Baru Tiap Pagi

Info

Minggu, 28 Februari 2021

Baru Tiap Pagi

Baca: Ratapan 3:19-26

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Tak habis-habisnya rahmat [Allah], selalu baru tiap pagi. —Ratapan 3:22-23

Baru Tiap Pagi

Adik saya, Paul, menderita epilepsi sejak kecil, dan memasuki masa remaja, penyakitnya semakin memburuk. Secara khusus malam hari menjadi beban berat baginya dan bagi orangtua kami, karena ia bisa terus-menerus mengalami kejang, yang sering berlangsung hingga lebih dari enam jam. Dokter tidak menemukan pengobatan yang dapat meredakan gejala-gejalanya sambil membuatnya tetap sadar, setidaknya untuk setengah hari. Orangtua saya sering berseru dalam doa: “Ya Allah, oh Allah, tolonglah kami!”

Meski perasaan mereka babak belur dan tubuh mereka sangat letih, Paul dan orangtua kami memperoleh kekuatan baru yang cukup dari Allah setiap harinya. Selain itu, orangtua kami memperoleh penghiburan dari firman Tuhan dalam Alkitab, termasuk dari kitab Ratapan. Di sana Nabi Yeremia mengungkapkan kesedihannya atas kota Yerusalem yang dihancurkan orang Babel, dan ia teringat pada “ipuh dan racun” (3:19). Namun, Yeremia tidak kehilangan harapan. Ia mengingat-ingat belas kasihan Allah, yaitu bahwa rahmat-Nya “selalu baru tiap pagi” (ay.23). Demikian juga orangtua saya mengingat-ingat rahmat Tuhan.

Apa pun keadaan yang kamu hadapi, ketahuilah bahwa Allah setia tiap pagi. Dia memperbarui kekuatan kita dari hari ke hari dan memberikan kita pengharapan. Adakalanya, seperti yang dialami keluarga saya, Dia memberikan kelegaan. Beberapa tahun kemudian, sudah tersedia metode pengobatan baru yang dapat menghentikan kejang yang diderita Paul, sehingga keluarga saya bisa beristirahat dengan pulas sambil terus berpengharapan untuk masa depan.

Ketika jiwa kita tertekan (ay.20), biarlah kita mengingat-ingat bahwa rahmat Allah selalu baru tiap pagi. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Nama penulis kitab Ratapan tidak disebut, tetapi banyak alasan yang menguatkan keyakinan bahwa Yeremia adalah penulisnya. Setelah bernubuat selama sekitar empat puluh tujuh tahun (627-580 SM) kepada umat Yehuda yang tidak percaya dan tidak taat, Yeremia menulis sebagai saksi mata yang meratapi keruntuhan dan kehancuran Yerusalem di tangan tentara Babel. Selama dua tahun (588-586 SM), Raja Nebukadnezar mengepung Yerusalem. 2 Raja-Raja 25:1-4 mengisahkan keadaan yang sangat menyedihkan di dalam kota yang terkepung itu. Yeremia pun menyaksikan kehancuran kota Yerusalem dan rumah TUHAN (Yeremia 52:12-27). Dalam Ratapan, lewat lima nyanyian kedukaan atau ratapan penguburan yang penuh keharuan, sang nabi menggambarkan penderitaan umat dan alasan dari penderitaan itu. Akan tetapi, ia juga menulis tentang pengharapan yang mereka miliki di tengah keputusasaan. Allah memang adil dalam menghukum ketidaksetiaan mereka, tetapi Dia tetap Allah sumber pengharapan, belas kasihan, kasih setia, dan keselamatan (Ratapan 3:21-33). —K.T. Sim

Bagaimana Allah telah menopangmu melewati berbagai pergumulan yang kamu hadapi? Bagaimana kamu dapat mendukung seseorang yang saat ini sedang mengalami masa-masa yang sulit?

Ya Allah, kasih-Mu tidak pernah meninggalkanku. Ketika aku letih dan hampir putus asa, ingatkanlah aku akan belas kasihan dan rahmat-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 20-22; Markus 7:1-13

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

33 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!