Memutus Siklus

Info

Selasa, 12 Januari 2021

Memutus Siklus

Baca: 2 Korintus 5:14-21

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.

5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

5:16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.

5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

 

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. —2 Korintus 5:17

Memutus Siklus

Pertama kalinya David dipukul oleh ayahnya adalah ketika ia berulang tahun yang ketujuh, setelah tanpa sengaja ia memecahkan kaca jendela. “Ayah menendang dan menonjokku,” kata David. “Setelah itu, Ayah meminta maaf. Ia seorang pemabuk dan suka bersikap kasar, dan siklus buruk itulah yang benar-benar ingin kuputus sekarang.”

Namun, David membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk sampai pada titik ini. Sebagian besar masa remajanya hingga usia dua puluhan dihabiskannya di dalam penjara atau menjalani hukuman percobaan, serta keluar-masuk pusat rehabilitasi pecandu narkoba. Ketika semua impiannya seakan sudah hancur berantakan, ia kembali menemukan pengharapan dalam hubungan dengan Tuhan Yesus yang dikenalnya lewat sebuah pusat rehabilitasi Kristen.

“Dahulu hidupku hanya dipenuhi keputusasaan,” kata David. “Namun, sekarang akuy mendorong diriku ke arah yang berlawanan. Begitu bangun pagi, hal pertama yang kukatakan kepada Allah adalah aku menyerahkan seluruh kehendakku kepada-Nya.”

Ketika kita datang kepada Allah dengan hidup yang porak-poranda, entah karena kesalahan sendiri atau akibat perbuatan orang lain, Allah mengambil hati kita yang hancur itu dan menjadikan kita baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor. 5:17). Kasih dan hidup Kristus memutus siklus masa lalu kita serta memberi kita masa depan yang baru (ay.14-15). Bukan itu saja! Di sepanjang hidup kita, kita akan dapat memperoleh pengharapan dan kekuatan melalui segala sesuatu yang telah dan terus dikerjakan Allah dalam diri kita—setiap saat, setiap waktu. —Alyson Kieda

WAWASAN
Inti dari konsep menjadi satu dengan Yesus adalah karya pendamaian-Nya dalam diri kita. Di 2 Korintus 5, Paulus menganyam beberapa tema sekaligus—kehidupan, kasih, ciptaan baru, dan pelayanan pendamaian—yang seluruhnya dibingkai dengan panggilan untuk bertindak segera. Karena lewat kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristuslah kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Mereka yang menerima berkat pendamaian dari-Nya sepatutnya “tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri” (ay.15). Sebaliknya, kita didorogn untuk menilai setiap orang dengan cara yang berbeda (ay.16), sebagai orang-orang yang sangat membutuhkan karya pendamaian dari Yesus. Apakah yang dimaksud dengan pendamaian? Allah tidak lagi “memperhitungkan pelanggaran mereka” (ay.19). Dengan desakan yang kuat, Paulus menegaskan bahwa sekarang kita adalah utusan-utusan Kristus untuk pendamaian dan berkata, “Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (ay.20). —Tim Gustafson

Sedang mengarah ke mana hidupmu ketika kamu menerima Yesus sebagai Juruselamat? Bagaimana kamu dikuatkan dengan mengetahui bahwa Allah terus membentuk hidupmu agar semakin menyerupai Dia?

Ya Allah, terima kasih karena Engkau membelokkan arah hidupku dan menjadikanku ciptaan baru! Jadikan aku semakin serupa dengan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30; Matius 9:1-17

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

38 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!