pasukan musuh menyerang? Allah memilih pasukan yang bersikap siaga untuk membawa kemenangan bersama Gideon.

Kisah Gideon memberi ketenangan di tengah kekalutanku menghadapi pandemi yang rasanya tak kunjung berakhir. Firman-Nya memberi terang bagi langkahku. Masa pandemi ini mungkin bisa kita ibaratkan seperti sedang ‘berperang’ melawan musuh-musuh yang tak terkira jumlahnya. Seperti para pasukan Gideon, pasti banyak pula di antara kita yang takut dan gentar, sebagaimana aku pun merasa was-was. Namun, ada satu alasan yang dapat membuat kita tetap berani dan tidak gentar, yaitu ketika kita tahu bahwa Allah berjalan bersama-sama dengan kita.

Institute of Basic Life Principle mendefinisikan karakter ‘berani’ atau boldness sebagai sikap yang menerima segala konsekuensi, termasuk penderitaan. Ketika kita melakukan kebenaran dengan yakin, itu akan menghasilkan kuasa kasih yang lebih besar. Sebagai umat Allah, kita betul-betul bisa merasakan kehadiran Allah di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Kehadiran-Nya itulah yang memampukan kita bersikap berani untuk mengerjakan panggilan kita. Namun, apakah itu berarti kita hanya bermodalkan rasa berani saja untuk memenangkan pertempuran?

Di antara orang-orang yang berani itu, ada satu lagi karakter yang Tuhan inginkan. Tuhan memilih mereka yang bersikap siaga dalam segala hal! Siaga atau alertness berarti melatih indera jasmani dan rohani kita untuk mengenali bahaya yang dapat mengurangi sumber daya yang dipercayakan kepada kita. Sikap siaga salah satunya juga termasuk siaga terhadap kesehatan kita dan orang-orang di sekitar kita. Karena itu, mengikuti anjuran pemerintah dan ahli kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan adalah bentuk kesiagaan kita menghadapi musuh-musuh tak terlihat itu.

Terpujilah Allah karena firman-Nya senantiasa menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Aku sangat bersyukur karena setelah mendengar firman ini, khawatirku digantikan dengan pengharapan akan janji penyertaan-Nya yang sempurna. Sekalipun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, kita tetap percaya bahwa bagian kita adalah tetap berani dan siaga di tengah pandemi ini. Aku percaya, akan ada banyak kesempatan yang terlewatkan jika kita terus takut dengan pandemi ini dan abai dengan protokol yang sudah dicanangkan. Jadi, tetaplah maju dengan pasti bersama dengan Allah di tengah ketidakpastian dunia ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Kita sering membanding-bandingkan, termasuk jika itu bicara soal dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa

Bagikan Konten ini
0 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *