Kita Bukan Tuhan

Info

Jumat, 19 Februari 2021

Kita Bukan Tuhan

Baca: Yehezkiel 28:1-10

28:1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:

28:2 “Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah.

28:3 Memang hikmatmu melebihi hikmat Daniel; tiada rahasia yang terlindung bagimu.

28:4 Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu.

28:5 Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong.

28:6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah

28:7 maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan.

28:8 Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan.

28:9 Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah.

28:10 Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”

Engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: “Aku adalah Allah!” —Yehezkiel 28:2

Kita Bukan Tuhan

Dalam buku Mere Christianity, C. S. Lewis menyarankan kita agar merenungkan beberapa pertanyaan untuk menyelidiki apakah sebenarnya kita angkuh atau tinggi hati: “Seberapa besar rasa tidak suka saya ketika orang lain menolak saya, atau tidak menghiraukan saya, . . . atau memandang rendah saya, atau menyombongkan diri di depan saya?” Lewis memandang keangkuhan sebagai sifat “yang terburuk dari yang buruk” dan penyebab utama kesengsaraan dalam rumah tangga dan negara. Ia menyebutnya sebagai “kanker jiwa” yang membuat seseorang sama sekali tidak bisa mengasihi, merasa puas, atau bahkan menggunakan akal sehatnya.

Keangkuhan sudah menjadi masalah dari abad ke abad. Melalui Nabi Yehezkiel, Allah memperingatkan raja negeri Tirus yang kuat itu tentang keangkuhannya. Dia mengatakan bahwa keangkuhan sang raja akan membawanya kepada kehancuran: “Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah, maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau” (Yeh. 28:6-7). Lalu ia akan menyadari bahwa dirinya bukanlah Allah, melainkan hanya manusia biasa (ay.9).

Lawan dari keangkuhan adalah kerendahan hati, yang disebut Lewis sebagai sifat luhur yang kita terima melalui pengenalan akan Allah. Lewis mengatakan bahwa karena kedekatan kita dengan Allah, kita akan “bahagia dalam kerendahan hati.” Kita merasa lega karena terbebas dari pandangan omong kosong tentang harga diri kita sendiri yang sebelumnya membuat kita gelisah dan tidak bahagia.

Semakin kita menyembah Allah, semakin kita mengenal-Nya dan rela merendahkan diri kita di hadapan-Nya. Semoga kita terus dibentuk-Nya menjadi pribadi yang mengasihi dan melayani dengan penuh sukacita dan kerendahan hati. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Di dalam Yehezkiel 26-28 ada empat ramalan atau nubuatan tentang penghakiman terhadap Tirus. Kota Fenisia kuno itu terkenal karena perdagangan laut dan penyembahan berhala. Kota itu adalah “gambar dari kesempurnaan . . ., penuh hikmat dan maha indah” (28:12), tetapi “dengan dagang[nya] yang besar [ia] penuh dengan kekerasan” (ay.16). Karena keterangan seperti “dekat kerub yang berjaga” (ay.14), “tak bercela di dalam tingkah lakumu . . . sampai terdapat kecurangan padamu” (ay.15), dan “engkau sombong . . . ke bumi kau Kulempar” (ay.17), sejumlah ahli meyakini bahwa perikop ini juga mengacu kepada Iblis. Ayat 19 menutup dengan menyatakan bahwa kota Tirus yang jahat akan “hilang lenyap untuk selama-lamanya.” —Julie Schwab

Mengacu pada pertanyaan dari Lewis, apakah kamu termasuk tinggi hati? Apakah jawabannya mengejutkanmu? Mengapa?

Allah Mahakuasa, tolonglah aku untuk bersukacita atas identitasku sebagai makhluk ciptaan-Mu, karena aku tahu meskipun Engkau mulia dan penuh kuasa, Engkau tetap mengasihiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 25; Markus 1:23-45

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

43 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!